Pandai Besi hingga OVN Guncang Panggung Cherrypop 2026 Hari Terakhir

- Pandai Besi kembali tampil di Yogyakarta setelah 12 tahun, membawakan lagu-lagu Daur Baur serta menampilkan visual Munir saat lagu “Di Udara” yang disambut kepalan tangan penonton.
- OVN, kolaborasi FSTVLST dan Jenny, menutup Cherrypop 2026 dengan visual berlatar Candi Prambanan, konsep meja makan di panggung, dan ajakan bagi penonton untuk ikut naik serta menikmati hidangan.
- Cherrypop menerapkan kurasi populer, emerging, tematik, dan mitos; kategori mitos paling sulit karena pendekatan kepada band yang jarang tampil dapat memakan waktu bertahun-tahun.
Sleman, IDN Times - Penampilan Pandai Besi hingga Objek Vital Nasional (OVN) sukses memukau ribuan penonton pada hari kedua Cherrypop 2026 di kawasan Candi Prambanan, Minggu (23/8/2026). Tak sekadar menyuguhkan musik, sejumlah penampil juga membawa narasi tentang isu sosial politik yang terjadi di Indonesia.
Pandai Besi yang kembali tampil di Yogyakarta setelah 12 tahun menjadi salah satu penampil yang paling dinantikan. Sementara OVN, proyek kolaborasi FSTVLST dan Jenny, menutup rangkaian Cherrypop 2026 dengan pertunjukan istimewa berlatar kemegahan Candi Prambanan.
1. Pandai Besi kembali ke Jogja setelah 12 tahun

Penampilan Pandai Besi di Cherrypop 2026, Minggu (23/8/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo) Kolektif musik yang merupakan ‘spin off’ dari Efek Rumah Kaca ini membawakan sederet lagu dari album Daur Baur. Sejumlah lagu yang disuguhkan antara lain Debu-Debu Berterbangan, Melankolia, Desember, Jangan Bakar Buku, hingga Di Udara.
Momen emosional terjadi saat Pandai Besi membawakan lagu Di Udara. Visual almarhum Munir Said Thalib, pendiri Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) yang meninggal akibat diracun, ditampilkan di layar. Penonton pun menyambutnya dengan mengangkat kepalan tangan ke udara.
Vokalis Pandai Besi, Cholil Mahmud, mengaku senang bisa kembali tampil di Yogyakarta setelah belasan tahun. “Senang sekali bisa kembali ke Jogja. Terima kasih Cherrypop,” ujar Cholil.
2. OVN tutup Cherrypop dengan set panggung berbeda

Penampilan OVN di Cherrypop 2026, Minggu (23/8/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo) OVN menjadi penampil penutup Cherrypop 2026. Kolaborasi FSTVLST dan Jenny ini membawakan lagu-lagu dari album FSTVLST hingga sejumlah nomor dari album Manifesto milik Jenny.
Penampilan OVN semakin menarik dengan tata visual yang memanfaatkan latar Candi Prambanan. Layar lebar di tengah panggung. Sebuah meja makan lengkap dengan berbagai sajian juga dihadirkan di atas panggung sebagai bagian dari konsep pertunjukan.
Vokalis OVN, Farid Stevy Asta bahkan mengajak sejumlah penonton untuk naik ke atas panggung. Mereka dipersilakan duduk dan menikmati makanan yang tersedia di meja tersebut. "Silakan makan, makan. Seperti mereka yang menghabiskan makanan kita hari ini," ujar Farid dari atas panggung.
Selain Pandai Besi dan OVN, hari kedua Cherrypop 2026 juga dimeriahkan sejumlah musisi lintas genre, seperti Perunggu, Sal, The Adams, Sigmun, dan sejumlah penampil lainnya.
3. Menghadirkan band yang jarang tampil bukan perkara mudah

Penampilan OVN di Cherrypop 2026, Minggu (23/8/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo) Creative Director Cherrypop, Arsita Pinandita atau akrab disapa Dito mengatakan menghadirkan Pandai Besi merupakan bagian dari proses kurasi panjang. Cherrypop sendiri memiliki empat kategori kurasi, yakni populer, emerging, tematik, dan mitos.
Menurut Dito, kategori band "mitos" menjadi salah satu yang paling sulit diwujudkan karena beberapa musisi membutuhkan proses komunikasi bertahun-tahun sebelum akhirnya bersedia tampil. "Sebetulnya enggak hanya Pandai Besi, tapi banyak band. Kita punya empat kurasi, populer, emerging, tematik, sama mitos. Nah, band mitos ini yang paling sulit," kata Dito.
Ia mencontohkan Senyawa yang membutuhkan waktu sekitar empat tahun hingga akhirnya bisa tampil di Cherrypop. Sementara untuk Pandai Besi, proses pendekatan juga berlangsung cukup lama. Dito menilai keputusan sebuah band untuk tampil tentu didasari pertimbangan mereka sendiri mengenai festival yang dianggap memiliki kesesuaian perspektif.
"Mungkin perspektif mereka, Cherrypop punya narasi seperti yang ditanyakan tadi, bagaimana melihat kondisi politik atau ekonomi yang ada di Indonesia saat ini. Cherrypop selalu ada hal-hal itu. Kita enggak hanya ngomongin populer, tapi juga tentang bagaimana posisi anak muda dalam landscape perubahan hari ini," ujarnya.



















