Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
BRIN Siapkan Anggaran Besar untuk Nuklir pada 2027
Jumpa pers Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana Terapan ke-5 Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia (Poltek Nuklir) Tahun 2026 di Yogyakarta, Rabu (9/9/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
  • BRIN menyiapkan anggaran besar pada 2027 untuk riset dan infrastruktur nuklir di sektor kesehatan, pangan, dan energi; lokasi pembangunan PLTN masih belum ditentukan.
  • BRIN menekankan edukasi publik serta kesiapan SDM nuklir, sementara lulusan didorong menjadi pembelajar adaptif karena AI dapat mengubah relevansi keterampilan dan kebutuhan pekerjaan.
  • Poltek Nuklir merancang prototipe alat peraga PLTN untuk Taman Pintar, menyesuaikan kurikulum enam peminatan, dan meluluskan 104 Sarjana Terapan pada 2026.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    BRIN menyiapkan peningkatan anggaran riset dan pembangunan infrastruktur ketenaganukliran pada 2027, dengan fokus pemanfaatan nuklir untuk kesehatan, pangan, dan energi.
  • Who?
    BRIN dipimpin Kepala BRIN Prof. Arif Satria, serta Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia yang dipimpin Plt. Direktur Zainal Arief, terlibat dalam pengembangan riset, pendidikan, dan edukasi nuklir.
  • Where?
    Pernyataan disampaikan di Yogyakarta, seusai Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana Terapan ke-5 Poltek Nuklir. Yogyakarta memiliki laboratorium reaktor riset dan Poltek Nuklir.
  • When?
    Rencana anggaran dan tahap awal pembangunan infrastruktur ditargetkan pada 2027. Pernyataan Arif Satria disampaikan pada Rabu, 9 September 2026.
  • Why?
    BRIN meningkatkan anggaran untuk memperkuat penguasaan dan pemanfaatan teknologi nuklir di bidang kesehatan, pangan, dan energi, serta mendukung infrastruktur dan kompetensi sumber daya manusia.
  • How?
    BRIN akan mengalokasikan anggaran riset dan infrastruktur, sementara Poltek Nuklir menyesuaikan kurikulum, mengembangkan prototipe alat peraga PLTN, dan menyiapkan edukasi masyarakat. Lokasi PLTN hingga saat ini belum ada kepastian.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
BRIN mau memberi uang besar pada 2027 untuk belajar dan membuat alat nuklir. Nuklir ini mau dipakai untuk kesehatan, makanan, dan energi. Tempat pembangkit listrik nuklir belum dipilih. Di Yogyakarta, mahasiswa Poltek Nuklir membuat contoh PLTN untuk Taman Pintar supaya orang bisa belajar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Yogyakarta, IDN Times - Teknologi nuklir bakal mendapat porsi anggaran lebih besar pada 2027. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyiapkan investasi besar untuk riset dan pembangunan infrastruktur ketenaganukliran yang diarahkan untuk memperkuat pemanfaatan nuklir di sektor kesehatan, pangan, dan energi.

Kepala BRIN Prof. Arif Satria mengatakan pengembangan teknologi nuklir bukan lagi sekadar agenda jangka panjang. Pemerintah tengah mempercepat berbagai persiapan untuk memperkuat penguasaan teknologi tersebut.

"Justru nuklir ini sekarang akan semakin kita kembangkan. Anggaran riset dan pembangunan infrastruktur nuklir ini porsinya sangat besar yang 2027 ini akan kita lakukan," kata Arif seusai memberikan sambutan dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana Terapan ke-5 Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia (Poltek Nuklir) Tahun 2026 di Yogyakarta, Rabu (9/9/2026).

1. BRIN fokuskan anggaran nuklir untuk tiga sektor

Jumpa pers Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana Terapan ke-5 Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia (Poltek Nuklir) Tahun 2026 di Yogyakarta, Rabu (9/9/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Arif menjelaskan, peningkatan anggaran riset ketenaganukliran akan difokuskan pada tiga sektor strategis. Ketiganya yakni kesehatan, pangan, dan energi. "Jadi tiga bidang inilah yang akan kita anggarkan, dan justru dengan ketiga bidang ini, maka anggaran riset di bidang ketenaganukliran memang akan kita tingkatkan," ujarnya.

Menurut Arif, penguatan infrastruktur menjadi salah satu bagian penting dari rencana tersebut. Tahap awal pembangunan infrastruktur pendukung diharapkan dapat diselesaikan pada 2027. "Kita ke depan akan bisa memperkuat dari teknologi nuklir untuk tujuan energi, pangan, dan kesehatan ini," katanya.

Meski pengembangan teknologi nuklir terus didorong, pemerintah belum menentukan lokasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). "Pengembangan nuklir saya kira kita belum memutuskan tempatnya di mana, untuk PLTN belum diputuskan tempatnya di mana," ujar Arif.

Ia menambahkan, PLTN merupakan bagian dari perencanaan jangka panjang pemerintah dan ditargetkan dapat diwujudkan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Selain membangun infrastruktur, Arif menilai pemerintah perlu memperkuat pemahaman masyarakat mengenai teknologi nuklir.

Menurutnya, pengembangan teknologi tersebut tidak cukup hanya dengan menyiapkan fasilitas dan sumber daya manusia. Masyarakat juga perlu mendapatkan edukasi mengenai pemanfaatan nuklir, termasuk untuk kepentingan kesehatan, pangan, dan energi.

"Jadi yang paling penting bagi kita sekarang adalah bagaimana mengedukasi masyarakat tentang nuklir ini," katanya.

Yogyakarta menjadi salah satu wilayah penting dalam pengembangan kompetensi ketenaganukliran. Keberadaan Poltek Nuklir dan fasilitas reaktor riset menjadi bagian dari ekosistem pendidikan dan riset nuklir nasional.

"Di Jogja kan adanya laboratorium reaktor. Jogja adalah tempat belajar untuk bisa memperkuat kompetensi kita dalam bidang riset ketenaganukliran," kata Arif.

2. BRIN soroti ancaman AI terhadap relevansi skill lulusan

Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana Terapan ke-5 Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia (Poltek Nuklir) Tahun 2026 di Yogyakarta, Rabu (9/9/2026). (Dok. Istimewa)

Di sisi lain, penguatan infrastruktur nuklir juga harus diimbangi dengan kesiapan sumber daya manusia (SDM). Arif mengingatkan lulusan perguruan tinggi harus memiliki kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang sangat cepat.

Ia menilai keterampilan yang dimiliki seseorang saat ini belum tentu tetap relevan dalam beberapa tahun mendatang. "Perubahan teknologi hari ini memerlukan kecepatan perubahan skill. Skill-skill yang kita miliki hari ini, lima tahun lagi relevansinya tinggal 60 persen," tuturnya.

Karena itu, lulusan perguruan tinggi, khususnya pendidikan vokasi, tidak cukup hanya mengandalkan kompetensi yang diperoleh selama kuliah. Mereka harus memiliki mental sebagai pembelajar yang mampu mengikuti perubahan.

"Yang diperlukan adalah kemampuan kita untuk bisa menciptakan lulusan-lulusan yang memiliki mental sebagai pembelajar. Skill sebagai agile learner, pembelajar yang cepat, learning agility, kecepatan belajar itu menjadi penentu," jelasnya.

Menurut Arif, kemampuan tersebut semakin penting di tengah perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang berpotensi mengubah kebutuhan tenaga kerja. "Apalagi ke depan AI akan menggantikan sejumlah pekerjaan manusia. Maka kecepatan belajar dari kita untuk mendapatkan skill-skill baru ini menjadi sangat penting sekali," katanya.

3. Poltek Nuklir siapkan prototipe PLTN untuk Taman Pintar

Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana Terapan ke-5 Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia (Poltek Nuklir) Tahun 2026 di Yogyakarta, Rabu (9/9/2026). (Dok. Istimewa)

Sementara itu, Poltek Nuklir terus menyesuaikan sistem pendidikannya dengan kebutuhan teknologi masa depan. Salah satunya melalui pembuatan prototipe alat peraga PLTN yang dirancang oleh mahasiswa.

Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Poltek Nuklir, Zainal Arief, mengatakan prototipe tersebut rencananya akan dihibahkan kepada Pemerintah Kota Yogyakarta untuk ditempatkan di Taman Pintar. "Sebagai contoh konkret dari proses transformative learning ini, sebuah tim mahasiswa telah berhasil merancang dan membuat prototipe alat peraga Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN)," kata Zainal.

Menurutnya, alat peraga tersebut diharapkan dapat menjadi sarana edukasi masyarakat untuk memahami cara kerja sistem PLTN secara aman dan efisien. Prototipe itu saat ini berada di area selasar kampus Poltek Nuklir. Setelah dihibahkan, alat tersebut diharapkan dapat memperluas akses masyarakat untuk mengenal teknologi nuklir.

Zainal mengatakan, pembuatan prototipe tersebut merupakan bagian dari penerapan transformative learning, yakni pendekatan pembelajaran yang mendorong mahasiswa menghasilkan solusi atas persoalan nyata. Poltek Nuklir juga telah melakukan penyesuaian body of knowledge pada tiga program studi yang dimilikinya. Penyesuaian kurikulum tersebut diwujudkan melalui enam peminatan spesifik yang disiapkan untuk menjawab kebutuhan teknologi nuklir di masa depan.

Keenam peminatan itu meliputi energi, pemanfaatan industri untuk analisis dan radiasi, kesehatan atau instrumentasi medik nuklir, teknologi akselerator, produksi radioisotop dan radiofarmaka, serta proses bahan bakar nuklir. "Politeknik Nuklir terus beradaptasi dan melakukan penyesuaian untuk merespons berbagai perubahan, terutama terkait kompetensi yang wajib dimiliki oleh para lulusannya," ujarnya.

Penerapan transformative learning tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kemampuan teknis mahasiswa. Mereka juga dilatih bekerja dalam kelompok, berkomunikasi, membaca persoalan, serta mencari solusi yang dapat diterapkan.

"Melalui proyek ini, mahasiswa dilatih untuk mampu bekerja sama, berkomunikasi dengan baik, serta kepekaan dalam melihat suatu permasalahan untuk kemudian dicarikan solusinya secara nyata," kata Zainal.

Pada 2026, Poltek Nuklir meluluskan 104 Sarjana Terapan dari tiga program studi, yakni Teknokimia Nuklir, Elektronika Instrumentasi, dan Elektro Mekanika. Sebanyak 78 lulusan di antaranya meraih predikat cum laude.

Zainal menambahkan, seluruh wisudawan telah dibekali sertifikasi kompetensi industri yang spesifik. Selain itu, 100 persen lulusan telah menyelesaikan praktik kerja di berbagai industri strategis dan pusat riset. Bekal tersebut diharapkan dapat membuat lulusan lebih siap menghadapi kebutuhan industri sekaligus mendukung agenda pengembangan teknologi nuklir nasional.

Curated For You

Editorial Team

Related Article