Kondisi Puskesmas di Manggarai usai gempa NTT, Minggu (16/8/2026)/IDN Times Dini Suciatiningrum
Sultan menambahkan tradisi tersebut, pernah diterapkan ketika lebih dari 600 mahasiswa asal Aceh terdampak bencana. Dukungan serupa juga memiliki akar sejarah pada masa kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono IX ketika mahasiswa asal Sumatera Barat dan daerah lainnya kesulitan melanjutkan pendidikan akibat situasi PRRI-Permesta.
"Ya daripada dia belajar di Jogja itu drop out ya lebih baik pada waktu itu pemda DIY yang membantu living cost, dimana dia tetap bisa melanjutkan pendidikan di Jogja," katanya.
Untuk mahasiswa NTT, Pemda DIY telah menerbitkan Surat Edaran kepada perguruan tinggi agar mendata mahasiswa yang terdampak sekaligus memberikan kelonggaran biaya pendidikan. Pemda DIY juga menyiapkan dukungan biaya hidup bagi mahasiswa yang orang tuanya tidak lagi mampu mengirimkan kebutuhan selama mereka berada di Yogyakarta. Besaran dan penerima bantuan tersebut masih menunggu hasil pendataan.
Menurut Sekretaris Daerah DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti, bantuan tanggap darurat yang disiapkan Pemda DIY antara lain berupa dukungan keuangan sebesar Rp1 miliar kepada Pemerintah Provinsi NTT. Selain itu, obat-obatan dan perbekalan kesehatan senilai Rp38.484.610 juga disiapkan melalui Dinas Kesehatan DIY dan BPBD DIY.
Distribusinya dilakukan melalui kolaborasi dengan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, JNE, serta Yakkum Emergency Unit (YEU).
Dukungan kemanusiaan juga dihimpun dari sektor jasa keuangan. Sebanyak Rp90 juta dikumpulkan melalui BI, OJK, FKIJK, dan BPD DIY untuk disalurkan melalui Baznas, sementara ASN Pemda DIY telah memberikan donasi awal sebesar Rp10 juta. Pemda DIY juga membuka "Donasi Peduli NTT" bagi ASN melalui Surat Edaran.
"Untuk mahasiswa NTT yang tinggal di asrama di Yogyakarta, bantuan pangan disiapkan melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY berupa beras 405 kilogram per bulan, telur, dan mi instan hingga Desember 2026," jelasnya.
Sementara itu, Kepala Badan Penghubung (Bahubda) Provinsi NTT di Jakarta, Florida Taty Satyawati, mengapresiasi langkah tersebut. Ia menyebut DIY sebagai provinsi pertama yang memberikan perhatian khusus kepada mahasiswa NTT, termasuk untuk kebutuhan biaya hidup.
Florida menyampaikan bahwa kebutuhan mendesak di daerah terdampak saat ini terutama mencakup tenaga kesehatan, tenda, serta makanan siap saji. Badan Penghubung NTT di Jakarta juga membuka posko resmi untuk menggalang bantuan dari luar NTT yang nantinya disalurkan kepada masyarakat dengan melibatkan diaspora NTT.
"Wilayah yang paling terdampak disebut berada di Ruteng dan Nagekeo. Berdasarkan data sementara per 18 Agustus 2026 pukul 18.00 WIB, jumlah korban meninggal dunia yang telah terdata mencapai 70 orang,"jelasnya.
Sesepuh NTT di DIY sekaligus pengurus pusat Diaspora NTT perwakilan DIY, Moris Sarumaha, mengatakan proses pendataan dilakukan segera setelah bencana.
Pendataan sementara menunjukkan sekitar 545 mahasiswa NTT di DIY terdampak gempa. Jumlah warga NTT yang tinggal di DIY, baik mahasiswa maupun masyarakat yang menetap, diperkirakan mencapai 10 ribu hingga 12 ribu orang. Posko induk pendataan dan koordinasi bantuan berada di Ruko Babarsari, Caturtunggal, Depok, Sleman, di depan Gereja Babarsari.
"Yang terkena terdampak ini saat ini sekitar 545 yang terdata. Kita update terus sampai dengan batas terakhir nanti," ujarnya.