Wisuda Periode IV Universitas Ahmad Dahlan (UAD) di Jogja Expo Center, Sabtu (1/8/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
Menurutnya, kuliah di luar negeri tidak hanya mengejar gelar akademik, tetapi juga proses belajar beradaptasi, bertumbuh, dan bangkit dari berbagai tantangan. Sakis mengungkapkan, masa tersulit dialaminya saat memasuki semester dua dan tiga. Kesulitan berbahasa membuatnya sempat mempertanyakan kemampuannya untuk melanjutkan studi.
"Sejujurnya, pada semester dua dan tiga saya sempat bertanya pada diri sendiri apakah saya mampu melanjutkan. Saya kesulitan dengan bahasa dan beradaptasi dengan lingkungan baru bukanlah hal yang mudah. Bahkan, hal-hal sederhana pun terasa sulit," katanya.
Rasa ragu itu perlahan sirna berkat dukungan dari teman-teman Indonesia, mahasiswa internasional, para dosen, anggota Kantor Kerja Sama dan Urusan Internasional (KKUI), serta komunitas Thai Student Association yang selalu mendampinginya. "Mereka memberi semangat ketika saya mulai meragukan diri sendiri. Mereka mengingatkan bahwa melakukan kesalahan adalah hal yang wajar. Berkat mereka, saya terus melangkah," tuturnya.
Seiring waktu, Sakis mampu beradaptasi. Ia belajar Bahasa Indonesia sedikit demi sedikit, menjadi lebih percaya diri, serta berani mengambil berbagai kesempatan yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan. "Saya pernah gagal, saya belajar, saya bertumbuh. Ketika melihat kembali perjalanan itu, saya menyadari bahwa tempat ini tidak berubah, tetapi sayalah yang berubah. Tantangan yang dulu membuat saya takut justru membentuk saya menjadi pribadi yang berdiri di sini hari ini," ungkapnya.
Selama menempuh pendidikan di UAD, Sakis aktif mengikuti berbagai kegiatan kemahasiswaan. Pengalaman tersebut membuatnya bertemu dengan banyak orang dari beragam latar belakang dan membangun persahabatan lintas negara. Ia menilai kesuksesan tidak hanya diukur dari nilai akademik, tetapi juga dari keberanian untuk terus berkembang serta manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain.
"Kita dikenang bukan hanya karena pengetahuan yang kita miliki, tetapi juga karena integritas, kepedulian, dan dampak positif yang kita berikan di mana pun berada," ujarnya.
Di akhir pidatonya, Sakis mengajak seluruh wisudawan memanfaatkan ilmu yang telah diperoleh untuk membangun karier sekaligus mengabdi kepada masyarakat. Menurutnya, sebagai lulusan internasional, mereka memiliki peran penting sebagai jembatan yang menghubungkan berbagai budaya.
"Sebagai lulusan internasional, kita menjadi jembatan antarbudaya. Ke mana pun kehidupan membawa kita, semoga kita terus menumbuhkan saling pengertian, rasa hormat, dan perdamaian," ucap Sakis.