ilustrasi algoritma (Unsplash/Markus Spiske)
Menurut Maria, perubahan pola konsumsi politik di TikTok tidak bisa dilepaskan dari cara algoritma dirancang oleh perusahaan media sosial. "Pada dasarnya kan perusahaan media sosial ini adalah perusahaan bisnis, mereka bukan perusahaan publik dan salah satu tool yang digunakan untuk menjalankan bisnisnya adalah algoritma," kata Maria kepada IDN Times, Minggu (30/8/2026).
Algoritma mempelajari perilaku manusia. Pada saat yang sama, manusia juga terus memberi informasi kepada algoritma melalui konten yang mereka tonton, sukai, bagikan, maupun interaksikan. Hubungan tersebut menciptakan personalisasi. Algoritma semakin mengetahui apa yang disukai pengguna, sementara pengguna semakin nyaman dengan konten yang sesuai dengan preferensinya.
"Model bisnisnya adalah memang personalized, model bisnisnya adalah memang untuk membuat algoritma ini menyenangkan dan addicting buat orang-orang yang menggunakannya," ujarnya. Karena itu, Maria menilai algoritma tidak bisa dilihat hanya sebagai alat netral. "Algoritma itu bukan sekadar alat saja tapi memang itu adalah model bisnis," katanya.
Model tersebut dapat berbeda-beda pada setiap platform, tergantung tujuan pembuat atau pemiliknya. Dalam konteks TikTok, hubungan algoritma dan pengguna menghasilkan algorithmic populism. Konsep tersebut sebelumnya diperkenalkan peneliti Eropa Ico Maly untuk menggambarkan hubungan mutualisme antara algoritma dan pengguna.
Ketika mayoritas pengguna menginginkan konten yang sederhana, mudah diamati, menyenangkan, dan emosional, konten dengan karakter tersebut akan terus diberikan algoritma karena tujuan bisnisnya adalah membuat pengguna bertahan selama mungkin. TikTok sendiri, menurut Maria, memang dirancang agar orang senang menonton, membuat konten, serta membagikan sesuatu yang sesuai dengan preferensinya. Persoalannya, dalam kondisi seperti itu, sangat sulit membedakan konten yang benar-benar organik dengan konten yang dibuat atau didorong oleh buzzer.
Dalam observasi digital etnografi pada 2024, Maria menemukan akun tanpa nama asli tidak otomatis merupakan akun buzzer. Bisa saja pemiliknya memang tidak ingin menggunakan identitas asli dan hanya memakai akun tersebut untuk membagikan kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, akun yang tidak memiliki identitas jelas dan hanya mengunggah konten tertentu juga tidak otomatis dapat dikategorikan sebagai buzzer.
"Masalah yang terjadi sebenarnya bukan tentang apakah konten itu organik atau konten itu adalah konten buzzer karena itu sangat susah ditelusuri kalau misalnya di TikTok," ujarnya.
Bagi Maria, pertanyaan yang lebih penting bukan sekadar siapa yang organik dan siapa yang buzzer. Persoalan utamanya adalah bagaimana desain platform memungkinkan siapa pun melakukan kampanye politik dengan sangat mudah, tetapi belum tentu substantif. "Platform ini memang didesain untuk siapa pun dengan sangat mudah bisa melakukan political campaign yang tidak substantif," katanya.
Platform juga tidak dirancang agar pengguna mudah mengetahui apakah mereka sedang berinteraksi dengan akun organik atau bukan. Akibatnya, isu kebijakan publik, politik, kerja sama bilateral, maupun persoalan kompleks lainnya sulit dibahas secara mendalam. "Pertanyaannya justru jauh lebih penting adalah platform seperti apa yang justru membuat orang bisa punya meaningful participation," ujar Maria.
Dalam risetnya, Maria juga menemukan akun baru yang tidak memiliki riwayat pencarian politik sama sekali dapat langsung disuguhi lima hingga tujuh video kampanye secara berturut-turut di halaman For You Page atau FYP. Namun, ia menegaskan temuan tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa algoritma TikTok memiliki bias bawaan terhadap narasi populis.
"Jadi, kita nggak bisa klaim bahwa algoritma TikTok itu punya bias terhadap narasi populis, tapi kita bisa lihat at least di dalam kondisi pemilu tahun 2024 ada indikasi ke arah sana," katanya.
Menurut Maria, diperlukan penelitian lebih lanjut, termasuk experiment model, untuk membuktikan hal tersebut. Demokrasi Digital juga merencanakan penelitian dengan metode yang lebih kreatif serta berkolaborasi dengan peneliti dari negara lain untuk membandingkan apakah fenomena tersebut hanya terjadi di Indonesia atau juga terjadi di negara lain.
Temuan lainnya menunjukkan penggunaan tagar #PrabowoSubianto mencapai sekitar 1,7 juta kali, lebih tinggi dibanding #GanjarPranowo sekitar 989,5 ribu dan #AniesBaswedan sekitar 602,3 ribu. Hal ini menunjukkan distribusi pesan politik di TikTok tidak lagi hanya bergantung pada akun resmi kandidat.