Penyegelan hunian ilegal di atas tanah kas desa di Maguwoharjo, Depok, Sleman. (Dok. Satpol PP DIY)
Kasus bermula dari PT Deztama Putri Sentosa yang mengajukan proposal permohonan sewa tanah kas desa di Caturtunggal, tepatnya pada 11 Desember 2015. Tanah itu memiliki luas 5.000 meter persegi dan dimaksudkan untuk Area Singgah Hijau.
Pertengahan 1 Oktober 2020 PT Deztama Putri Sentosa kembali mengajukan proposal permohonan sewa tanah kas desa di Caturtunggal. Kali ini seluas 11.215 meter persegi. Kepentingannya untuk menjadi Area Singgah Hijau bernama Ambarukmo Green Hills dan proses ini juga mendapatkan izin dari Gubernur DIY.
Di sinilah mulai terjadi penyalahgunaan TKD. Pada medio 2020 PT Deztama Putri Sentosa membangun pemukiman di lahan seluas 5.000 meter persegi. Berupa bangunan permanen yang tidak sesuai proposal awal. Adapula transaksi kepada pihak ketiga dengan cara disewakan.
Kejati DIY sejauh ini baru mengusut permasalahan TKD di Caturtunggal saja yang menyangkut keterlibatan PT Deztama Putri Sentosa. Sementara Satpol PP telah melakukan penyegelan, termasuk di Kandara Village yang berdiri di atas lahan TKD Maguwoharjo karena tak mengantongi izin pemanfaatan tanah kas desa seluas 39.595 meter persegi.
Penyegelan juga telah dilakukan di Ambarrukmo Green Hills tahun lalu. Sementara itu, sekitar 200 laporan tentang dugaan penyalahgunaan TKD telah masuk ke Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) Universitas Proklamasi 45 pekan lalu.
Laporan dibuat oleh para konsumen yang menjadi korban Robinson Saalino. Mereka membeli lahan berstatus TKD yang dipakai tak sesuai peruntukkannya, seperti di Caturtunggal, Condongcatur, Maguwoharjo, dan Candibinangun. Kerugian para konsumen ini diperkirakan lebih besar dari kerugian negara, yakni mencapai Rp68,5 miliar.