Comscore Tracker

Cerita dari Garis Depan, Tak Sua Keluarga di Hari Raya demi Pengabdian

Mereka merayakan Lebaran dengan seragam dan baju hazmat

Yogyakarta, IDN Times - Pemerintah Pusat resmi melarang aktivitas mudik Lebaran pada 6-17 Mei 2021 lewat Surat Edaran Kepala Satgas Penanganan COVID-19 Nomor 13 Tahun 2021 tentang Peniadaan Mudik pada Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri 1442 Hijriah. Tak hanya itu, Pemerintah turut memangkas cuti bersama Lebaran menjadi satu hari saja, yaitu pada 12 Mei 2021.

Pemerintah pun menerapkan sanksi tegas bagi pejabat dan aparatur sipil negara (ASN) yang ketahuan mudik. Perjalanan ke luar kota juga diperketat disertai penjagaan di perbatasan antarwilayah. Aturan ini membuat masyarakat harus rela menahan diri untuk kembali tidak berkumpul dengan keluarga pada Hari Raya Idul Fitri tahun ini.

Alasan dikeluarkannya aturan-aturan ini sederhana, agar perantau tak membawa virus corona pulang ke kampung halaman dan membahayakan sanak famili. Apalagi, penularan virus ini masih belum dapat dikendalikan.

Berdasarkan data Center for Systems Science and Engineering (CSSE) Johns Hopkins University per 12 Mei 2021, rerata kasus konfirmasi COVID-19 di Indonesia dalam 7 hari terakhir adalah 5.221 kasus. Sementara, Our World in Data mencatat jumlah penduduk Indonesia yang sudah divaksinasi per 11 Mei sebanyak 13.467.777 atau 5 persen dari populasi.

Namun, kerinduan untuk menahan diri bersua keluarga di saat hari raya sebenarnya sudah biasa dirasakan oleh beberapa profesi tertentu. Karena panggilan tugas dan rasa pengabdian, mereka harus tetap berada di garis depan untuk melayani masyarakat. Jangankan mudik, berkumpul dengan keluarga inti pun urung mereka lakukan.

Ini dia beberapa kisah mereka yang dihimpun IDN Times dari berbagai daerah. 

Baca Juga: Kisah Perantau di Yogyakarta, 2 Tahun Menahan Rindu Bertemu Keluarga

1. Kompol Irawan merayakan Lebaran di jalan untuk pantau pos mudik

Cerita dari Garis Depan, Tak Sua Keluarga di Hari Raya demi PengabdianKompol Irawan (paling kanan) sudah terbiasa bertugas di lapangan saat momen-momen hari besar. (Dok. IDN Times/ Istimewa)

Sejak diberlakukannya larangan mudik, Kasat Lantas Polresta Balikpapan, Kalimantan Timur, Kompol Irawan Setyono sudah sibuk dengan berbagai persiapan dan monitoring. Pria asal Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, ini harus bertugas tepat saat hari takbir berkumandang.

Dirinya sudah dua kali lebaran ini menjabat sebagai Kasat Lantas Polresta Balikpapan. Namun sebenarnya ia sudah tiga tahun tidak mudik. Baginya ini adalah bentuk pengabdian untuk negara. 

"Apalagi menghadapi hari besar seperti ini, pasti kami bertugas. Mungkin sebelum masa pandemik yang berbeda adalah keadaan lapangan dan sasaran pengawasan. Tak lagi fokus di kemacetan saja. Tapi sekarang pengawasan mudik," ungkapnya Senin (10/5/21).

Irawan melihat tugas ini sebagai salah satu kewajiban dan mau tak mau harus dijalani. Ia dan rekan-rekannya di Satuan Lantas Polres Balikpapan baru akan mendapatkan kesempatan untuk berkumpul dengan keluarga inti setelah momen Idul Fitri.

"Kan sebagai Polri sama dengan ASN atau TNI kami ada anjuran untuk tak mudik. Ini juga demi menekan penyebaran COVID-19," terangnya. 

Istri dan anak Irawan yang selalu ikut serta berpindah ke kota tempat dirinya berdinas, mau tak mau harus memahami konsekuensi dari profesi Irawan yang kerap tak bisa berkumpul bersama keluarga di momen-momen hari besar. Momen seperti lebaran dan tahun baru memang jadi saat dirinya harus bertugas yang dibutuhkan untuk pelayanan masyarakat.

Tak hanya sang istri, keluarga besarnya pun paham akan tugas yang harus dilaksanakan sebagai abdi negara. Apalagi ayahnya juga pensiunan abdi negara. 

"Jadi ayah dan ibu saya juga sudah paham momen seperti ini mengharuskan saya bertugas. Orang tua saya di rumah saat ini bersama adik saya yang paling kecil. Karena saya dengan adik saya yang nomor dua sama-sama merantau. Adik saya nomor dua di TNI," ujar Irawan lagi.

Silaturahmi bersama keluarga besar selama ini ia lakukan melalui virtual, yakni video call. Meski diakuinya sang Ibu kerap tetap rindu dan berharap anak-anaknya bisa berkumpul. 

Baca Juga: Saat Kompol Irawan pun Lebaran di Jalan untuk Mengatur Lalu Lintas

2. Rindu mudik, Ipda Trianto justru harus menghalau pemudik yang ngeyel

Cerita dari Garis Depan, Tak Sua Keluarga di Hari Raya demi PengabdianIlustrasi petugas polisi menghalau pemudik. (ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah)

Hal serupa dirasakan Ipda Trianto yang bertugas di Pos Penyekatan Padalarang, Bandung Barat, Jawa Barat. Ketika orang lain menikmati momen hari raya, dirinya justru harus memeras keringat demi menghalau para pemudik yang ngeyel. Apalagi, sepekan di akhir Ramadan ini cukup melelahkan. Petugas kepolisian harus berjaga 24 jam.

"Di saat yang lain colong-colongan dari petugas untuk mudik, saya yang ingin mudik malah menahan para pemudik," ujar Trianto saat ditemui di Pos Penyekatan Padalarang, Rabu (12/5/2021).

Keinginan Trianto untuk bertemu keluarga di kampung halamannya di Jawa Timur sebenarnya sudah tak terbendung. Sebab, sudah dua Lebaran kesempatan untuk kumpul keluarga tidak pernah bisa terlaksana. Momen maaf-maafan pun hanya dituntaskan lewat platform digital.

"Kalau dibilang kangen ya kangen lah. Orang tua juga kan sekarang sudah tua di kampung. Yang penting kita pastikan mereka sehat, komunikasi kita lewat video call kalau enggak pakai Zoom Meeting," sebut Trianto.

Baca Juga: Kisah Petugas di Pos Penyekatan Padalarang yang Juga Rindu Mudik

3. Nakes perawat pasien COVID-19 berharap pengabdiannya jadi bekal dan ladang pahala

Cerita dari Garis Depan, Tak Sua Keluarga di Hari Raya demi PengabdianSurya, perawat yang rawat pasien COVID-19 di RS dr GL Tobing Tanjung Morawa, Deli Serdang (Dok.IDN Times/istimewa)

Tak hanya mereka yang bertugas di pos penyekatan yang rindu berkumpul dengan keluarga di hari raya Lebaran. Tenaga kesehatan (nakes) yang berurusan dengan COVID-19 juga harus menahan rasa kangen untuk sekadar mencium tangan orangtua di kampung halaman. 

Salah satunya Surya Agus Winanda (30), perawat di Rumah Sakit (RS) dr. GL Tobing Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Ia tak bisa pulang kampung ke Rantau Prapat karena harus siaga merawat pasien COVID-19. Tempat kerjanya merupakan salah satu RS rujukan untuk penyakit tersebut. Sebagai nakes, melayani pasien dengan profesional sudah menjadi tanggung jawabnya.

Meski merindukan mudik saat Lebaran, Surya mengaku tak kecewa meski tidak bisa pulang. Menurutnya, pekerjaan yang dia lakukan adalah hal yang amat penting dan menyangkut hidup orang banyak sehingga tak bisa ia abaikan.

"Sebagai perawat sudah menjadi pilihan saya, saya tetap berusaha profesional melayani pasien sepenuh hati, insyaallah semua kerja keras dan pengabdian saya bisa menjadi bekal dan ladang pahala," tuturnya kepada IDN Times, Minggu (9/5/2021).

Untuk mengobati rasa rindu, Surya biasa bercengkerama bersama pasien dan teman-teman di rumah sakit yang sudah dianggapnya seperti keluarga sendiri.

"Harapan saya, pemerintah bisa kerja sama menanggulangi pandemik ini, dan masyarakat tetap memakai masker jika harus keluar dan mencuci tangan dengan sabun. Dengan begitu pemutusan mata rantai COVID-19 bisa lebih maksimal dan pandemik bisa diakhiri," harap Surya.

Baca Juga: Cerita Nakes yang Harus Lebaran di Rumah Sakit demi Pasien COVID-19 

4. Hari libur Dokter Adit menyesuaikan jumlah sampel COVID-19 yang masuk

Cerita dari Garis Depan, Tak Sua Keluarga di Hari Raya demi PengabdianIlustrasi laboratorium (ANTARA FOTO/Moch Asim)

Dr. Aditya yang bekerja sebagai Kepala Laboratorium Kesehatan Provinsi Lampung juga harus menahan kesedihan karena tidak bersua dengan sanak familinya. Pria yang akrab disapa dr Adit ini mengaku ingin sekali berziarah ke makam orang tuanya di Sekayu, Sumatera Selatan. Terakhir kali, ia melakukan ziarah tiga tahun lalu, tepatnya pada 2018.

"Tapi saya masih punya mertua tinggal satu-satunya di Bogor. Biasanya kan kita kalau ada libur nyempetin. Tapi udah dua tahun ini gak ke sana. Penginnya sih pengin banget (pulang kampung) cuma ya udahlah daripada nanti kita bawa virus," tuturnya kepada IDN Times, Rabu (5/5/2021).

Selama pandemik COVID-19, jadwal libur dr Adit menyesuaikan jumlah sampel COVID-19 yang masuk ke laboratoriumnya. Sebagai kepala lab, ia bertugas untuk segera mengecek hasil sampel yang telah diperiksa. Saat hari raya pun, ia tetap bekerja memeriksa sampel-sampel tersebut.

"Kalau pengalaman Lebaran tahun lalu kan sampelnya tinggi itu jadi kita gak ada libur. Liburnya cuma di hari-H. Sehari sebelum masih kerja dan sehari sesudah itu langsung kerja. Karena kita juga khawatir kalau gak meriksa sampel nanti gimana," terangnya.

Tahun lalu, waktu libur satu hari yang diperolehnya di hari raya ia gunakan untuk mengajak keluarga keluar sejenak supaya tidak jenuh. Atau menggantikan sang istri mengajari anak-anak belajar.

"Paling keluar sebentar itu pun gak jauh-jauh. Anak-anak suka ke Gramed jadi ya udah ke Gramed aja gak papa," tuturnya.

Baca Juga: Suka Duka Dokter dan Polisi di Lampung, Tetap Bertugas Saat Idul Fitri

5. Di Tabanan, Bali, sejumlah nakes yang muslim tetap bertugas

Cerita dari Garis Depan, Tak Sua Keluarga di Hari Raya demi PengabdianNakes di RSUD Tabanan. (Dok.IDN Times/RSUD Tabanan)

Junita Suswati, bidan yang bertugas di Puskesmas Selemadeg Barat, Tabanan, Bali, dua kali tak bisa bersua dengan kakek neneknya di Jember, Jawa Timur. Junita mengaku sangat ingin mudik untuk berkumpul bersama keluarga besar.

"Sudah dua kali tidak mudik. Semuanya karena pandemik COVID-19. Untuk tahun ini karena ada larangan juga dari pemerintah," ujarnya, Senin (10/5/2021).

Junita sedikit beruntung, ia tinggal bersama orangtuanya di Kabupaten Tabanan. Meski begitu, dirinya merasa sedih karena kakek dan neneknya menangis setelah mengetahui keluarganya tidak bisa mudik hingga dua kali lebaran.

"Mereka sampai nangis. Itu yang buat sedih. Untungnya sudah ada video call. Jadi nanti silaturahmi lewat video call saja."

Sementara itu, Piskha Maryanto, perawat di High Care Unit (HCU) RSUD Tabanan, memutuskan tetap bertugas pada malam 1 Syawal 1442 H. 

"Dulu pada saat tidak ada pendemik, saya biasanya minta libur. Tetapi karena sekarang pandemik, saya memutuskan untuk tetap bekerja seperti biasa. Lagipula paginya masih bisa berhari raya dan sembahyang di rumah," ungkapnya.

Keluarganya pun, kata dia, tidak keberatan dan memaklumi profesinya sebagai seorang perawat. "Ini memang sudah menjadi tugas saya menjadi perawat. Keluarga pun menerima dan tidak keberatan," Pungkasnya.

Baca Juga: Catatan Kecil Nakes Muslim di Tabanan, Tetap Bertugas Hingga Tak Mudik

6. Bagi nakes, hazmat adalah baju lebaran mereka

Cerita dari Garis Depan, Tak Sua Keluarga di Hari Raya demi PengabdianIlustrasi. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

Tak hanya tidak bisa merayakan Lebaran bersama keluarga, para nakes juga merasa waswas jika kasus COVID-19 kembali membludak pasca-Lebaran. Hal inilah yang dirasakan Ina (nama samaran), salah satu perawat pasien COVID-19 di RSUD Banten.

Rasa waswas ini bertambah kala dia melihat pemberitaan bahwa pusat perbelanjaan ramai diserbu warga tanpa memperhatikan protokol kesehatan demi membeli baju Lebaran. Padahal, tidak terpikirkan oleh para nakes yang bertugas untuk membeli baju baru.

"Sedihnya, kita gak mikirin beli baju lebaran karena kita jaga (merawat pasien corona). Baju lebarannya hazmat aja gitu," katanya, Sabtu (8/5/2021).

Sebagai nakes yang setiap hari berjibaku dengan COVID-19, Ina mengaku senang dengan kebijakan peniadaan mudik tahun ini. Meski di dalam hati, para nakes merasa sedih karena tidak bisa bersilaturahmi dengan keluarga. Bahkan, mereka harus tetap bertugas merawat pasien COVID-19.

"Yang mau mudik tahan dulu karena banyak lansia yang kena (corona) kembali seperti awal (pandemik). Mudah-mudahan ada larangan mudik, gak banyak pasiennya," katanya.

Baca Juga: Bertugas Saat Hari Raya, Nakes COVID-19: Baju Lebaran Kami Hazmat

Cerita dari Garis Depan, Tak Sua Keluarga di Hari Raya demi PengabdianPoin-poin larangan mudik. IDN Times/Aan Pranata

Artikel ini adalah hasil liputan kolaborasi dari IDN Times Hyperlocal. Tim pewarta: Fatmawati, Bagus F, Yuda Almerio, Indah Permatasari, Silviana, Ni Ketut Wira Sanjiwani, Ervan Masbanjar, Khaerul Anwar.

Baca Juga: Larangan Mudik: Menyekat Wilayah, Membendung yang Ingin Pulang

Topic:

  • Paulus Risang

Berita Terkini Lainnya