Sukses Film Jumbo, Visinema Kenalkan Na Willa di JAFF Market 2025

- Na Willa merupakan adaptasi dari buku anak populer karya Reda Gaudiamo, mengajak penonton menengok pada fase paling awal dalam hidup manusia.
- Na Willa memilih menyelami ruang personal yang lebih sunyi, merawat rasa kebebasan anak-anak masa kini dengan cara yang lebih damai.
- Film ini memiliki pesan tentang bagaimana sebagai anak melihat hal-hal kecil yang dulu terasa sangat berarti
Yogyakarta, IDN Times – Sukses besar dengan Jumbo yang menembus lebih 10 juta penonton, Visinema Studios mencoba mengeksplor hal baru. Kali ini Visinema Studios akan kembali ke ruang kecil, masa kanak-kanak melalui film Na Willa.
Na Willa akan tayang pada Lebaran 2026, menjadi sebuah adaptasi yang mengajak penonton menengok pada fase paling awal dalam hidup manusia. Film ini dinilai menjadi penanda arah baru Visinema dalam mengeksplorasi cerita keluarga.
1. Adaptasi dari karya Reda Gaudiamo

Na Willa merupakan adaptasi yang diangkat dari buku anak populer karya Reda Gaudiamo, yang telah diterjemahkan ke berbagai bahasa, dan masuk dalam fasilitas baca internasional.
Cerita Na Willa adalah tentang kehidupan seorang anak perempuan berusia enam tahun yang memandang dunia dengan cara yang jujur, polos, dan penuh rasa ingin tahu.
“Cerita Na Willa itu sederhana sekali, tapi rasanya seperti pelukan. Kalau Jumbo membawa kita pada perjalanan keluar yang penuh magis, Na Willa justru menarik kita kembali ke dalam. Ke masa kecil, ke ingatan yang mungkin kita lupakan, tapi diam-diam selalu kita cari,” jelas Chief Content Officer Visinema Studios, Anggia Kharisma, dalam diskusi Beyond The Next Stories with Na Willa dalam rangkaian JAFF Market 2025, di JEC Yogyakarta, Sabtu (29/11/2025).
2. Perbedaan Na Willa dengan Jumbo

Anggia juga menyebut Na Willa dan Jumbo lahir dari semangat yang berbeda. Jika Jumbo merayakan petualangan besar dan fantasi, Na Willa memilih menyelami ruang personal yang lebih sunyi, yang oleh Anggia disebut sebagai golden era setiap anak. Menurutnya, pandangan anak enam tahun sering terpinggirkan dalam dunia yang didominasi cara berpikir orang dewasa. Padahal, justru pada usia itu pengalaman paling dasar manusia terbentuk.
“Dunia orang dewasa itu tampak biasa saja. Tapi bagi anak enam tahun, tiap sudut adalah petualangan, tiap rasa adalah penemuan. Na Willa mencoba merawat rasa itu,” ungkap Anggia.
Na Willa banyak dikaitkan dengan nostalgia, meski demikian Anggia mengatakan film ini tidak hanya tentang masa lalu. Film ini membuka ruang bagi anak-anak masa kini yang memahami kebebasan dengan cara yang lebih damai. “Rasanya seperti dipanggil oleh masa lalu kita sendiri. Tapi untuk anak-anak sekarang, ini tentang bagaimana mereka memaknai kebebasan, bagaimana mereka mengenali hari-hari kecil mereka dengan lebih baik,” ungkap Anggia.
3. Kembali menjadi diri paling kecil

Group President & CEO of Visinema Studios, Herry B Salim mengatakan Na Willa memiliki interprestasi kreatif, kuat, termasuk pada latar waktu akhir 60-an. Meski demikian film ini bisa disajikan lewat gaya visual yang tetap relevan dengan masa kini.
“Na Willa memiliki pesan tentang bagaimana sebagai anak kita melihat rumah besar sebagai sesuatu yang luar biasa, tentang rasa saat pertama kali dibelikan es krim, atau tentang hal-hal kecil yang dulu terasa sangat berarti,” ungkap Herry.
Herry mengatakan Na Willa bukan sekedar tontonan, tetapi pengalaman menjadi diri yang paling kecil. “Orang dewasa yang nonton nanti akan kembali ke usia enam tahunnya masing-masing,” ujarnya.



















