Ilustrasi TPA Piyungan Bantul. (IDN Times/Daruwaskita)
TPA Piyungan pun harus ditambah dengan teknologi untuk pengelolaan sampah. Saat ini sedang ramai-ramainya pengurangan penggunaan bahan bakar batu bara untuk PLTU dengan cara co-firing yaitu campuran bahan bakar. "Sampah jika diproses dengan kadar air kurang dari 20 persen, maka akan mengandung kalori untuk bahan bakar," ucap Pramono.
Teknologi ini dapat diterapkan agar sampah yang terkumpul sebanyak 600 ton per hari di TPA Piyungan dapat dikelola dengan dicacah, dikompres dan diangin-anginkan kemudian dikemas maka akan menjadi rdf atau bahan bakar. Plastik memiliki kalori untuk menggantikan fungsi batu bara pada prosesnya. Sampah yang ada di TPA Piyungan bisa ditambang secara sedikit demi sedikit, kemudian dipilah dan diolah, salah satunya menjadi pupuk dan bahan bakar. Maka hal ini akan bisa memfungsikan lebih luas TPA Piyungan.
“Proses secara mekanistik dari sampah siap menjadi bahan bakar dihitung, membutuhkan biaya berapa, sehingga nanti dapat ditentukan ongkos sampah berbayarnya menjadi berapa. Hal ini harus terintegrasi dengan pemerintah yang dilindungi dengan Perda yang kuat,” pungkasnya.