Dosen Prodi Ilmu Sejarah FIB UNS, Harto Juwono. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
Sementara Harto Juwono yang merupakan pakar sejarah banyak mendalami tentang keraton dan dinamika politik lokal di Jawa selama periode transisi kolonial. Disertasi dan penelitiannya sering menyentuh dinamika internal keraton dan perlawanan terhadap kekuasaan asing pada awal abad ke-19. Ia juga terlibat dalam kajian-kajian sejarah yang mendukung pengusulan gelar pahlawan bagi tokoh sejarah nasional.
Harto sering menyoroti Geger Sepehi 1812 bukan hanya sebagai kekalahan militer, tetapi sebagai tragedi budaya yang direncanakan oleh Raffles untuk menghancurkan legitimasi politik dan intelektual Keraton Yogyakarta. “Sultan HB II secara konsisten menjadi simbol ‘anti-asing’ baik terhadap Prancis-Belanda maupun terhadap Inggris,” jelasnya.
Kombinasi analisis dari Prof. Djoko (fokus pada tekanan sistem Napoleonik) dan Harto (fokus pada respons politik Sultan HB II) akan memberikan fondasi yang sangat kuat untuk memperjuangkan pengakuan sejarah atas konsistensi Sultan HB II dalam melawan imperialisme. Kajian sejarah mendalam berdasarkan dokumen dari London, Den Haag, hingga Jakarta, para ahli menegaskan bahwa Sultan HB II adalah korban kebijakan politik kolonial yang melanggar hukum pada masanya.
Menurut Harto, tindakan sewenang-wenang Gubernur Jenderal H.W. Daendels mulai pemaksaan aturan seremonial hingga pengambilalihan daerah dan hutan milik Kesultanan tidak memiliki dasar hukum yang jelas. “Berdasarkan data sejarah yang dihimpun dari berbagai arsip di London, Den Haag, hingga Jakarta, perjuangan Sultan HB II diwarnai dengan konflik hukum dan politik yang tajam melawan kolonialisme,” jelasnya.
Konflik berlanjut saat masa kekuasaan Inggris. Peristiwa ‘Bedhah Ngayogyakarta’ pada Juni 1812 menjadi puncak ketegangan, di mana Sultan HB II melawan aliansi raja-raja Jawa untuk mengusir Inggris, yang berujung pada penurunan takhta secara paksa dan pembuangan ke Penang.
Lebih jauh, kaitan peristiwa Geger Sepehi 1812 dan Perang Jawa (1825–1830) yang dipimpin Pangeran Diponegoro sangatlah erat dan bersifat kausalitas (sebab-akibat). Peristiwa 1812 adalah ‘luka dalam’ yang menjadi bahan bakar kemarahan Diponegoro di kemudian hari. Dalam literatur sejarah yang sering dibahas oleh pakar seperti Peter Carey (yang juga menjadi rujukan Harto Juwono dan Prof. Djoko Marihandono), serangan Inggris ke Keraton Yogyakarta pada 1812 menyisakan trauma sosial yang sangat berat.
Saat keraton jatuh, tentara Sepoy (India) melakukan penjarahan besar-besaran. Tidak hanya harta benda, tetapi juga terjadi tindak kekerasan terhadap perempuan di lingkungan keraton dan sekitarnya.
Di bawah kepemimpinan Mangkunegara II, legiun ini membantu Inggris menyerang Yogyakarta. Keterlibatan sesama orang Jawa (namun dari faksi berbeda) dalam penghancuran Yogyakarta menciptakan dendam politik yang membekas di hati para pangeran Yogyakarta, termasuk Diponegoro yang saat itu menyaksikan langsung kehancuran martabat negerinya.
Pangeran Diponegoro hadir di keraton saat Geger Sepehi terjadi. Ia melihat Kakeknya (Sultan HB II) ditangkap dan dibuang. HB III ‘ditekan’ oleh Inggris untuk naik takhta dalam posisi lemah. Harta dan naskah-naskah berharga dijarah. Pengalaman pahit ini membentuk pandangan Diponegoro bahwa bangsa asing (baik Prancis, Inggris, maupun Belanda yang kembali kemudian) hanya membawa kehancuran dan penindasan.
Sultan HB II sempat kembali dari pengasingan dan naik takhta lagi pada 1824-1826 (saat Perang Diponegoro baru dimulai). Namun, ia sudah sangat tua dan kekuasaannya sudah lumpuh. Diponegoro melihat bahwa sistem monarki Jawa sudah tidak lagi berdaulat karena intervensi asing yang dimulai sejak era Daendels (Napoleon) dan diperburuk oleh Raffles.
Jika Geger Sepehi adalah penghinaan terhadap kedaulatan dan martabat manusia (termasuk kasus pemerkosaan dan perampokan oleh tentara bayaran), maka Perang Diponegoro adalah jawaban atas akumulasi penghinaan tersebut.
Prof. Djoko Marihandono sering menekankan bahwa radikalisme Daendels menghancurkan keseimbangan politik Jawa, sementara Harto Juwono melihat bahwa ketidakadilan ekonomi pasca-1812 adalah pemicu utama kerusuhan sosial yang puncaknya diledakkan oleh Pangeran Diponegoro.