Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Pendatang Positif COVID-19, Sleman Tak Lagi Punya Daerah Zona Hijau

Pendatang Positif COVID-19, Sleman Tak Lagi Punya Daerah Zona Hijau
Peta epidemiologi Kabupaten Sleman. Dok: istimewa
Share Article

Sleman, IDN Times - Kasus positif COVOID-19 ditemukan di Kecamatan Cangkringan, setelah lebih dari empat bulan tidak ada kasus positif COVID-19 di wilayah tersebut. Kondisi tersebut turut mempengaruhi status Cangkringan yang awalnya menjadi satu-satunya kecamatan di Sleman dengan status hijau, kini berubah menjadi kuning.

Camat Cangkringan, Suparmono menjelaskan perubahan status Cangkringan menjadi zona kuning ini dipengaruhi oleh adanya satu kasus positif COVID-19 pada tanggal 27 Juli 2020. Kasus positif pertama terjadi saat seorang warga yang merupakan pendatang dari Jakarta dan pulang ke Cangkringan dengan tujuan berobat lantaran sakit liver.

"Pendatang, dari Jakarta. Sudah sakit sebelumnya, ada liver macam-macam. Dia datang ke Cangkringan tanggal 13 Juli, tahu-tahu sudah sampai dusun. Kalau pendatang ketika mau datang biasanya menghubungi desa dulu," ungkapnya pada Kamis (30/7/2020).

1. Sebelumnya sudah isolasi mandiri

Kabut menutupi kawah Gunung Merapi terlihat dari Desa Srunen, Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta. (ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah)
Kabut menutupi kawah Gunung Merapi terlihat dari Desa Srunen, Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta. (ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah)

Suparmono menambahkan karena sudah terlanjur sampai dusun, pihak dusun pun meminta warga yang bersangkutan untuk isolasi mandiri dari melakukan rapid test di puskesmas setempat. Berdasarkan hasil rapid test pertama tersebut, yang bersangkutan dinyatakan non reaktif.

Karena non reaktif, yang bersangkutan akhirnya pulang ke rumah dan diisolasi, bersama dengan 2 orang yang merawatnya. Beberapa hari setelahnya, yang bersangkutan kambuh lagi sakitnya, dan kembali di rapid test. Dari hasil tersebut, diketahui reaktif dan dilanjutkan dirujuk ke RSUD Prambanan untuk menjalani swab dan pengobatan.

"Pada tanggal 27 pagi kita dapat info dari RSUD Prambanan bahwa ibu itu positif. Kemudian tindak lanjutnya agar tidak menyebar kita tracing di dusun," ujarnya.

2. Ibu pasien positif dinyatakan reaktif

Ilustrasi. IDN Times/Siti Umaiyah
Ilustrasi. IDN Times/Siti Umaiyah

Menurut Suparmono, tracing pertama awalnya hanya menyasar 3 rumah dengan 18 orang yang lokasinya berdekatan dengan rumah kasus positif.

Pada tanggal 28 Juli, tenaga kesehatan dari Puskesmas langsung melakukan rapid test kepada 18 orang yang bersangkutan. Dari sana, didapatkan satu orang reaktif yaitu ibu dari kasus positif.

"Itu kan serumah ada 3 orang, yang reaktif 1, ibunya umur 80 tahun. Akan tetapi yang merawat (kasus positif) tidak reaktif. kemudian ibu (reaktif) kita rujuk juga ke RSUD Prambanan karena kami khawatir," katanya.

3. Satu RT disepakati untuk diisolasi

Gunung Merapi (ANTARA FOTO/Rudi/hn/pd)
Gunung Merapi (ANTARA FOTO/Rudi/hn/pd)

Untuk mengantisipasi penyebaran COVID-19, pihak kecamatan bersama dengan dusun dan desa akhirnya menggelar pertemuan. Berdasarkan hasil pertemuan itu disepakati 1 RT yang terdiri dari 8 rumah dengan 34 warga di dalamnya dilakukan isolasi mandiri. Untuk keperluan logistik, pemerintah desa dan warga akan melakukan pendistribusian.

"Desa dan warga akan gotong royong untuk sama-sama membantu mendistribusikan. Intinya kita mencegah agar tidak ada kasus lagi. Sebenarnya kasus positif tersebut bukan warga Cangkringan karena KTP-nya Bogor, harusnya datanya masuk sana. Cuma barangkali alasan administratif agar pengobatan lebih gampang ya sudah ditulis saja warga Cangkringan," ujarnya.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febriana Sintasari
EditorFebriana Sintasari

Latest News Jogja

See More

Gempa di Pacitan Magnitudo 5,6 Terasa hingga ke Jogja

27 Jun 2026, 15:21 WIBNews