Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Matematika Masih Jadi Momok Siswa, Guru Besar UGM Ungkap Penyebabnya
ilustrasi belajar matematika (unplash.com/imgorthand)

  • Penelitian menunjukkan minat siswa terhadap matematika menurun sejak awal sekolah dasar hingga perguruan tinggi, sejalan dengan hasil PISA yang mencatat penurunan skor sejak 2015.
  • Prof. Indah Emilia Wijayanti menilai penurunan kemampuan matematika dipengaruhi berkurangnya materi di jenjang dasar-menengah, distraksi teknologi, dan kurangnya variasi pengalaman belajar.
  • Ia menekankan pentingnya latihan rutin serta kebebasan kurikulum agar mahasiswa dapat mengeksplorasi bidang lain demi meningkatkan logika dan pemahaman konsep matematis secara komprehensif.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Sleman, IDN Times - Mata pelajaran matematika masih menjadi momok bagi sebagian siswa di Tanah Air. Berdasarkan penelitian University of Eastern Finland di British Journal of Educational Psychology yang terbit akhir tahun 2023, ditemukan bahwa minat dan persepsi kompetensi anak-anak terhadap Matematika umumnya positif ketika mereka mulai bersekolah. Sayangnya, kemudian menjadi kurang positif pada tiga tahun pertama setelah bersekolah di sekolah dasar.

Begitu pun di jenjang perguruan tinggi. Hasil survei Programme for International Student Assessment (PISA) yang dilakukan oleh Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) tahun 2025 lalu menunjukkan dari beberapa bidang yang diujikan, meliputi matematika, literasi, dan sains, menunjukkan skor ketiga bidang tersebut konsisten turun sejak tahun 2015.

Dosen Matematika Aljabar FMIPA, UGM, Prof. Indah Emilia Wijayanti, mengatakan hasil studi tersebut sejalan dengan tingkat penurunan skill matematika yang signifikan setiap momen penerimaan mahasiswa baru di jenjang perguruan tinggi.

“Jika dibandingkan, mahasiswa baru program studi Matematika 5 tahun atau 10 tahun yang lalu memiliki kemampuan berpikir matematis yang lebih mumpuni dibanding sekarang,” kata Indah, Senin (30/3/2026), menanggapi peringatan Hari Matematika Sedunia yang jatuh 14 Maret lalu.

1. Kemampuan matematika terkait dari sekolah paling dasar

Menurut Indah, penurunan kemampuan literasi matematika ini terkait dengan pemahaman mahasiswa saat ia duduk di bangku sekolah dasar dan menengah. Akibatnya, mempengaruhi proses pembelajarannya di perguruan tinggi. “Sederhananya, jika di sekolah dasar atau sekolah menengah pertama materi matematikanya berkurang, maka di sekolah Menengah Atas juga berkurang,” katanya.

Indah menambahkan selain karena teknologi yang telah jauh mempermudah siswa ketika mengerjakan ujian matematika, distraksi fokus dalam proses belajar juga menjadi faktor penyebab penurunan kemampuan matematis generasi sekarang ini. “Di sinilah peran pengajar menjadi krusial karena perlu menyajikan pengalaman matematika yang beragam untuk menjaga konsistensi dan fokus para pelajar,” ujarnya.

2. Cara menguasai matematika hanya dengan berlatih

Indah mengungkapkan satu-satunya treatment untuk menguasai matematika hanya dengan berlatih. Ia mengatakan bahwa kebiasan berlatih mengerjakan soal-soal yang mudah sekalipun dapat menstimulasi otak dan meningkatkan kemampuan berlogika. “Dengan berlatih, siswa dan mahasiswa akan mampu meningkatkan kompetensi sendiri, bahkan bisa fokus yang sesuai dengan minat mereka,” ujarnya.

Kendati demikian, membentuk generasi muda dengan budaya sains yang kental menurutnya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi hanya melimpahkan tanggung jawab hanya kepada pendidik atau keluarga saja. Pakar Aljabar itu menyampaikan bawah peran regulasi yang menentukan porsi belajar juga berpengaruh. “Kurikulum seharusnya membebaskan, jangan terlalu dibatasi oleh pemerintah. Kami universitas, seharusnya diberi kebebasan untuk muatannya, turunkan kapasitasnya, sehingga mahasiswa bisa mengeksplorasi bidang yang diminati di luar matematika,” jelasnya.

3. Kampus harus beri ruang mahasiswa pelajari bidang lain

ilustrasi rumus matematika di papan tulis (pixabay.com/Gerd Altmann)

Di lingkup perguruan tinggi, Indah menambahkan, kampus sebaiknya memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mempelajari bidang lain yang diminati. Ia berharap dengan hal itu dapat membantu mereka memiliki kemampuan berpikir yang lebih komprehensif dan meningkatkan kapasitas otak untuk dapat memahami konsep-konsep yang lebih kompleks dalam bidang matematika.

“Kita harus bisa mengemas dengan lebih menarik. Dan ini tidak mudah. Itu tantangan buat si pengajar. Biasanya gini, saya kasih motivasi dulu, kemudian saya masukin teorinya, teorinya kayak gini, lho. Setelah itu mereka baru saya ajak untuk terapkan,” katanya.

Editorial Team