Ketua ProKlim Utama Sangurejo, Choirul Huda, memaparkan pencapaian proklim Sangurejo (IDN Times/Yogie Fadila)
Berbeda dari kampung iklim pada umumnya yang kerap mengandalkan program instan, Sangurejo memilih menautkan aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim dengan kebiasaan yang sudah lama hidup di tengah masyarakat. Choirul Huda menyebut salah satu contohnya adalah rencana pengembangan healing spot atau titik terapi berbasis alam, yang justru terinspirasi dari hasil kajian akademisi Universiti Putra Malaysia (UPM) yang pernah berkunjung ke Sangurejo.
"Ternyata dari kunjungan Universitas Putra Malaysia itu para dosen fokus di kesehatan non medis, kesehatan yang pengobatannya itu tanpa kimia, tapi pengobatannya yaitu dengan menggunakan alam," ujar Choirul. Ia menambahkan, healing spot itu kelak diperuntukkan bagi siapa pun yang datang membawa beban pikiran. "Nanti insyaallah kita bisa terapi di healing spot yang nanti ada di Padukuhan Sangurejo," katanya.
Ketertarikan pihak luar terhadap pendekatan alam ala Sangurejo itu bukan hanya datang dari kalangan akademisi. Tamu dari Kerajaan Malaysia pun pernah berkunjung ke healing spot rintisan tersebut, yaitu Tuan Haji Dr. Ruslan bin Said, Ketua Pengarah Jabatan Wakaf, Zakat, dan Haji (JAWHAR) sekaligus Timbalan Ketua Pengarah Operasi Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM), didampingi istri. Kunjungan lintas negara ini tidak lepas dari kekayaan lingkungan Sangurejo yang masih didominasi lahan hijau, pohon-pohon bambu, dan kebun salak.
Selain menjaga apa yang sudah ada, warga Sangurejo juga aktif merawat kembali elemen alam yang mulai langka. Salah satunya adalah pohon kemundung, tanaman yang menurut Choirul sudah sulit ditemukan di tempat lain tetapi masih bertahan di padukuhannya, dan menjadi bagian dari pola tanam agroforestri bersama bambu petung, manggis, kepel, sawo kecik, beringin, langsep, dan durian. "Kemarin kami bersih-bersih gotong-royong dengan warga, itu ada dua pohon kemundung yang saat ini sedang berbuah," ungkapnya.
Semangat merawat lingkungan itu juga terlembagakan dalam kegiatan rutin bernama Geber Kasur, singkatan dari Gerakan Bersih Kamis Sore. Setiap Kamis sore, ibu-ibu di Sangurejo menjadi penggerak utama untuk bergotong royong membersihkan lingkungan, dibantu oleh warga laki-laki. Choirul menjelaskan bahwa tradisi gotong royong ini bukan hal baru, melainkan warisan dari generasi terdahulu. Ia bahkan menunjukkan dokumentasi dari museum outdoor Sangurejo yang merekam pembangunan jembatan oleh warga sekitar tahun 1959–1960. "Memang sudah benar-benar ditanamkan karakter untuk gotong-royong. Makanya di sini ada program yaitu namanya Geber Kasur," katanya.
Di sisi mitigasi, warga mengolah limbah rumah tangga menjadi sesuatu yang bernilai guna. Air kencing kelinci dimanfaatkan sebagai pupuk organik, begitu pula air cucian beras atau leri yang diolah menjadi bahan pupuk. Penanganan lahan pertanian pun diarahkan untuk menekan emisi gas rumah kaca lewat penggunaan pupuk organik kotoran ternak dan minimalisasi pestisida kimia. Dari sisi bangunan, sebagian rumah warga Sangurejo masih menggunakan atap bambu petung, sekaligus dilengkapi genteng kaca sebagai sumber penerangan alami pada siang hari, serta penerangan jalan Embung Kaliaji yang kini memanfaatkan solar cell. Choirul menyebut pemasangan genteng kaca itu sebagai wujud syukur atas cahaya matahari yang tersedia gratis dari alam, sekaligus cara mengurangi ketergantungan pada energi listrik.
Rangkaian aksi tersebut, menurut Choirul, tidak dimaknai warga sekadar sebagai kegiatan lingkungan biasa, melainkan bagian dari nilai spiritual yang mereka pegang. "Kalau di dalam hadisnya, di dalam agama Islam, kebersihan itu sebagian dari iman," ujarnya seusai verifikasi. Ia menambahkan bahwa menjaga lingkungan juga dimaknai sebagai amal jariyah yang kelak dinikmati oleh generasi berikutnya. "Yang akan menikmati hasil dari yang kita lakukan ini tidak hanya kita, tetapi nanti adalah anak cucu kita," katanya.