Munjid menilai perintah Panglima TNI tersebut menimbulkan banyak tanda tanya di masyarakat, terlebih karena telegram yang memuat perintah itu semula bersifat internal tapi bocor ke publik.
Menurutnya, simpang siur informasi yang muncul di internal TNI turut memperbesar pertanyaan publik mengenai urgensi kebijakan tersebut.
Munjid menuturkan, jika alasan peningkatan status siaga berkaitan dengan konflik di Timur Tengah, maka seharusnya ada penjelasan yang lebih jelas mengenai potensi ancaman langsung terhadap Indonesia.
"(Alasan) persisnya apa? Orang tidak melihat yang sifatnya langsung, ya, berhubungan dengan kita. Kalau pengamanan untuk kantor-kantor kedutaan, terutama Kedutaan Amerika membutuhkan ekstra, ya oke. Kalau aset-aset Amerika yang ada di Indonesia perlu mendapat pengawasan lebih, oke. Tapi apakah itu responnya harus dengan Siaga 1? Yang artinya seluruh angkatan menyiagakan personel dan senjata," kata Munjid bertanya-tanya.
Apabila memang ada informasi intelijen tertentu yang menjadi dasar kebijakan tersebut, Munjid bilang, maka TNI tetap perlu memberikan penjelasan yang memadai kepada publik.
"Tetapi ketika mengambil kebijakan seperti itu dan apalagi sekarang, sebetulnya kalau telegramnya enggak nyebar itu enggak apa-apa, tapi sekarang kan sudah bocor. Jadi karena sudah bocor ya TNI perlu memberikan klarifikasi," kata dia.
Penjelasan terbuka mengenai dasar kebijakan tersebut dimaksudkan agar tidak menimbulkan spekulasi di masyarakat. Bagaimana telegram yang sifatnya internal ini bisa bocor atau menjelaskan apa yang disebut dengan potensi gangguan keamanan.
Ia menilai langkah klarifikasi penting karena kebocoran telegram justru memicu keresahan publik, alih-alih meningkatkan rasa aman.
"Kalau alasannya siap-siap kan memang mestinya kita siap setiap saat. Tapi sekarang ini saya kira perlu ada penjelasan dari TNI dan supaya keresahan, banyak pertanyaan dan keresahan yang muncul di tengah masyarakat ini bisa diatasi," tegas Munjid.