Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Angka Hipertensi di Jogja Tinggi, Begini Antisipasinya
Pengecekan tekanan darah. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
  • Prevalensi hipertensi di DIY mencapai 31,8 persen pada SKI 2023, melampaui angka nasional 30,8 persen, meski cenderung menurun dibandingkan 2018.
  • Konsumsi natrium tinggi dan bertambahnya penduduk lansia menjadi perhatian, sementara risiko hipertensi meningkat seiring usia sehingga pengendalian tekanan darah perlu konsisten.
  • Hingga Juli 2026, 44,90 persen pasien hipertensi terdaftar di Kota Yogyakarta tidak tercatat kontrol setahun; pemantauan rumah rutin dan pencatatan hasil dianjurkan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Yogyakarta, IDN Times – Hipertensi masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi hipertensi di DIY mencapai 31,8 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan angka nasional yang berada di level 30,8 persen.

Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Hipertensi Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Bagus Andi Pramono, mengatakan angka tersebut sebenarnya menunjukkan kecenderungan penurunan dibandingkan prevalensi pada 2018. Namun, penurunannya belum signifikan.

"Di tahun 2023 ada Survei Kesehatan Indonesia dan prevalensi hipertensi di Indonesia 30,8 persen. Di Jogja sekitar 31,8 persen. Kecenderungannya secara umum turun dibandingkan data prevalensi 2018, meskipun tidak terlalu signifikan," ujar Bagus, saat konferensi pers kerja sama OMRON Healthcare Indonesia dan Datascrip Service Center di Yogyakarta, Kamis (20/8/2026).

Pola konsumsi hingga penduduk lansia jadi perhatian

Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Hipertensi Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Bagus Andi Pramono. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Bagus menilai pola konsumsi masyarakat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam pengendalian hipertensi. Salah satunya adalah konsumsi natrium yang masih cukup tinggi. Menurutnya, makanan yang memiliki cita rasa asin atau gurih cukup dekat dengan pola makan masyarakat Yogyakarta. Konsumsi garam yang berlebihan dapat menjadi salah satu faktor risiko meningkatnya tekanan darah.

“Konsumsi natrium masih cukup tinggi. Garam dan makanan yang banyak mengandung natrium masih cukup sering dikonsumsi masyarakat. Itu menjadi salah satu faktor yang menyebabkan prevalensi tekanan darah tinggi di Indonesia maupun Yogyakarta,” jelasnya.

Ia menambahkan, anggapan bahwa pola makan masyarakat Yogyakarta hanya identik dengan makanan manis juga perlu dilihat lebih luas. Saat ini, makanan tradisional seperti gudeg telah banyak mengalami penyesuaian cita rasa karena menjadi kuliner yang dikonsumsi masyarakat dari berbagai daerah.

Selain pola makan, faktor demografi juga menjadi perhatian. Yogyakarta termasuk daerah dengan proporsi penduduk lanjut usia yang cukup besar. Bagus mengatakan kondisi tersebut salah satunya dipengaruhi oleh banyaknya masyarakat dari luar daerah yang memilih tinggal di Yogyakarta setelah memasuki masa pensiun. Hal ini membuat komposisi penduduk usia lanjut di DIY berpotensi terus bertambah.

"Secara demografis, Jogja termasuk daerah yang banyak orang tuanya. Banyak orang dari luar kota yang ketika sudah pensiun kemudian tinggal di Jogja. Dalam sekitar 10 tahun mendatang, jumlah penduduk lanjut usia di Jogja diperkirakan akan semakin bertambah," katanya.

Pertambahan populasi lansia menjadi tantangan tersendiri karena risiko hipertensi cenderung meningkat seiring bertambahnya usia. Karena itu, pengendalian tekanan darah perlu dilakukan secara konsisten, terutama pada kelompok usia lanjut.

Hampir 45 persen pasien tak tercatat kontrol selama setahun

Pengecekan tekanan darah. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Tantangan pengendalian hipertensi juga terlihat dari kesinambungan pemantauan pasien. Data HEARTS Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta hingga Juli 2026 memperkirakan terdapat 97.362 penduduk berusia 15 tahun ke atas dengan hipertensi.

Dari pasien hipertensi yang telah terdaftar, sebanyak 44,90 persen tidak tercatat memiliki kunjungan dalam 12 bulan terakhir. Data tersebut menunjukkan masih adanya persoalan dalam memastikan pasien melakukan pemantauan dan pengelolaan hipertensi secara berkelanjutan.

Bagus menegaskan pengendalian hipertensi tidak cukup hanya dilakukan ketika pasien datang ke fasilitas kesehatan. Pemantauan tekanan darah secara rutin di rumah juga penting untuk mengetahui perubahan kondisi pasien.

"Hipertensi merupakan kondisi yang membutuhkan pengelolaan jangka panjang. Karena tekanan darah dapat berubah dari waktu ke waktu, pemantauan secara berkala penting untuk melihat apakah tekanan darah berada dalam target dan bagaimana respons seseorang terhadap pengobatan," jelasnya.

Pemantauan di rumah, lanjut dia, dapat memberikan gambaran tekanan darah seseorang ketika menjalani aktivitas sehari-hari. Namun, pengukuran harus dilakukan secara konsisten menggunakan perangkat yang tervalidasi serta dengan metode pengukuran yang benar.

Bagus mengatakan masyarakat tidak cukup hanya mengetahui angka tekanan darahnya. Mereka juga perlu memahami cara mengukur tekanan darah dengan benar dan mencatat hasilnya secara rutin. "Hasil pengukuran di rumah juga dapat menjadi informasi tambahan bagi tenaga kesehatan dalam mengevaluasi kondisi pasien. Masyarakat tidak hanya perlu mengetahui angka tekanan darahnya, tetapi juga memahami cara mengukurnya dengan benar dan mencatat hasilnya secara konsisten," ujarnya.

Catatan tersebut nantinya dapat dibawa ketika pasien berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Dengan begitu, dokter memiliki informasi tambahan untuk mengevaluasi kondisi dan menentukan langkah pengelolaan hipertensi.

Dukung pengecekan secara mandiri

Direktur OMRON Healthcare Indonesia, Tomoaki Watanabe. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Dalam mendukung pemantauan tekanan darah secara mandiri, OMRON Healthcare Indonesia memperkuat pemanfaatan OMRON Experience Center (OEC) di Yogyakarta melalui kerja sama dengan Datascrip Service Center.

Direktur OMRON Healthcare Indonesia, Tomoaki Watanabe mengatakan keberadaan layanan tersebut diharapkan dapat memudahkan masyarakat memperoleh informasi sekaligus layanan purna jual perangkat kesehatan. "Sejalan dengan misi global Going for ZERO, OMRON berkomitmen untuk membantu masyarakat menurunkan risiko stroke dan serangan jantung melalui pencegahan dan pemantauan kesehatan yang lebih baik," ujar Tomoaki.

Menurutnya, pengelolaan hipertensi membutuhkan pemantauan yang konsisten, termasuk ketika masyarakat melakukan pemeriksaan secara mandiri di rumah. OMRON Experience Center Yogyakarta berlokasi di Datascrip Service Center, Jalan Gajahmada Nomor 21 Kavling R-2, Pakualaman, Yogyakarta. Pusat layanan ini menyediakan perbaikan dan kalibrasi perangkat OMRON.

Selain tensimeter digital, masyarakat juga dapat memperoleh informasi dan mencoba berbagai perangkat kesehatan lainnya, seperti monitor komposisi tubuh, nebulizer, perangkat manajemen nyeri, dan termometer digital.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article