RI Dinilai Kecil Kemungkinan Alami BBM Langka Imbas Konflik Timteng

- Pengamat UGM Fahmy Radhi menilai Indonesia kecil kemungkinan mengalami kelangkaan BBM meski konflik Timur Tengah memanas, karena pasokan tidak hanya bergantung pada satu sumber impor.
- Risiko utama yang dihadapi adalah kenaikan harga minyak dunia yang bisa menembus 100 dolar AS per barel, berpotensi menguras devisa dan melemahkan nilai tukar rupiah.
- Fahmy meragukan ketahanan stok BBM hingga 20 hari dan menekankan pentingnya menjaga cadangan strategis agar pasokan tetap aman di tengah ketidakpastian global.
Yogyakarta, IDN Times - Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi menilai Indonesia kecil kemungkinan mengalami kelangkaan bahan bakar minyak (BBM), meskipun konflik di Timur Tengah memanas dan berpotensi mengganggu jalur distribusi global.
Menurut Fahmy, meski ada risiko gangguan pasokan jika konflik meluas hingga berdampak pada Selat Hormuz, Indonesia tidak bergantung pada satu sumber impor saja. Selain dari Timur Tengah, Indonesia juga mengimpor BBM dari berbagai negara lain, termasuk kawasan Afrika serta melalui pasar Singapura.
"Karena misalnya pasokan dari Timur Tengah barangkali itu berkurang, itu masih bisa mencari pasokan dari negara lain. Saya kira Singapura itu juga banyak sekali produk-produk BBM yang memang dibutuhkan Indonesia. Nah, hanya harganya itu yang kemudian menjadi mahal," ujar Fahmy saat dihubungi.
1. Tidak langka, tapi tarifnya mahal
Artinya, persoalan yang lebih berisiko dihadapi Indonesia bukanlah kelangkaan fisik BBM, melainkan lonjakan harga akibat kenaikan harga minyak dunia.
Saat ini harga minyak dunia berada di kisaran 70- 85 dolar AS per barel. Namun, jika konflik di Timur Tengah meluas dan berlangsung lama, harga berpotensi menembus 100 dolar AS per barel. Kondisi tersebut akan berdampak langsung pada Indonesia sebagai negara net importir minyak.
Fahmy menyebut impor BBM Indonesia tergolong besar, sehingga kenaikan harga global akan menguras devisa dan berpotensi menekan nilai tukar rupiah.
"Impor Indonesia khususnya untuk BBM itu bisa mencapai 1.200 barel per hari. Ini sangat besar. Dan kalau harganya di atas 100 dolar AS per barel, ini bisa menguras devisa, rupiah kita akan semakin lemah," katanya.
2. Ragukan stok cukup untuk 20 hari
Di sisi lain, Fahmy juga meragukan ketahanan cadangan BBM nasional yang sebelumnya diklaim pemerintah mampu bertahan hingga 20 hari. Pernyataan tersebut sempat disampaikan Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia.
Ia menilai, momentum Ramadan dan Idul Fitri berpotensi meningkatkan mobilitas masyarakat secara signifikan, sehingga konsumsi BBM akan ikut melonjak dan cadangan bisa terpakai lebih cepat dari perkiraan.
"Saya enggak yakin itu bisa 20 hari. Karena ini Ramadan dan menjelang hari raya yang mobilitasnya tinggi, permintaan akan BBM akan semakin tinggi," ujarnya.
3. Pertahankan cadangan minyak sebaik mungkin
Kendati demikian, dalam situasi penuh ketidakpastian global, Fahmy menekankan bahwa prioritas utama pemerintah adalah memastikan cadangan strategis tetap aman guna menghindari gejolak sosial akibat antrean atau kelangkaan.
Menurutnya, harga minyak dunia merupakan faktor eksternal yang tidak dapat dikendalikan pemerintah. Karena itu, yang bisa dilakukan adalah mengamankan pasokan dan menjaga stabilitas dalam negeri, meski dengan konsekuensi biaya impor yang lebih mahal.
"Nah, bagaimana mengamankan tadi, ya yang menjadi prioritas adalah tetap memenuhi cadangan strategis yang telah ditetapkan tadi. Kalau misalnya 20 hari, maka ya tetap diusahakan ada cadangan dalam waktu 20 hari tadi berapapun harganya," tegasnya.


















