Pengecekan tekanan darah. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
Tantangan pengendalian hipertensi juga terlihat dari kesinambungan pemantauan pasien. Data HEARTS Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta hingga Juli 2026 memperkirakan terdapat 97.362 penduduk berusia 15 tahun ke atas dengan hipertensi.
Dari pasien hipertensi yang telah terdaftar, sebanyak 44,90 persen tidak tercatat memiliki kunjungan dalam 12 bulan terakhir. Data tersebut menunjukkan masih adanya persoalan dalam memastikan pasien melakukan pemantauan dan pengelolaan hipertensi secara berkelanjutan.
Bagus menegaskan pengendalian hipertensi tidak cukup hanya dilakukan ketika pasien datang ke fasilitas kesehatan. Pemantauan tekanan darah secara rutin di rumah juga penting untuk mengetahui perubahan kondisi pasien.
"Hipertensi merupakan kondisi yang membutuhkan pengelolaan jangka panjang. Karena tekanan darah dapat berubah dari waktu ke waktu, pemantauan secara berkala penting untuk melihat apakah tekanan darah berada dalam target dan bagaimana respons seseorang terhadap pengobatan," jelasnya.
Pemantauan di rumah, lanjut dia, dapat memberikan gambaran tekanan darah seseorang ketika menjalani aktivitas sehari-hari. Namun, pengukuran harus dilakukan secara konsisten menggunakan perangkat yang tervalidasi serta dengan metode pengukuran yang benar.
Bagus mengatakan masyarakat tidak cukup hanya mengetahui angka tekanan darahnya. Mereka juga perlu memahami cara mengukur tekanan darah dengan benar dan mencatat hasilnya secara rutin. "Hasil pengukuran di rumah juga dapat menjadi informasi tambahan bagi tenaga kesehatan dalam mengevaluasi kondisi pasien. Masyarakat tidak hanya perlu mengetahui angka tekanan darahnya, tetapi juga memahami cara mengukurnya dengan benar dan mencatat hasilnya secara konsisten," ujarnya.
Catatan tersebut nantinya dapat dibawa ketika pasien berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Dengan begitu, dokter memiliki informasi tambahan untuk mengevaluasi kondisi dan menentukan langkah pengelolaan hipertensi.