Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Aktivitas Merapi di Atas Normal, BPPTKG: Erupsi Makin Dekat

Gunung Merapi kembali mengalami erupsi pada Jumat (10/4) pagi pukul 09.10 WIB.  Dok. BPPTKG
Gunung Merapi kembali mengalami erupsi pada Jumat (10/4) pagi pukul 09.10 WIB.  Dok. BPPTKG

Sleman, IDN Times - Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyebutkan berdasarkan data aktivitas Gunung Merapi saat ini semakin intensif.

Hal ini diketahui dari kejadian gempa rata-rata gempa vulkanik dangkal (VTB) terjadi 6 kali per hari serta dan gempa multi phase (MP) sebanyak 83 kali per hari. Sedangkan deformasi atau perubahan bentuk gunung hingga 2 cm per hari. 

Menurut Kepala BPPTKG, Hanik Humaida aktivitas tersebut menunjukkan bahwa erupsi berikutnya sudah semakin dekat.

"Aktivitas vulkanik yang terus berlanjut sampai hari ini berdasarkan berbagai data pemantauan pasca letusan tanggal 21 Juni 2020 teramati deformasi berupa pemendekan jarak dari Pos Babadan diiringi dengan peningkatan aktivitas kegempaan," ungkap Hanik dalam peringatan Dasawarsa Erupsi Merapi pada Senin (26/10/2020).

 

1. Erupsi berikutnya diperkirakan tidak akan sebesar 2010

Ilustrasi Merapi. IDN Times/Arief Rahmat
Ilustrasi Merapi. IDN Times/Arief Rahmat

Hanik menjelaskan berdasarkan data pantauan diperkirakan erupsi berikutnya tidak akan sebesar letusan yang terjadi di tahun 2010, dan cenderung akan mengikuti perilaku erupsi tahun 2006. 

"Dibandingkan dengan erupsi tahun 2010 dan tahun 2006, aktivitas Gunung Merapi saat ini sangat berbeda," papar Hanik.

 

 

2. Indeks eksplosif Merapi saat ini lenih rendah dibandingkan tahun 2006 dan 2010

Ilustrasi. Wisatawan melihat letusan Gunung Merapi dari Bukit Klangon, Cangkringan, Sleman, Selasa (3/3/2020). (ANTARA FOTO/Rizky Tulus)
Ilustrasi. Wisatawan melihat letusan Gunung Merapi dari Bukit Klangon, Cangkringan, Sleman, Selasa (3/3/2020). (ANTARA FOTO/Rizky Tulus)

Menurut Hanik, erupsi yang terjadi terus-menerus merupakan rangkaian panjang yang dimulai sejak bulan Mei tahun 2018 di mana didominasi keluarnya gas. Sedangkan sifat eksplosif saat ini tidak akan sama dengan tahun 2006 dan 2010.  

"Indeks terendah yaitu 1 atau 1/1000 dibandingkan dengan indeks eksplosifitas erupsi tahun 2006 dan 2010," terangnya.

3. Harus beradaptasi di masa pandemik

Suasana Pandemik COVID-19 di Indonesia. ANTARA FOTO/Arnas Padda
Suasana Pandemik COVID-19 di Indonesia. ANTARA FOTO/Arnas Padda

Lebih lanjut Hanik memaparkan hingga saat ini status Gunung Merapi masih waspada, namun semua pihak harus bersiap untuk menghadapi krisis yang kemungkinan akan terjadi. Terlebih di masa pandemik diperlukan penanganan mitigasi yang berbeda.

"Belum berakhirnya masa pandemik tentunya penanganan mitigasi bencana sangat berbeda ketika bencana terjadi di saat tidak ada pandemik. Bagaimana data-data pemantauan harus tetap tersedia secara continue, evaluasi dan analisis data harus tetap dapat dilakukan walaupun melaksanakan WFH," paparnya.

 

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febriana Sintasari
Siti Umaiyah
Febriana Sintasari
EditorFebriana Sintasari
Follow Us

Latest News Jogja

See More

Keong Macan Laut Jadi Buruan Nelayan di Bantul, Konon Bikin Greng

15 Des 2025, 16:48 WIBNews