Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sangurejo Incar ProKlim Lestari, Capai Keberlanjutan Lewat Aksi Nyata
Contoh pemanfaatan lahan pekarangan di proklim Sangurejo, Turi, Sleman (IDN Times/Yogie Fadila)
  • Padukuhan Sangurejo masuk 32 nominasi ProKlim Lestari 2026 setelah meraih ProKlim Utama pada 2024.
  • Verifikator KLH mencocokkan data registrasi nasional dengan aksi lingkungan warga di lapangan.
  • Sangurejo telah membina 12 lokasi ProKlim baru dan memperluas dukungan dari kampus, usaha, serta lembaga pemerintah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
2023

Sangurejo tercatat sebagai peserta undangan Indonesia Green Forestry Environment Expo 2023.

2024

Pembina ProKlim Sangurejo diundang DLH Kabupaten Donggala untuk memberikan bimbingan teknis ProKlim.

2024

Sangurejo meraih penghargaan ProKlim Utama. LPSS tercatat berjumlah tiga unit dan dukungan pendanaan mencapai Rp456 juta.

2025

Geber Kasur mendapat pendanaan BPDLH senilai Rp25 juta. Dua lokasi binaan meraih ProKlim Utama dan enam lokasi memperoleh ProKlim Madya.

2025

Sangurejo diundang Pondok Pesantren Gading Mangu di Jombang untuk melatih pengisian SRN dan sosialisasi eco-pesantren serta zero waste.

2026

Sangurejo menjadi nominasi ProKlim Lestari dengan 12 lokasi ProKlim binaan. Total dukungan pendanaan tercatat Rp734 juta.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Padukuhan Sangurejo masuk dalam 32 nominasi Program Kampung Iklim Lestari 2026 dan menjalani verifikasi lapangan.
  • Who?
    Warga Sangurejo, Ketua ProKlim Utama Sangurejo Choirul Huda, dan tim verifikator KLH termasuk Koko Wijanarko terlibat dalam verifikasi.
  • Where?
    Verifikasi berlangsung di Pendopo Embung Kaliaji, Sangurejo, Kalurahan Wonokerto, Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman, DIY.
  • When?
    Tim verifikator mendatangi Sangurejo pada Kamis (20/8/2026) pagi. Sangurejo meraih ProKlim Utama pada 2024.
  • Why?
    Verifikasi dilakukan untuk mengklarifikasi data yang diunggah ke sistem registrasi nasional dengan kondisi aksi nyata di lapangan.
  • How?
    Tim KLH mencocokkan dokumen dan data registrasi dengan kondisi Sangurejo, termasuk capaian pengelolaan sampah, konservasi air, pembinaan ProKlim, dan kemitraan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Padukuhan Sangurejo masuk calon ProKlim Lestari 2026. Kak Koko dari KLH datang ke Pendopo Embung Kaliaji untuk melihat data dan keadaan di sana. Warga punya kegiatan bersih-bersih, mengelola sampah, menanam pohon, dan menyimpan air hujan. Hasil kunjungan ini jadi salah satu dasar KLH menentukan penerima gelar.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Capaian Sangurejo memperlihatkan keterlibatan warga dalam pengelolaan sampah, pemanfaatan lahan, konservasi air, dan kegiatan gotong royong. Pembinaan terhadap 12 lokasi ProKlim baru juga menunjukkan pengalaman yang diperoleh tidak berhenti di padukuhan tersebut. Dukungan kampus, dunia usaha, dan lembaga pemerintah tercatat memperluas jejaring program.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sleman, IDN Times - Padukuhan Sangurejo, Kalurahan Wonokerto, Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, masuk dalam nominasi Program Kampung Iklim (ProKlim) Lestari 2026 yang ditetapkan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) RI. Status ini merupakan kelanjutan dari capaian Sangurejo sebagai satu-satunya kalurahan di DIY yang meraih penghargaan ProKlim Utama pada 2024, sekaligus penghargaan tertinggi kedua setelah Pratama dan Madya sebelum status Lestari.

Sangurejo mengajukan empat persoalan awal yang melatarbelakangi lahirnya ProKlim di wilayah ini: kekeringan dan penurunan debit sumber mata air, penurunan produktivitas pangan di sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan, kawasan padat kumuh dan miskin akibat minimnya edukasi pola hidup bersih dan sehat, serta rendahnya edukasi warga soal pengelolaan sampah.

Tim verifikator dari KLH mendatangi Pendopo Embung Kaliaji, Sangurejo, pada Kamis (20/8/2026) pagi untuk mencocokkan data yang diunggah ke sistem registrasi nasional dengan kondisi riil di lapangan. Salah satu anggota tim verifikator, Koko Wijanarko dari Direktorat Adaptasi Perubahan Iklim KLH, menjelaskan inti dari proses verifikasi tersebut.

"Verifikasi lapangan untuk nominasi calon program lestari 2026 ini mengklarifikasi antara data yang di-upload di sistem registrasi nasional dengan kondisi di lapangan yang ada di Padukuhan Sangurejo. Apakah itu benar-benar menjadi aksi nyata atau apakah hanya sekedar administrasi saja," ujar Koko.

Ketua ProKlim Utama Sangurejo, Choirul Huda, mengatakan syarat utama menuju status Lestari adalah pembinaan aktif terhadap minimal 10 lokasi ProKlim baru dalam kurun waktu minimal dua tahun, disertai program kerja lima tahun ke depan yang didukung pemerintah dan mitra terkait.

1. Perbaikan dalam pengelolaan sampah dan pemanfaatan lahan

Pemilihan sampah di rumah-rumah warga proklim Sangurejo, Turi, Sleman (IDN Times/Yogie Fadila)

Di hadapan para verifikator, ProKlim Sangurejo mencatat penambahan jumlah Lembaga Pengelolaan Sampah (LPSS) dari tiga unit saat meraih status Utama pada 2024, menjadi tujuh unit pada masa nominasi Lestari 2026. Pemilahan sampah kini menjangkau 100 kepala keluarga melalui LPSS Rekoma Sangurejo yang digerakkan oleh remaja setempat.

"Di tahun 2024 ketika ProKlim Utama itu ada tiga LPSS atau bank sampah di wilayah padukuhan, lah ini di tahun 2026 alhamdulillah sudah menjadi tujuh untuk lembaga pengelolaan sampahnya," kata Choirul.

Selain itu, pemanfaatan lahan pekarangan tercatat meningkat dari 80 persen menjadi 90 persen — antara lain melalui program rumah pangan mandiri, pemasangan panel surya, dan pengomposan limbah organik di kebun salak, komoditas khas wilayah tersebut.

2. Ragam aksi adaptasi dan mitigasi berbasis kearifan lokal

Ketua ProKlim Utama Sangurejo, Choirul Huda, memaparkan pencapaian proklim Sangurejo (IDN Times/Yogie Fadila)

Berbeda dari kampung iklim pada umumnya yang kerap mengandalkan program instan, Sangurejo memilih menautkan aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim dengan kebiasaan yang sudah lama hidup di tengah masyarakat. Choirul Huda menyebut salah satu contohnya adalah rencana pengembangan healing spot atau titik terapi berbasis alam, yang justru terinspirasi dari hasil kajian akademisi Universiti Putra Malaysia (UPM) yang pernah berkunjung ke Sangurejo.

"Ternyata dari kunjungan Universitas Putra Malaysia itu para dosen fokus di kesehatan non medis, kesehatan yang pengobatannya itu tanpa kimia, tapi pengobatannya yaitu dengan menggunakan alam," ujar Choirul. Ia menambahkan, healing spot itu kelak diperuntukkan bagi siapa pun yang datang membawa beban pikiran. "Nanti insyaallah kita bisa terapi di healing spot yang nanti ada di Padukuhan Sangurejo," katanya.

Ketertarikan pihak luar terhadap pendekatan alam ala Sangurejo itu bukan hanya datang dari kalangan akademisi. Tamu dari Kerajaan Malaysia pun pernah berkunjung ke healing spot rintisan tersebut, yaitu Tuan Haji Dr. Ruslan bin Said, Ketua Pengarah Jabatan Wakaf, Zakat, dan Haji (JAWHAR) sekaligus Timbalan Ketua Pengarah Operasi Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM), didampingi istri. Kunjungan lintas negara ini tidak lepas dari kekayaan lingkungan Sangurejo yang masih didominasi lahan hijau, pohon-pohon bambu, dan kebun salak.

Selain menjaga apa yang sudah ada, warga Sangurejo juga aktif merawat kembali elemen alam yang mulai langka. Salah satunya adalah pohon kemundung, tanaman yang menurut Choirul sudah sulit ditemukan di tempat lain tetapi masih bertahan di padukuhannya, dan menjadi bagian dari pola tanam agroforestri bersama bambu petung, manggis, kepel, sawo kecik, beringin, langsep, dan durian. "Kemarin kami bersih-bersih gotong-royong dengan warga, itu ada dua pohon kemundung yang saat ini sedang berbuah," ungkapnya.

Semangat merawat lingkungan itu juga terlembagakan dalam kegiatan rutin bernama Geber Kasur, singkatan dari Gerakan Bersih Kamis Sore. Setiap Kamis sore, ibu-ibu di Sangurejo menjadi penggerak utama untuk bergotong royong membersihkan lingkungan, dibantu oleh warga laki-laki. Choirul menjelaskan bahwa tradisi gotong royong ini bukan hal baru, melainkan warisan dari generasi terdahulu. Ia bahkan menunjukkan dokumentasi dari museum outdoor Sangurejo yang merekam pembangunan jembatan oleh warga sekitar tahun 1959–1960. "Memang sudah benar-benar ditanamkan karakter untuk gotong-royong. Makanya di sini ada program yaitu namanya Geber Kasur," katanya.

Di sisi mitigasi, warga mengolah limbah rumah tangga menjadi sesuatu yang bernilai guna. Air kencing kelinci dimanfaatkan sebagai pupuk organik, begitu pula air cucian beras atau leri yang diolah menjadi bahan pupuk. Penanganan lahan pertanian pun diarahkan untuk menekan emisi gas rumah kaca lewat penggunaan pupuk organik kotoran ternak dan minimalisasi pestisida kimia. Dari sisi bangunan, sebagian rumah warga Sangurejo masih menggunakan atap bambu petung, sekaligus dilengkapi genteng kaca sebagai sumber penerangan alami pada siang hari, serta penerangan jalan Embung Kaliaji yang kini memanfaatkan solar cell. Choirul menyebut pemasangan genteng kaca itu sebagai wujud syukur atas cahaya matahari yang tersedia gratis dari alam, sekaligus cara mengurangi ketergantungan pada energi listrik.

Rangkaian aksi tersebut, menurut Choirul, tidak dimaknai warga sekadar sebagai kegiatan lingkungan biasa, melainkan bagian dari nilai spiritual yang mereka pegang. "Kalau di dalam hadisnya, di dalam agama Islam, kebersihan itu sebagian dari iman," ujarnya seusai verifikasi. Ia menambahkan bahwa menjaga lingkungan juga dimaknai sebagai amal jariyah yang kelak dinikmati oleh generasi berikutnya. "Yang akan menikmati hasil dari yang kita lakukan ini tidak hanya kita, tetapi nanti adalah anak cucu kita," katanya.

3. Panen air hujan hingga investasi Rp734 juta

Dosen Fakultas Kehutanan UGM Atus Syahbudin yang terlibat secara langsung dalam pengembangan program kampung iklim di padukuhan Sangurejo, menunjukkan instalasi pemanen air hujan (IDN Times/Yogie Fadila)

Dari data yang diterima IDN Times, Sangurejo memuat sederet angka kuantitatif yang menggambarkan skala nyata program ini. Infrastruktur panen air hujan — mulai dari embung, instalasi dan penampungan air hujan, sumur resapan, biopori, hingga rorak/jugangan — tercatat bertambah dari 255 unit saat status Utama pada 2024 menjadi 495 unit pada masa nominasi Lestari, atau naik 240 unit. Salah satu embung berkapasitas 54.500 meter kubik menjadi andalan utama cadangan air warga.

Adapun peresapan air lewat biopori dan jugangan naik dari 252 menjadi 489 unit, dengan capaian 100 persen kepala keluarga di Sangurejo kini memiliki jugangan — bahkan sebagian lebih dari satu — dan 90 persen KK memiliki serta memanfaatkan biopori. Mahasiswa Fakultas Biologi UGM turut menghitung valuasi ekonomi dari sarana resapan tersebut: total kapasitas tampung sekitar 193.866 liter, setara 3,13 kali kebutuhan air harian 1.032 jiwa penduduk Sangurejo, dengan nilai manfaat ditaksir mencapai Rp969.331 per hari hujan.

Penghematan air juga tercermin dari pemanfaatan air cucian beras (leri) untuk menyiram tanaman, yang jumlah keluarga pesertanya melonjak dari 80 menjadi 180 KK. Berdasarkan valuasi yang sama, praktik ini berpotensi menghemat sekaligus menghasilkan nilai ekonomi hingga Rp5,45 juta per bulan dari efisiensi air dan potensi produk pupuk organik cair. Di sektor konservasi, luas lahan penanaman pohon di sekitar sumber mata air bertambah dari 3 menjadi 5 hektare, dengan kontribusi ribuan bibit dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman, Kalurahan Wonokerto, dan Balai Perbenihan Tanaman Hutan Wilayah 3 Yogyakarta.

Secara keseluruhan, total dukungan pendanaan yang mengalir ke ProKlim Sangurejo tercatat naik dari Rp456 juta pada 2024 menjadi Rp734 juta pada 2026, atau bertambah Rp277 juta.

4. Membina 12 Kampung Iklim baru

Ketua ProKlim Utama Sangurejo, Choirul Huda, memaparkan pencapaian proklim Sangurejo (IDN Times/Yogie Fadila)

Sangurejo telah membina 12 lokasi ProKlim baru — melampaui syarat minimal 10 lokasi yang disyaratkan KLH untuk maju ke status Lestari. Dua belas padukuhan binaan itu adalah Gondangan, Kuwang, Nganggring, Parakan Kulon, Sedogan, Banjeng, Dayakan, Kranggan 2, Plosorejo, Kloposawit, Sindon, dan Koroulon Lor. Rinciannya, dua lokasi telah meraih tropi ProKlim Utama pada 2025, enam lokasi memperoleh predikat ProKlim Madya pada 2025, dan empat lokasi lainnya masih berproses menuju status Utama pada 2026.

Sebaran pengaruh Sangurejo juga merambah ke luar Kabupaten Sleman. Pembina ProKlim Sangurejo pernah diundang Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, untuk memberikan bimbingan teknis ProKlim pada Februari 2024, serta diundang Pondok Pesantren Gading Mangu di Jombang, Jawa Timur, untuk melatih pengisian Sistem Registri Nasional (SRN) dan sosialisasi konsep eco-pesantren serta zero waste pada November 2025. Sangurejo turut menerima kunjungan studi tiru dari berbagai daerah, termasuk UIN Jakarta dan Padukuhan Domban di Kapanewon Tempel.

Koko Wijanarko menegaskan bahwa esensi status Lestari justru terletak pada konsistensi pembinaan tersebut, bukan sekadar simbol penghargaan. "Ketika menjadi lestari itu sebenarnya bebannya berat... Ini lebih memberikan bagaimana mereka punya tanggung jawab juga, ketika menjadi program utama, dia bukan tanggung jawab untuk mengedukasi teman-teman yang lain," katanya.

5. Perluasan jejaring kemitraan dari kampus hingga perbankan

Produk ecoprint karya warga Sangurejo (IDN Times/Yogie Fadila)

Dari tiga institusi (Fakultas Kehutanan UGM, Sekolah Vokasi UGM, dan Fakultas Kehutanan Instiper) saat status Utama, menjadi 11 institusi pada masa nominasi Lestari. Daftar mitra akademis baru itu antara lain UNY, UIN Sunan Kalijaga, Universitas AMIKOM Yogyakarta, Sekolah Tinggi Multi Media (STMM), Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo, dan Universitas Mercu Buana Yogyakarta.

Dari sisi dunia usaha, dukungan bertambah dari satu mitra korporasi yaitu PT Janu Putra menjadi empat mitra, dengan tambahan Bank BPD DIY, PDAM Sleman, dan Bank Syariah Mandiri. Sementara dukungan dari unsur pemerintah dan lembaga negara tercatat bertambah lebih besar lagi, dari delapan menjadi 13 entitas, mencakup Dana Desa Kalurahan Wonokerto, Kapanewon Turi, Puskesmas Turi, BP4K Wilayah 5, DLH Sleman, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Saka Kalpataru, Dinas Pariwisata, UPTD Persampahan, BPBD Sleman, Balai Besar Wilayah Sungai Opak Progo, Balai Perbenihan Tanaman Hutan Wilayah 3, dan UPTD PSDA Korwil Tengah.

Choirul menegaskan bahwa penghargaan bukan tujuan utama warga Sangurejo dalam menjaga lingkungan. "Itu adalah bonus saja, tetapi kita benar-benar berniat untuk menjaga lingkungan. Ketika lingkungan kita jaga, pasti alam akan memberikan apapun kepada kita semua," ujarnya.

Hasil verifikasi lapangan ini akan menjadi salah satu dasar penilaian KLH dalam menetapkan penerima gelar ProKlim Lestari 2026, yang rencananya diumumkan setelah seluruh 32 lokasi nominasi rampung diverifikasi.

Editorial Team

Related Article