Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Aksi Bahu-Membahu DIY untuk Korban Gempa NTT, Bantu Mahasiswa di Jogja
Aksi bahu-membahu DIY bantu NTT. (IDN Times/Tunggul)

  • Pemda DIY menyiapkan Rp1 miliar, obat dan logistik untuk NTT, sekaligus mendata mahasiswa terdampak serta memberi kelonggaran biaya pendidikan dan bantuan hidup.
  • Sekitar 545 mahasiswa NTT di DIY tercatat terdampak gempa; bantuan pangan untuk penghuni asrama disiapkan hingga Desember 2026, sementara kebutuhan penerima masih didata.
  • RSUP Dr. Sardjito dan UGM mengirim tenaga kesehatan ke Ngada untuk pelayanan, asesmen kebutuhan, penanganan trauma, serta distribusi obat bagi wilayah terdampak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Yogyakarta, IDN Times - Berbagai elemen di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bahu membahu membantu masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terdampak gempa bumi yang terjadi pada 15 Agustus 2026 lalu.

Pemerintah daerah, rumah sakit hingga perguruan tinggi bergerak bersama, mengerahkan bantuan mulai dari kebutuhan tanggap darurat, distribusi logistik, pelayanan kesehatan dan obat-obatan. Bahkan, memastikan mahasiswa asal NTT di Yogyakarta tetap dapat memenuhi kebutuhan hidup dan melanjutkan pendidikan.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengatakan, kepedulian terhadap daerah yang mengalami bencana telah menjadi tradisi Pemda DIY.

Respons tersebut tidak selalu berbentuk pengiriman bantuan langsung ke daerah bencana, tetapi juga memastikan warga dari daerah terdampak yang sedang menempuh pendidikan di Yogyakarta tetap dapat bertahan dan menyelesaikan studinya.

"Jogja punya tradisi setiap ada gempa di manapun di wilayah Indonesia itu kami membantu. Belum tentu pada provinsi itu kita membantu, tapi paling sedikit kita membantu, kita mesti menanyakan ada tidak mahasiswa dari wilayah-wilayah di Indonesia itu yang belajar di Jogja yang kena dampak daripada bencana itu," kata Sultan di Kompleks Kepatihan, Kota Yogyakarta, Rabu (19/8/2026).

1. Tradisi sudah dilakukan sejak Sultan HB IX

Kondisi Puskesmas di Manggarai usai gempa NTT, Minggu (16/8/2026)/IDN Times Dini Suciatiningrum

Sultan menambahkan tradisi tersebut, pernah diterapkan ketika lebih dari 600 mahasiswa asal Aceh terdampak bencana. Dukungan serupa juga memiliki akar sejarah pada masa kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono IX ketika mahasiswa asal Sumatera Barat dan daerah lainnya kesulitan melanjutkan pendidikan akibat situasi PRRI-Permesta.

"Ya daripada dia belajar di Jogja itu drop out ya lebih baik pada waktu itu pemda DIY yang membantu living cost, dimana dia tetap bisa melanjutkan pendidikan di Jogja," katanya.

Untuk mahasiswa NTT, Pemda DIY telah menerbitkan Surat Edaran kepada perguruan tinggi agar mendata mahasiswa yang terdampak sekaligus memberikan kelonggaran biaya pendidikan. Pemda DIY juga menyiapkan dukungan biaya hidup bagi mahasiswa yang orang tuanya tidak lagi mampu mengirimkan kebutuhan selama mereka berada di Yogyakarta. Besaran dan penerima bantuan tersebut masih menunggu hasil pendataan.

Menurut Sekretaris Daerah DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti, bantuan tanggap darurat yang disiapkan Pemda DIY antara lain berupa dukungan keuangan sebesar Rp1 miliar kepada Pemerintah Provinsi NTT. Selain itu, obat-obatan dan perbekalan kesehatan senilai Rp38.484.610 juga disiapkan melalui Dinas Kesehatan DIY dan BPBD DIY.

Distribusinya dilakukan melalui kolaborasi dengan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, JNE, serta Yakkum Emergency Unit (YEU).

Dukungan kemanusiaan juga dihimpun dari sektor jasa keuangan. Sebanyak Rp90 juta dikumpulkan melalui BI, OJK, FKIJK, dan BPD DIY untuk disalurkan melalui Baznas, sementara ASN Pemda DIY telah memberikan donasi awal sebesar Rp10 juta. Pemda DIY juga membuka "Donasi Peduli NTT" bagi ASN melalui Surat Edaran.

"Untuk mahasiswa NTT yang tinggal di asrama di Yogyakarta, bantuan pangan disiapkan melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY berupa beras 405 kilogram per bulan, telur, dan mi instan hingga Desember 2026," jelasnya.

Sementara itu, Kepala Badan Penghubung (Bahubda) Provinsi NTT di Jakarta, Florida Taty Satyawati, mengapresiasi langkah tersebut. Ia menyebut DIY sebagai provinsi pertama yang memberikan perhatian khusus kepada mahasiswa NTT, termasuk untuk kebutuhan biaya hidup.

Florida menyampaikan bahwa kebutuhan mendesak di daerah terdampak saat ini terutama mencakup tenaga kesehatan, tenda, serta makanan siap saji. Badan Penghubung NTT di Jakarta juga membuka posko resmi untuk menggalang bantuan dari luar NTT yang nantinya disalurkan kepada masyarakat dengan melibatkan diaspora NTT.

"Wilayah yang paling terdampak disebut berada di Ruteng dan Nagekeo. Berdasarkan data sementara per 18 Agustus 2026 pukul 18.00 WIB, jumlah korban meninggal dunia yang telah terdata mencapai 70 orang,"jelasnya.

Sesepuh NTT di DIY sekaligus pengurus pusat Diaspora NTT perwakilan DIY, Moris Sarumaha, mengatakan proses pendataan dilakukan segera setelah bencana.

Pendataan sementara menunjukkan sekitar 545 mahasiswa NTT di DIY terdampak gempa. Jumlah warga NTT yang tinggal di DIY, baik mahasiswa maupun masyarakat yang menetap, diperkirakan mencapai 10 ribu hingga 12 ribu orang. Posko induk pendataan dan koordinasi bantuan berada di Ruko Babarsari, Caturtunggal, Depok, Sleman, di depan Gereja Babarsari.

"Yang terkena terdampak ini saat ini sekitar 545 yang terdata. Kita update terus sampai dengan batas terakhir nanti," ujarnya.

2. RSUP Dr. Sardjito bantu pelayanan RSUD Bajawa

Gerakan solidaritas dari Yogyakarta juga diwujudkan melalui penguatan layanan kesehatan di lokasi bencana. RSUP Dr. Sardjito di Sleman mengirim tujuh tenaga medis ke NTT sebagai bagian dari respons Kementerian Kesehatan.

Tim tersebut ditugaskan membantu pelayanan kesehatan di RSUD Bajawa, Kabupaten Ngada. Tim diberangkatkan pada Senin (17/8/2026) kemarin.

Tim terdiri atas dokter dan tenaga keperawatan dengan kompetensi multidisiplin. Mereka diharapkan tidak hanya menangani korban, tetapi juga memperkuat kapasitas pelayanan kesehatan di wilayah terdampak.

Direktur Utama RSUP Dr. Sardjito, Romanianto mengatakan pengiriman tenaga medis merupakan bentuk kepedulian dan pengabdian rumah sakit kepada masyarakat dalam situasi bencana.

"Saudara-saudara kita di NTT sedang menghadapi situasi yang tidak mudah akibat bencana. Karena itu, kami berupaya hadir dan memberikan bantuan terbaik melalui tenaga kesehatan yang kami miliki," ujarnya.

3. UGM kirimkan tim nakes dan obat-obatan

Selain RSUP Dr. Sardjito, Pokja Bencana FK-KMK UGM pada Rabu (19/8/2026) memberangkatkan enam relawan dari FK-KMK UGM dan RSA UGM menuju Kabupaten Ngada. Tim yang terdiri atas dokter, perawat, dan ahli kesehatan masyarakat tersebut akan bertugas sekitar 11 hari hingga 30 Agustus 2026.

Tim dibagi menjadi dua regu, yakni tim manajemen atau asesmen dan tim medis. Fokus awal mereka adalah melakukan Rapid Health Assessment (RHA) untuk memetakan kebutuhan kesehatan secara langsung di lokasi bencana. Hasil asesmen akan menjadi dasar penentuan jenis bantuan dan kebutuhan tenaga medis berikutnya.

Dekan FK-KMK UGM, Yodi Mahendradhata mengatakan tim akan terus berkoordinasi dengan pihak kampus selama berada di lapangan. Hasil pemetaan kebutuhan juga akan menentukan apakah perlu dikirimkan tim susulan sebelum atau setelah tim pertama kembali.

"Maka kita mengirimkan tim asesmen ini, nanti kita tunggu informasi dari tim asesmen, dan nanti tentu akan kita tindak lanjuti sesuai dengan rekomendasi dari tim asesmen nanti," jelasnya.

Selain pelayanan medis dan asesmen, tim membawa amanah distribusi logistik berupa obat-obatan dari Pemda DIY.

"Ini harus kita pastikan nanti sampai dan didistribusikan dengan tepat pada masyarakat yang membutuhkan," tuturnya.

Anggota tim, dr. Rizki Fitria, menjelaskan bahwa asesmen diperlukan untuk menentukan apakah kebutuhan di lapangan lebih banyak berkaitan dengan logistik atau tenaga medis. Sebagai Emergency Medical Team (EMT), tim juga bersiap menangani kasus trauma dan perawatan luka yang banyak muncul setelah gempa, terutama karena sejumlah fasilitas kesehatan dilaporkan mengalami gangguan atau kolaps.

"Jadi kami melakukan asesmen dulu kebutuhan-kebutuhan apa yang akan diperlukan di sana, apakah lebih ke logistik atau ke tim medis," tuturnya.

Di tengah berbagai dukungan tersebut, mahasiswa NTT di Yogyakarta turut merasakan langsung manfaat bantuan. Salah satu mahasiswa terdampak, Cornelisiano Ligi Longa, mahasiswa Universitas Mercu Buana asal Ende, mengatakan bantuan Pemda DIY memberikan keringanan bagi mahasiswa yang keluarganya terkena dampak gempa.

"Dengan adanya bantuan untuk mahasiswa ini sangat-sangat meringankan kami sebagai mahasiswa yang terdampak," kata Cornelisiano di Kepatihan.

Ia mengatakan rumah keluarganya mengalami kerusakan cukup parah, meskipun orang tua dan anggota keluarganya selamat dalam kondisi sehat.

"Kalau saya karena saya asal dari Ende, kondisi rumah saya cukup lumayan parah. Jadi kalau untuk kondisi orang tua, keluarga semua masih sehat-sehat, baik-baik saja," ujarnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article