Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Cara Tepat Tangani Heat Stroke pada Anak menurut Dokter UMY

Cara Tepat Tangani Heat Stroke pada Anak menurut Dokter UMY
ilustrasi seorang anak merasa kepanasan (pexels.com/Mathaus Bertelli)
Intinya Sih
  • dr. Siti Rizki Fauziah dari UMY menjelaskan anak lebih rentan terkena heat stroke karena sistem pengaturan suhu tubuh mereka belum sempurna dan mudah menyerap panas berlebih.
  • Tanda awal heat stroke pada anak meliputi keringat berlebihan, pusing, lemas, mual, hingga kebingungan atau penurunan kesadaran yang memerlukan penanganan medis segera.
  • Penanganan utama adalah menurunkan suhu tubuh dengan memindahkan anak ke tempat sejuk, membasahi tubuh dengan air biasa, serta menghindari obat penurun panas dan minuman saat kesadaran menurun.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Cuaca panas dan kemarau ekstrem tengah melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengingatkan masyarakat agar mewaspadai dampak kesehatan selama musim kemarau, seperti dehidrasi ekstrem dan heat stroke, terutama pada kelompok rentan termasuk anak-anak.

Dosen Program Pendidikan Dokter Spesialis Kedokteran Keluarga Layanan Primer (PPDS KKLP) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dr. Siti Rizki Fauziah, menjelaskan kondisi tersebut dapat berdampak signifikan terhadap kesehatan anak karena sistem pengaturan suhu tubuh mereka masih dalam tahap perkembangan dan belum bekerja seefektif orang dewasa.

“Anak-anak masih dalam masa pertumbuhan sehingga sistem regulasi tubuh mereka belum sesempurna orang dewasa. Karena itu mereka jauh lebih rentan terhadap perubahan lingkungan, termasuk cuaca ekstrem. Kondisi panas yang berlangsung terus-menerus dapat memberikan beban yang lebih besar bagi tubuh anak dibandingkan orang dewasa,” jelasnya, Senin (15/10 dilansir laman resmi UMY.

Untuk itu, dr. Siti membagikan tips mengenali dan menangani heat stroke pada anak.

Faktor penyebab heat stroke pada anak

dr. Siti mengatakan, anak lebih rentan mengalami heat stroke karena sejumlah faktor fisiologis. Salah satunya, luas permukaan tubuh anak relatif lebih besar dibandingkan berat badannya sehingga tubuh mereka lebih cepat menyerap panas ketika suhu lingkungan meningkat.

Selain itu, produksi panas tubuh anak saat beraktivitas juga lebih tinggi dibandingkan orang dewasa. Di sisi lain, mekanisme pendinginan tubuh melalui penguapan keringat belum bekerja optimal sehingga pelepasan panas menjadi kurang efisien.

"Tubuh anak memiliki mekanisme yang berbeda dalam merespons paparan panas. Mereka menyerap panas lebih cepat, sementara produksi panas tubuh saat bergerak juga lebih tinggi. Di sisi lain, sistem kelenjar keringat mereka belum bekerja seefektif orang dewasa sehingga proses pembuangan panas menjadi lebih sulit," ujarnya.

Tanda-tanda awal heat stroke

ilustrasi heat stroke dan heat exhaustion (IDN Times/Shukma Sakti)
ilustrasi heat stroke dan heat exhaustion (IDN Times/Shukma Sakti)

Selain faktor fisik, perilaku anak juga dapat meningkatkan risiko heat stroke. Menurut dr. Siti Rizki Fauziah, anak-anak sering terlalu fokus bermain sehingga tidak menyadari tanda awal kelelahan akibat panas. Anak juga belum mampu mengenali kondisi tubuhnya sendiri, termasuk saat mulai merasa haus, pusing, atau lemas.

Ia menjelaskan, sebelum mengalami heat stroke, anak umumnya menunjukkan gejala heat exhaustion atau kelelahan akibat panas, seperti berkeringat berlebihan, pusing, sakit kepala, tubuh lemas, mual, muntah, dan kram otot. Jika tidak segera ditangani, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi heat stroke yang ditandai perubahan perilaku dan kesadaran, seperti kebingungan, sulit diajak berkomunikasi, mengantuk berlebihan, hingga pingsan.

"Heat stroke harus dipandang sebagai kondisi kegawatdaruratan medis yang serius. Ini bukan hanya rasa panas biasa, tetapi kegagalan sistem pengaturan suhu tubuh. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat menyebabkan gangguan pada otak, jantung, ginjal, hingga organ-organ vital lainnya," ujarnya.

Dr. Siti menambahkan, semua anak berisiko mengalami heat stroke, namun bayi dan balita menjadi kelompok yang paling rentan. "Semua anak berisiko, tetapi bayi dan balita merupakan kelompok yang paling rentan. Karena itu, kewaspadaan orang tua menjadi sangat penting agar tanda-tanda awal gangguan akibat panas dapat dikenali sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih berbahaya," tegasnya.

Pertolongan pertama jika anak mengalami tanda-tanda heat stroke

dr. Siti mengatakan penanganan yang tidak tepat dapat memperburuk kondisi anak dan memicu komplikasi serius. Berbeda dengan demam akibat infeksi, penanganan heat stroke harus difokuskan pada upaya menurunkan suhu tubuh secepat mungkin dan segera membawa anak ke fasilitas kesehatan.

"Ketika anak sudah mulai berkeringat banyak, terlihat kepanasan, atau mulai mengeluhkan tubuhnya tidak nyaman, sebaiknya segera dipindahkan ke tempat yang lebih sejuk. Kalau memungkinkan masuk ke ruangan ber-AC, berikan kesempatan untuk beristirahat dan minum," kata dr. Siti kepada Humas UMY, Senin (15/6).

Ia menjelaskan, apabila anak menunjukkan tanda-tanda heat stroke, seperti penurunan kesadaran, kebingungan, atau suhu tubuh yang sangat tinggi, kondisi tersebut harus dianggap sebagai kegawatdaruratan medis. Orang tua tidak dianjurkan menunda penanganan dengan berbagai metode rumahan yang belum tentu tepat.

Sambil menunggu bantuan medis atau dalam perjalanan menuju rumah sakit, orang tua dapat melakukan pertolongan awal dengan memindahkan anak ke tempat yang teduh dan sejuk, melepaskan pakaian yang berlapis atau terlalu ketat, serta membasahi tubuh anak menggunakan air biasa atau air sejuk.

"Basahi seluruh tubuh anak menggunakan kain atau spons yang direndam air biasa atau air sejuk, kemudian bantu proses penguapan dengan kipas angin. Kompres juga dapat diberikan pada area yang banyak terdapat pembuluh darah besar seperti leher, ketiak, dan selangkangan. Cara ini membantu mempercepat pelepasan panas dari tubuh sambil menunggu penanganan medis lebih lanjut," ujarnya.

Kesalahan yang harus dihindari

Ilustrasi anak sakit demam (freepik.com/freepik)
Ilustrasi anak sakit (freepik.com/freepik)

Memberikan obat turun panas

dr. Siti mengatakan salah satu kesalahan yang sering dilakukan orang tua saat anak mengalami heat stroke adalah memberikan obat penurun panas seperti parasetamol atau ibuprofen.

"Parasetamol maupun ibuprofen tidak bekerja untuk mengatasi heat stroke. Justru ketika tubuh sedang mengalami dehidrasi dan organ-organ sedang berada dalam kondisi stres akibat panas, penggunaan obat-obatan tersebut dapat menambah beban kerja hati maupun ginjal. Karena itu, fokus utama tetap pada upaya pendinginan tubuh dan mendapatkan pertolongan medis secepat mungkin," tegasnya.

Memberi minum saat kesadaran anak menurun

Kesalahan lain yang juga kerap terjadi adalah memaksa anak minum saat kesadarannya mulai menurun. Menurut dr. Siti, tindakan tersebut berisiko menyebabkan cairan masuk ke saluran pernapasan karena refleks menelan anak sudah tidak bekerja dengan baik.

"Kalau anak sudah mengantuk berat, bingung, atau tidak sadar, jangan dipaksa minum karena berisiko tersedak," ujarnya.

Memberikan alkohol atau air es

Ia juga mengimbau agar orang tua tidak menggunakan alkohol maupun air es yang langsung ditempelkan ke kulit. "Yang paling aman adalah menggunakan air biasa atau air sejuk untuk membantu menurunkan suhu tubuh secara bertahap," katanya.

Menurut dr. Siti, air putih dan larutan elektrolit menjadi pilihan terbaik untuk menjaga hidrasi anak. Ia menekankan pentingnya mengenali gejala sejak dini dan tidak mengabaikan keluhan anak saat cuaca panas ekstrem.

"Hal yang terpenting adalah mengenali gejala sejak dini dan tidak menyepelekan keluhan anak saat cuaca panas. Semakin cepat kondisi ini disadari dan ditangani dengan benar, semakin besar peluang anak terhindar dari komplikasi yang lebih berat," pungkasnya.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Paulus Risang
EditorPaulus Risang

Latest News Jogja

See More