TNGM Pastikan Jalur Pendakian Gunung Merapi Masih Ditutup

- Balai TNGM menegaskan jalur pendakian Gunung Merapi masih ditutup karena statusnya tetap di Level III (Siaga) sejak 2020, meski muncul konten viral yang mengajak pendakian.
- Laporan BPPTKG menunjukkan aktivitas erupsi efusif Merapi masih tinggi dengan potensi awan panas dan guguran lava di sektor selatan-barat daya serta tenggara.
- Jalur pendakian melalui New Selo hingga puncak dinilai sangat berbahaya, sementara wisatawan disarankan menikmati area aman seperti OWA Kalitalang dalam radius 3,3 kilometer.
Sleman, IDN Times - Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) memastikan jalur pendakian di kawasan Gunung Merapi masih belum dibuka sampai hari ini.
Balai TNGM menegaskan bahwa status Gunung Merapi masih berada pada Level III (Siaga).
1. Muncul konten viral, pendakian belum direkomendasikan

Pernyataan itu disampaikan Kepala Balai TNGM, Heri Wibowo, menyusul beredarnya konten di media sosial yang memperlihatkan aktivitas pendakian Gunung Merapi, bahkan mengajak masyarakat untuk mendaki.
"Kegiatan pendakian Gunung Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan sejak 22 Mei 2018," kata Heri, Selasa (20/6/2026).
Balai TNGM menjelaskan larangan pendakian diberlakukan sejak 22 Mei 2018 setelah status aktivitas Gunung Merapi naik dari Level I (Normal) menjadi Level II (Waspada). Kemudian pada 5 November 2020, status kembali meningkat menjadi Level III (Siaga) dan hingga kini belum mengalami perubahan.
Dalam rekomendasi PVMBG/BPPTKG, kegiatan pendakian hanya diperbolehkan untuk kepentingan penyelidikan maupun penelitian yang berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
2. Aktivitas Merapi masih tinggi dan berpotensi menimbulkan bahaya

Heri melanjutkan, mengacu laporan aktivitas Gunung Merapi terkini, yakni 19-25 Juni 2026) keluaran BPPTKG melalui surat Nomor B-157/GL.03/BGV.KG2/2026 tanggal 26 Juni 2026 menyimpulkan bahwa aktivitas Gunung Merapi masih cukup tinggi.
"Berupa aktivitas erupsi efusif, dan status masih dalam tingkat Siaga," tegas Heri.
Balai TNGM menyebut hasil pemantauan terbaru menunjukkan suplai magma masih berlangsung. Kondisi ini dapat memicu awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya.
Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas di sektor selatan-barat daya serta tenggara. Sementara itu, jika terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik berpotensi menjangkau radius hingga 3 kilometer dari puncak Gunung Merapi.
3. Jalur New Selo menuju puncak dinilai membahayakan

Balai TNGM menyatakan jalur pendakian Gunung Merapi melalui New Selo hingga ke puncak berada di kawasan yang sangat membahayakan keselamatan. Jalur tersebut meliputi pintu gerbang yang berjarak sekitar 2,3 kilometer dari puncak, Pos I sekitar 1,64 kilometer, Pos II sekitar 1,25 kilometer, hingga Pasar Bubrah yang hanya berjarak sekitar 0,7 kilometer dari puncak.
"Sehingga sangat membahayakan keselamatan," ucap Heri.
Masyarakat masih dapat menikmati beberapa jalur wisata berupa soft trekking di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi, salah satunya Objek Wisata Alam (OWA) Kalitalang yang berada pada radius 3,3 kilometer dari Pos IV atau pos terakhir.
"Berkenaan dengan hal-hal tersebut di atas, pendakian Gunung Merapi sampai dengan saat ini masih ditutup hingga batas waktu yang tidak dapat ditentukan, semata-mata untuk mematuhi rekomendasi dari pihak yang berwenang serta untuk menjaga keselamatan dan keamanan semua pihak," kata Heri.
Balai TNGM mengimbau masyarakat tidak mudah percaya pada informasi yang tidak jelas sumbernya terkait pembukaan jalur pendakian maupun aktivitas Gunung Merapi. Masyarakat diminta mengikuti informasi resmi dari pemerintah dan otoritas yang berwenang hingga ada pemberitahuan lebih lanjut mengenai pembukaan kembali jalur pendakian.

















