Pakar Komunikasi Politik UGM, Nyarwi Ahmad. (Tangkapan layar YouTube.com/IDN Times)
Menurut Nyarwi, pertemuan antara ketiga partai politik tersebut setidaknya menyiratkan empat hal.
Pertama, pertemuan ini dilakukan oleh parpol yang belum mempunyai tokoh populer dengan tingkat elektabilitas yang bisa diandalkan untuk Pilpres 2024 yang akan datang. Hal ini akan menimbulkan dua konsekuensi bagi para tokoh yang selama ini dianggap populer dan memiliki elektabilitas potensial oleh lembaga-lembaga survei kredibel.
Apabila Golkar, PAN, dan PPP menyelenggarakan konvensi capres secara terbuka dan demokratis, tokoh-tokoh potensial non ketua umum partai, yang sudah populer dan memiliki potensi akselerasi elektabilitas bagus, punya peluang besar dicalonkan oleh koalisi yang dibangun ketiga partai ini.
"Sebaliknya, jika ketiga partai ini bersepakat untuk mencalonkan pasangan capres-cawapres dari dari kalangan pemimpin maupun tokoh partai tersebut, maka peluang mereka untuk mendapatkan tiket capres atau cawapres dari koalisi dari ketiga partai ini akan lenyap," paparnya.
Menilik tingkat popularitas dan elektabilitas dari pimpinan Partai Golkar, PAN dan PPP, Nyarwi mengatakan, kecil kemungkinan untuk terjadi kondisi yang kedua. Kemungkinan, ketiganya mengambil jalan tengah untuk mendapatkan capres yang paling potensial lewat konvensi.
"Namun, untuk posisi Cawapres kemungkinan salah satu dari ketiga ketua umum parpol ini. Dari ketiganya, peluang Airlangga Hartarto untuk dicalonkan sebagai Cawapres tampaknya paling besar," ungkap pakar komunikasi politik Universitas Gadjah Mada (UGM) ini.