Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
FKG UGM Soroti Dokter Gigi Melimpah, 26 Persen Puskesmas Kurang Nakes
ilustrasi dokter gigi dan pasien (pexels.com/Tima Miroshnichenko)
  • Sebanyak 26,8 persen Puskesmas di Indonesia belum memiliki dokter gigi. Kebanyakan distribusi tenaga medis menumpuk di perkotaan.

  • Meski sekitar 3.000 dokter gigi lulus tiap tahun dari 48 fakultas, penugasan daerah terhambat minimnya fasilitas, akses geografis sulit, dan pendapatan yang kurang sebanding.

  • FKG UGM mengusulkan beasiswa berikatan dinas bagi putra daerah agar kembali mengabdi, sementara masyarakat diingatkan tidak mengabaikan kesehatan gigi dan mulut.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sleman, IDN Times -Akses layanan kesehatan gigi dan mulut di berbagai daerah Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan. Ketimpangan distribusi tenaga medis menjadi masalah utama, di mana sebagian besar dokter gigi menumpuk di area perkotaan. Dampaknya, terjadi kekosongan dokter gigi di banyak Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) daerah, yang berujung pada sulitnya masyarakat pelosok mendapatkan layanan medis yang layak.

Berdasarkan data Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PB PDGI), sebanyak 26,8 persen Puskesmas di Indonesia saat ini belum memiliki dokter gigi.

1. Diskrepansi jumlah lulusan dan distribusi enaga Medis

Biaya IUP Kedokteran Gigi UGM 2025/2026 (Instagram.com/fkgugm)

Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) sekaligus Ketua Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia (AFDOKGI), Prof. Suryono menilai, ketimpangan sebagai pekerjaan rumah jangka panjang Kementerian Kesehatan yang belum usai. Ia menyoroti adanya diskrepansi antara ketersediaan lulusan baru dan pemenuhannya di lapangan.

"Produktivitas dokter gigi kita mencapai sekitar 3 ribuan lulusan per tahun dari kurang lebih 48 FKG yang ada. Pertanyaan utamanya: mengapa masih ada puskesmas yang kosong tanpa dokter gigi?" tegasnya.

Suryono mengidentifikasi beberapa faktor utama penyebab enggan atau terbatasnya dokter gigi bertugas di daerah. Pertama, fasilitas dan sarana-prasarana yang minim banyak daerah tidak ditunjang oleh aliran listrik atau air yang memadai. Kedua, tantangan geografis atau akses menuju wilayah tertentu masih sangat sulit dijangkau. Ketiga, keterbatasan fasilitas dan akses yang sulit kerap tidak sebanding dengan standar pendapatan yang diterima.

2. Beasiswa bagi putra putri daerah agar kembali ke kampung halaman

Ia menyebut perlunya fasilitas beasiswa untuk putra daerah sehingga bisa kembali ke kampung halamannya. Menurutnya, ikatan beasiswa atau dinas dari pemerintah dapat menjadi salah satu persyaratan.

"Jalinan kerja sama antara beasiswa dan putra daerah dapat menumbuhkan harapan bagi daerah masing-masing. Selain pemberdayaan, ia menyebutkan perlu adanya kerja sama kebutuhan pelayanan melalui pengiriman residen,""tuturnya.

3. Masyarakat abaikan kesehatan gigi

Selain itu, Suryono menyayangkan kondisi masyarakat kerap kali mengabaikan kondisi kesehatan gigi. “Tidak dipungkiri bahwa gigi bisa menjadi salah satu sumber infeksi akibat dari bakteri yang menyebar karena tidak bersihnya area mulut,” jelasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article