Nyeri Perut Atas Sumbang 10 Persen Kunjungan Pasien ke UGD Rumah Sakit

- Tanda-tanda dispepsia mudah dikenali, seperti penurunan berat badan tiba-tiba, sulit menelan, muntah persisten, dan benjolan di perut bagian atas.
- USG perut adalah pemeriksaan penunjang lini pertama untuk mendiagnosa nyeri perut. Pasien diharapkan mampu mengidentifikasi lokasi nyeri secara tepat.
- Perkuat upaya promotif dan preventif terhadap kesehatan organ dalam dengan melakukan pemeriksaan USG perut secara berkala minimal setahun sekali.
Sleman, IDN Times - Keluhan nyeri perut akut (APD) menyumbang 7-10 persen seluruh kunjungan ke Unit Gawat Darurat (UGD) rumah sakit.
Dokter spesialis penyakit dalam RSA UGM, Noviantoro Sunarko Putro menjelaskan, nyeri perut bagian atas atau dispepsia adalah rasa tidak nyaman yang bersumber dari area lambung.
“Nyeri dan terasa terbakar di area ulu hati, terasa penuh setelah makan, cepat kenyang, dan sering sendawa adalah ciri-ciri dispepsia,” ujarnya dikutip laman resmi UGM, Senin (19/1/2026).
1. Tanda-tanda dispepsia mudah dikenali
Novianto menjelaskan penyebab dispepsia dapat dibagi menjadi dua kategori utama, yakni gangguan organik dan gangguan fungsional. Dispepsia organik, umumnya disebabkan luka pada lambung, gangguan asam lambung naik, efek samping obat-obatan, dan kemungkinan adanya kanker. Keluhan itu, kata Novianto dapat pula karena kurangnya aktivitas fisik, pola makan, dan faktor psikologis berupa stres.
Menurutnya, tanda-tanda dispepsia cukup mudah dikenali. “Jika terjadi penurunan berat badan tiba-tiba, terasa sulit menelan, atau muntah yang persisten, serta muncul benjolan di perut bagian atas, maka harus segera diperiksakan,” tambahnya.
2. USG perut adalah pemeriksaan penunjang lini pertama

Dokter spesialis radiologi RSUP Dr Sardjito, Bestari Ariningrum Setyawati, menjelaskan bahwa USG perut adalah pemeriksaan penunjang lini pertama untuk mendiagnosa. Menurutnya, sebelum dilakukan USG perut atau USG Upper Lower Abdomen, pasien diharapkan mampu untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan lokasi nyeri secara tepat kepada tenaga medis.
“Kami mohon kepada pasien untuk terbuka dan menjelaskan keluhan secara spesifik ketika paramedik melakukan anamnesis. Keterbukaan ini sangat penting agar proses diagnosa benar-benar akurat.” jelasnya.
Bagi mahasiswa atau anak kos yang tinggal sendiri, Novianto menyarankan penanganan mandiri awal ketika merasakan nyeri di perut dengan mengonsumsi obat-obatan yang tersedia di toko terdekat. Jika nyeri tersebut bersifat repetitif, ia mengingatkan adanya kemungkinan gejala terkait dengan siklus menstruasi. “Untuk mengetahui titik nyeri secara akurat, perlu pemeriksaan lebih lanjut melalui USG agar dapat teridentifikasi,” ungkapnya.
Ia menuturkan pemeriksaan USG perut sebaiknya dilakukan secara berkala meski tanpa adanya gejala yang dirasakan. Ia menyarankan pemeriksaan minimal setahun sekali untuk memantau kondisi organ dalam.
3. Perkuat upaya promotif dan preventif
Sementara itu, salah satu tenaga kependidikan Kantor Pusat Tata Usaha (KPTU) UGM, Shoofia Ayu, menyatakan nyeri perut memiliki kompleksitas tinggi dan tidak boleh didiagnosis secara sembarangan.
Shoofia juga mengaku termotivasi untuk mengajak rekan-rekan agar lebih peduli terhadap kesehatan organ dalam. “Saya berencana untuk mengajak teman saya, terutama teman perempuan yang belum nikah. Agar lebih sadar pentingnya USG perut. Terkadang, bagi teman yang belum menikah, hal ini cukup canggung. Padahal, sangat disarankan, ya,” jelasnya.


















