Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pedagang Hewan Kurban di Bantul Kesulitan Datangkan Sapi Kurban
Salah satu lokasi penampung hewan kurban di Kasihan Bantul. (IDN Times/Daruwaskita)
  • Pedagang sapi kurban di Bantul kesulitan mendapatkan pasokan karena banyak peternak berhenti beternak akibat kekhawatiran terhadap penyakit mulut dan kuku (PMK).
  • Kelangkaan sapi membuat harga naik dari sekitar Rp24 juta menjadi Rp26 juta per ekor, sementara permintaan menjelang Iduladha terus meningkat.
  • Pemerintah Bantul memastikan seluruh hewan kurban di penampungan bebas penyakit setelah pemeriksaan dokter hewan di 10 puskeswan, meski sebagian pasokan masih didatangkan dari luar daerah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bantul, IDN Times - Pedagang hewan kurban khususnya sapi di Kabupaten Bantul mengakui kesulitan untuk mendapatkan sapi kurban dari peternak akibat dampak penyakit mulut dan kuku (PMK).

‎Salah satu pedagang hewan kurban di Jogonalan Lor, Kalurahan Tamantirto, Kapanewon Kasihan, Ahmad Suwardi mengatakan, akibat PMK para peternak enggan untuk beternak sapi karena takut merugi. Hal ini mengakibatkan kebutuhan sapi untuk kurban sulit didapatkan.

‎"Saya itu biasanya memberi sapi untuk kurban dari peternak yang ada kawasan pesisir timur Kabupaten Gunungkidul seperti Rongkop hingga Girisubo. Peternak di sana semakin sedikit yang memelihara sapi karena takut rugi akibat terpapar PMK," ujarnya, Selasa (5/5/2026).

1. ‎Menyiapkan sapi untuk kurban sejak November 2025

‎Salah satu pedagang hewan kurban di Jogonalan Lor, Kalurahan Tamantirto, Kapanewon Kasihan, Ahmad Suwardi (kiri).(IDN Times/Daruwaskita)

Untuk memenuhi permintaan hewan kurban, Ahmad membeli dari para pemilik ternak yang sudah menjadi langganannya setiap Iduladha, Ia mengaku sudah membeli sapi kurban sejak bulan November 2026, hingga hari ini baru mendapatkan 51 ekor sapi. Padahal sapi kurban yang dipesan lebih dari 60 ekor.

‎"Praktis seluruh ternak sapi kurban yang ada di kandang penampungan semuanya sudah terjual, dan saya harus mencari tambahan lebih dari 10 ekor sapi lagi," tuturnya.

2. ‎Sulit datang sapi kurban hingga harga mulai naik

Salah satu lokasi penampung hewan kurban di Kasihan Bantul. (IDN Times/Daruwaskita)

Kesulitan untuk mendapatkan sapi kurban, juga berdampak pada kenaikan harga sapi. Misalnya harga sapi kurban pada tahun 2025 sekitar Rp24 juta per ekor, saat ini mencapai Rp26 juta.

‎‎"Ya seperti hukum ekonomi, ketika barang langka maka harga juga naik," tandasnya.

3. ‎Ternak kurban di penampungan di Bantul bebas penyakit

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Bantul, Joko Waluyo.(IDN Times/Daruwaskita)

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul, Joko Waluyo mengatakan sejak satu bulan lalu pihaknya memantau kesehatan hewan ternak, khususnya untuk korban yang dilakukan dokter hewan di 10 pusat kesehatan hewan atau puskeswan.

‎"Hasilnya tidak ditemukan adanya ternak khususnya ternak untuk korban yang terpapar penyakit dan umurnya telah memenuhi syarat," ujarnya.

‎Joko berharap tidak ditemukan penyakit pada hewan kurban, para sohibul tidak perlu takut untuk membeli hewan kurban di wilayah Bantul.

‎"Silakan para sohibul yang membutuhkan ternak untuk kurban datang ke tempat-tempat penampungan ternak kurban yang ada di wilayah Bantul," katanya.

‎Lebih lanjut Joko mengatakan, untuk kebutuhan ternak atau hewan kurban mulai sapi, kambing hingga domba hingga saat ini masih mendatangkan dari luar wilayah Bantul, sebab populasi ternak hewan kurban di Bantul terbatas.

‎"Misalnya populasi ternak sapi itu sekitar 70 ribu dan sebagian besar adalah betina sehingga tidak mungkin untuk kurban. Makanya para pedagang hewan kurban ini masih mendatangkan ternak sapi dari Madura, Jawa Tengah hingga Bali," tutupnya.

Editorial Team