Bersih Tanpa Bakar Sampah, Dosen UGM Dampingi Sangurejo Menuju ProKlim Lestari

- Atus Syahbudin mendampingi warga Sangurejo membenahi kampung hingga lebih bersih dan hijau.
- Warga mengolah sampah organik, memanen air hujan, membuat biopori, dan mengembangkan ecoprint kulit salak.
- Sangurejo memperjuangkan ProKlim Lestari melalui kerja bersama warga, kampus, pemerintah, dan jejaring mitra.
Sleman, IDN Times - Jalan-jalan kampung di Padukuhan Sangurejo, Kalurahan Wonokerto, Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman, pagi itu tampak bersih tak bersisa sampah plastik maupun dedaunan berserakan. Tak ada pula bau sisa bakar-bakar sampah, kebiasaan yang masih lazim ditemui di banyak kampung di Indonesia. Di balik pemandangan itu, ada sosok yang selama bertahun-tahun setia menemani warga Sangurejo membenahi kampungnya: Ir. Atus Syahbudin, S.Hut., M.Agr., Ph.D., IPU, dosen Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) yang akrab disapa Atus.
Ditemui di sela acara verifikasi lapangan oleh tim Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) pada Kamis (20/8/2026), Atus dengan antusias mengajak berkeliling menyusuri kampung yang telah ia dampingi bertahun-tahun. Ia menunjukkan detail-detail kecil yang mudah luput dari mata orang luar, salah satunya soal jejak masa lalu yang kini nyaris tak berbekas.
1. Museum tanpa dinding

Linimasa perjalanan Sangurejo dipamerkan dalam ruang museum (IDN Times/Yogie Fadila) Bagi Atus, Sangurejo bukan sekadar kampung yang bersih dan hijau, melainkan semacam museum luar ruangan yang menyimpan sejarah, informasi, dan edukasi tentang alam. Dua pohon kemundung yang kini tengah berbuah, atau lahan-lahan warga yang berubah dari sistem monokultur salak menjadi polikultur berselang durian, mangga, dan duku, semuanya ia pandang sebagai bagian dari galeri hidup itu. Namun ia dan warga tetap menyisihkan satu bilik khusus untuk menyimpan arsip dan foto yang tak bisa dibiarkan begitu saja di ruang terbuka.
"Museum, cuma belum dinamai, karena kan sejarah ya. Awal mula, terus jadi desa wisata, desa Pramuka, jadi ProKlim. Ini komen-komen masyarakat. Jadi ada empat bagian," tutur Atus, sembari menjelaskan konsepnya yang memadukan ruang indoor berisi dokumentasi dan pos-pos outdoor sebagai jalur edukasi bagi pengunjung.
Menelusuri jejak masa lalu itu, kata Atus, tidak selalu mudah. Ia sempat kesulitan mencari foto kebiasaan warga buang air besar sembarangan atau bekas arang dari kebiasaan membakar sampah di masa lalu, karena kampung kini sudah telanjur bersih. "Saya bilang ke [salah satu warga] Kak Nur, sebenarnya gambar foto orang obong-obong zaman dulu, termasuk bekas-bekas arang, abu itu ada apa gak? Nah, ini mulai angel (sulit) ternyata," ceritanya.
Sampai akhirnya, secarik gambar dari tahun 1957 yang dicari selama dua tahun justru ditemukan tanpa sengaja. "Oh, kita sudah nyari dua tahun gak akan ketemu. Ini baru saja ditemukan kemarin," katanya, mengenang foto yang membuktikan warga Sangurejo sudah terbiasa bergotong royong sejak kampung itu belum sehijau sekarang.
2. Air hujan yang menyehatkan

Dosen Fakultas Kehutanan UGM Atus Syahbudin yang terlibat secara langsung dalam pengembangan program kampung iklim di padukuhan Sangurejo, menunjukkan instalasi pemanen air hujan (IDN Times/Yogie Fadila) Salah satu inovasi yang paling ia banggakan adalah alat pemanenan air hujan yang kini terpasang di rumah-rumah warga. Atus menjelaskan filosofi di baliknya dengan cara yang sederhana namun meyakinkan. "Ini memanen air (hujan) ini itu untuk kesehatan. Karena ternyata air hujan yang dipanen ini airnya basa (alkali). Padahal kalau kita makan itu kan asam. Nah, dengan kita minum yang basa, yang kita panen dari kendi-kendi itu, yang asam masuk ketemu asam, netral. Makanya tubuh kita sehat," ujarnya, sembari menuangkan air hasil panenan itu ke gelas dan meminumnya langsung tanpa dimasak.
Air hujan tersebut disaring bertingkat memakai ijuk dan arang sesuai standar operasional dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman, sebelum akhirnya siap diminum. Menurut Atus, praktik ini sebenarnya melanjutkan kebiasaan lama orang Jawa yang memasang kendi di luar rumah untuk menadah embun, hanya saja kini dilengkapi proses penyaringan yang lebih terukur. "Dulu enggak ada diproses. Termasuk di sini ya kita belajar ini loh," katanya.
Ia juga turun langsung mempraktikkan cara membuat biopori. "Sampah-sampah yang organik dimasukkan sini, disapu-sapu, sampah dapur masukkan sini, ya sudah tutup," jelasnya. Ia menekankan pentingnya memisahkan sampah organik dari plastik agar proses penguraian berjalan maksimal di dalam tanah, bukan menumpuk di permukaan yang justru menimbulkan bau dan berujung seperti kondisi tempat pembuangan akhir sampah pada umumnya.
3. Menjahit kampus dengan kampung

Pemilihan sampah di rumah-rumah warga proklim Sangurejo, Turi, Sleman (IDN Times/Yogie Fadila) Pendampingan Atus terhadap Sangurejo tidak berhenti pada urusan teknis lapangan. Ia memfokuskan perannya pada penguatan kolaborasi akademik, penelitian, pemberdayaan masyarakat, pembekalan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN), hingga praktikum kurator keanekaragaman hayati di kampung iklim tersebut. Sebagai Dosen Pembimbing Lapangan, ia mendorong mahasiswa KKN tidak hanya menjalankan program pengabdian, tetapi juga belajar mengidentifikasi potensi lokal, mendokumentasikan praktik pengelolaan lingkungan, dan mendukung aksi adaptasi-mitigasi perubahan iklim di Sangurejo.
"Program KKN menjadi jembatan antara pengetahuan akademik dan praktik di masyarakat. Mahasiswa dapat belajar dari masyarakat, sementara masyarakat memperoleh dukungan pengetahuan, dokumentasi, dan inovasi yang dapat memperkuat program lingkungan yang sudah berjalan," jelas Atus.
Kiprah Sangurejo pun kini merambah lebih luas lewat jejaring mitra binaan. Berdasarkan Surat Keputusan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman, Sangurejo membina 12 padukuhan lain, yakni Kuwang, Gondangan, Banjeng, Nganggring, Parakan Kulon, Kranggan II, Sedogan, Dayakan, Koroulon Lor, Kloposawit, Krasaan, Sindon, dan Plosorejo. Menurut Atus, jejaring semacam ini menjadi modal sosial penting yang menopang keberlanjutan program. "Perguruan tinggi memiliki peran dalam memperkuat basis pengetahuan dan inovasi, sedangkan masyarakat menjadi aktor utama yang menjalankan praktik lingkungan secara berkelanjutan," tambahnya.
Di luar urusan air dan sampah, Sangurejo di bawah pendampingan Atus dan warga juga melahirkan inovasi ekonomi kreatif berbasis lingkungan, salah satunya pemanfaatan limbah kulit salak sebagai bahan pewarna alami untuk ecoprint. Produk yang dikembangkan komunitas Ecoprint & Craft Sangurejo (ECSA) itu telah mengikuti berbagai pameran, bahkan menjadi koleksi Hortus Botanicus Leiden di Belanda.
4. Ekoteologi sebagai landasan

Ketua ProKlim Utama Sangurejo, Choirul Huda, memaparkan pencapaian proklim Sangurejo (IDN Times/Yogie Fadila) Menariknya, pendekatan yang dibawa Atus tidak melulu soal sains dan teknis lingkungan. Ia turut mendorong integrasi nilai sosial dan keagamaan lewat konsep ekoteologi atau dakwah ekologi, yang menempatkan prinsip amanah, keseimbangan (mizan), dan larangan berbuat kerusakan (fasad) sebagai landasan moral warga dalam menjaga lingkungan. "Implementasinya dilakukan melalui edukasi, penanaman pohon, pengelolaan sampah, konservasi air, dan berbagai aksi lingkungan berbasis masyarakat," ujarnya.
Bagi Atus, transformasi Sangurejo bukan pekerjaan satu orang, melainkan hasil energi banyak pihak yang perlu terus disatukan. "Ini bukan pekerjaan satu orang. Banyak potensi dan banyak pihak yang selama ini sudah bergerak. Energi dan semangat tersebut perlu disatukan agar gerakan lingkungan di Sangurejo semakin kuat dan berkelanjutan," katanya.
Pembina ProKlim Sangurejo, Agus Kurniawan, menambahkan bahwa proses menuju status Lestari merupakan bagian dari perjalanan panjang masyarakat yang dipersiapkan secara gotong royong bersama berbagai mitra, mulai dari penguatan keanekaragaman hayati lokal hingga penataan kawasan. Sementara itu, Ketua ProKlim Sangurejo, M. Chairul Huda, menyebut capaian status Utama pada 2024 sebagai buah kerja bersama masyarakat dan pemerintah, menyusul penghargaan Padukuhan Tangguh Iklim tingkat Provinsi DIY yang lebih dulu disandang Sangurejo.
Bagi Atus sendiri, predikat ProKlim Lestari yang tengah diperjuangkan Sangurejo bukanlah tujuan akhir. "Yang terpenting bukan hanya predikatnya, tetapi bagaimana pengetahuan, praktik baik, dan jejaring yang sudah dibangun dapat terus tumbuh. Di sinilah perguruan tinggi, mahasiswa, pemerintah, dan masyarakat dapat bekerja bersama untuk menjaga keberlanjutan lingkungan," pungkasnya.

















