Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Nasi Gandul Khas Pati Depan Pasar Wates, Kuliner yang Lahir dari PHK

Potret Angkringan Nasi Gandul Khas Pati Depan Pasar Wates, Kulon Progo
Potret Angkringan Nasi Gandul Khas Pati Depan Pasar Wates, Kulon Progo (dok.Bagas Wikantyasa)
Intinya sih...
  • Kisah Sutikno, mantan karyawan pabrik sepatu yang kena PHK dan memulai usaha nasi gandul di Pasar Wates sejak 2007.
  • Sutikno berhasil bertahan lebih dari sepuluh tahun dengan cita rasa nasi gandul mirip masakan Yogya, serta berbagi resep kepada siapa pun yang membutuhkan.
  • Nasi Gandul Khas Pati depan Pasar Wates bukan sekadar angkringan, tapi juga menjadi tempat kumpul berbagai komunitas di Kulon Progo.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kulon Progo, IDN Times - Kapanewon Wates, Kabupaten Kulon Progo bukan area yang besar. Namun, di sini kamu bisa menemukan berbagai hal menarik, termasuk soal makanan. Salah satunya terletak di pojok Pasar Wates dekat lampu APILL atau yang orang lokal menyebutnya bangjo. Di sana setiap sore, berdiri sebuah warung tenda yang menjajakan makanan khas Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Bukan baru buka setahun atau dua tahun, tempat makan ini sudah ada sejak 2007 yang didirikan oleh seorang mantan karyawan pabrik yang kena Putus Hubungan Kerja (PHK). Enggan menyerah, Sutikno, atau yang kini lebih sering disapa Gandul tersebut memberanikan diri menjadi bos dari usaha sederhananya.

1. Kena PHK pabrik sepatu dan upaya bertahan hidup

Potret Angkringan Nasi Gandul Khas Pati Depan Pasar Wates, Kulon Progo
Potret Angkringan Nasi Gandul Khas Pati Depan Pasar Wates, Kulon Progo (dok. Bagas Wikantyasa)

Senin (24/11/2025) sore, langit Wates cerah dengan semburat jingga yang menandakan malam hampir tiba. Toko-toko bagian depan di Pasar Wates sudah banyak yang tutup dan berganti tenda-tenda terpal yang siap diisi oleh berbagai macam kuliner, termasuk Angkringan Nasi Gandul Khas Pati mulai ramai hilir mudik pembeli.

"Saya usaha di sini semenjak 2007, kebetulan dulu mantan karyawan pabrik dan kebetulan juga dapat PHK. Dua-duanya sama istri saya. Akhirnya saya pulang ke Wates dengan catatan membuat usaha sendiri daripada kerja di pabrik terus gak ada peningkatannya." Kata Sutikno membuka cerita saat ditemui di tempatnya berjualan.

Awalnya ia tak langsung menjajakan nasi gandul, melainkan angkringan biasa dengan menu nasi kucing dan gorengan karena keterbatasan modal. Namun tiga bulan buka, ia tak kunjung menggaet pelanggan. Ia mengaku saat itu tak punya banyak teman padahal kebanyakan angkringan ramai dikunjungi karena jadi tempat tongkrongan komunitas.

Ia putar otak, bagaimana caranya berkembang dan bertahan sampai akhirnya memutuskan mengenalkan kuliner khas tempat tinggalnya, Pati, ke Wates.

"Saya kemudian inisiatif nambah nasi gandul. Kebetulan juga keluarga saya juga banyak yang berjualan nasi gandul itu." Ungkapnya disela mengingat masa awal perjuangannya.

2. Tak keberatan berbagi resep bagi yang membutuhkan

Potret Angkringan Nasi Gandul Khas Pati Depan Pasar Wates, Kulon Progo
Potret Angkringan Nasi Gandul Khas Pati Depan Pasar Wates, Kulon Progo (dok. Bagas Wikantyasa)

"Biarpun sekecil apa pun usaha kita, kita adalah bosnya." Kata Sutikno bangga.

Ia jelas patut berbangga, berbekal resep keluarga dan pemberian orang baik, Sutikno berhasil mengembangkan usahanya dan bertahan lebih dari sepuluh tahun lamanya di era gempuran pasang surut bisnis kuliner. Meski begitu, ia mengaku bahwa waktu sebelum pandemi adalah prime time-nya di mana seratus porsi bisa ia jual dalam semalam. Namun sampai kini, per malamnya ia hanya bisa menjual antara 60-70 porsi.

Di satu sisi, Sutikno memutuskan tak mau menjadi wong medit alias orang pelit. Ia belajar dari masa lalu di mana ia pernah diberi resep oleh seorang pemilik rumah makan nasi gandul terkenal di desanya secara gratis karena orang tersebut percaya bahwa beda cara mengolah, akan menghasilkan rasa yang beda juga.

"Saya ya gitu, kalau ada orang minta resep, ya tak kasih resepnya. Prinsipnya ya gitu, beda tangan ya beda rasa. Kalau dia mau jualan ya situ, rezekinya masing-masing." Tambahnya.

3. Punya cita rasa mirip masakan Yogya, nasi gandul jadi mudah diterima

Potret Angkringan Nasi Gandul Khas Pati Depan Pasar Wates, Kulon Progo
Potret Angkringan Nasi Gandul Khas Pati Depan Pasar Wates, Kulon Progo (dok.Bagas Wikantyasa)

"Nasi gandul itu aslinya perpaduan gulai sama semur. Kalau gulai itu kan masaknya pakai kunir, tapi kalau nasi gandul itu gak pakai kunir, tapi dicampur sama kecap." Jelas Sutikno.

Ia kemudian menceritakan bahwa yang bikin hidangan ini istimewa karena adanya berbagai bahan dari olahan sapi. Mulai dari lidah, paru, babat, daging, dan lain-lain. Dan dari segi rasa, tentu amat mudah diterima oleh lidah orang Yogyakarta yang terbiasa manis karena nasi gandul pun bercita rasa legit.

"Kalau paling murah itu nasi gandul biasa. Nasi gandul biasa itu nasi sama kuah saja, itu harganya cuma Rp7 ribu. Kalau nasi gandul telur Rp10 ribu. Nasi gandul ati-babat, itu Rp16 ribu. Nasi gandul daging itu Rp18 ribu, tapi kalau nasi gandul spesial campur semua, daging, ati, babat, telur Rp25 ribu."

Menariknya, nasi puss atau nasi kucing di sini tak dipatok harga tetap. Mau beli harga berapa pun, bisa dilayani. Tak ketinggalan, ada aneka gorengan, sate-satean, dan bacem ayam yang gak kalah menarik buat dicoba.

4. Tak sekadar angkringan, kini jadi tempat kumpul berbagai komunitas

Potret Angkringan Nasi Gandul Khas Pati Depan Pasar Wates, Kulon Progo
Potret Angkringan Nasi Gandul Khas Pati Depan Pasar Wates, Kulon Progo (dok. Bagas Wikantyasa)

Babat alas sejak 2007, kini Sutikno bisa dibilang berhasil mengenalkan kuliner khas Pati di lidah orang-orang Kulon Progo. Bukan sekadar yang ingin makan, tapi kini Nasi Gandul Khas Pati depan pojok Pasar Wates ini menjadi titik kumpul berbagai komunitas baik sepeda sampai suporter sepak bola.

"Kalau buka, udah siap ya setengah lima. Kalau hari-hari biasa sampai jam sebelas. Kalau weekend sampai jam dua belas, setengah satu. Kalau libur saya gak menentukan harinya. Rata-rata ngacak." Katanya menutup cerita.

Belajar dari Sutikno, kegigihan dan berani keluar dari zona nyaman akan mengantarkan pada hal-hal baik. Jalannya pun mungkin tak selalu mulus, tapi usaha tak akan mengkhianati hasil itu ada benarnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Paulus Risang
EditorPaulus Risang
Follow Us

Latest Food Jogja

See More

Nasi Gandul Khas Pati Depan Pasar Wates, Kuliner yang Lahir dari PHK

30 Nov 2025, 19:57 WIBFood