Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana Terapan ke-5 Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia (Poltek Nuklir) Tahun 2026 di Yogyakarta, Rabu (9/9/2026). (Dok. Istimewa)
Sementara itu, Poltek Nuklir terus menyesuaikan sistem pendidikannya dengan kebutuhan teknologi masa depan. Salah satunya melalui pembuatan prototipe alat peraga PLTN yang dirancang oleh mahasiswa.
Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Poltek Nuklir, Zainal Arief, mengatakan prototipe tersebut rencananya akan dihibahkan kepada Pemerintah Kota Yogyakarta untuk ditempatkan di Taman Pintar. "Sebagai contoh konkret dari proses transformative learning ini, sebuah tim mahasiswa telah berhasil merancang dan membuat prototipe alat peraga Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN)," kata Zainal.
Menurutnya, alat peraga tersebut diharapkan dapat menjadi sarana edukasi masyarakat untuk memahami cara kerja sistem PLTN secara aman dan efisien. Prototipe itu saat ini berada di area selasar kampus Poltek Nuklir. Setelah dihibahkan, alat tersebut diharapkan dapat memperluas akses masyarakat untuk mengenal teknologi nuklir.
Zainal mengatakan, pembuatan prototipe tersebut merupakan bagian dari penerapan transformative learning, yakni pendekatan pembelajaran yang mendorong mahasiswa menghasilkan solusi atas persoalan nyata. Poltek Nuklir juga telah melakukan penyesuaian body of knowledge pada tiga program studi yang dimilikinya. Penyesuaian kurikulum tersebut diwujudkan melalui enam peminatan spesifik yang disiapkan untuk menjawab kebutuhan teknologi nuklir di masa depan.
Keenam peminatan itu meliputi energi, pemanfaatan industri untuk analisis dan radiasi, kesehatan atau instrumentasi medik nuklir, teknologi akselerator, produksi radioisotop dan radiofarmaka, serta proses bahan bakar nuklir. "Politeknik Nuklir terus beradaptasi dan melakukan penyesuaian untuk merespons berbagai perubahan, terutama terkait kompetensi yang wajib dimiliki oleh para lulusannya," ujarnya.
Penerapan transformative learning tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kemampuan teknis mahasiswa. Mereka juga dilatih bekerja dalam kelompok, berkomunikasi, membaca persoalan, serta mencari solusi yang dapat diterapkan.
"Melalui proyek ini, mahasiswa dilatih untuk mampu bekerja sama, berkomunikasi dengan baik, serta kepekaan dalam melihat suatu permasalahan untuk kemudian dicarikan solusinya secara nyata," kata Zainal.
Pada 2026, Poltek Nuklir meluluskan 104 Sarjana Terapan dari tiga program studi, yakni Teknokimia Nuklir, Elektronika Instrumentasi, dan Elektro Mekanika. Sebanyak 78 lulusan di antaranya meraih predikat cum laude.
Zainal menambahkan, seluruh wisudawan telah dibekali sertifikasi kompetensi industri yang spesifik. Selain itu, 100 persen lulusan telah menyelesaikan praktik kerja di berbagai industri strategis dan pusat riset. Bekal tersebut diharapkan dapat membuat lulusan lebih siap menghadapi kebutuhan industri sekaligus mendukung agenda pengembangan teknologi nuklir nasional.