Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mata Tak Lagi Melihat, Ikhtiar Mbah Sarjo Menuntunnya ke Tanah Suci
Sardjo Utomo (71) Seorang jemaah haji disabilitas asal Kulonprogo, Yogyakarta, tampak beribadah di dalam masjid Nabawi (Dok. MCH 2026)
  • Mbah Sarjo, lansia 71 tahun asal Kulon Progo yang tunanetra sejak 1992, berhasil berangkat haji ke Tanah Suci bersama putrinya setelah menjual aset demi memenuhi panggilan ibadah.
  • Meski tak bisa melihat dan lututnya lemah, Mbah Sarjo tetap semangat salat berjemaah di Masjid Nabawi dengan pendampingan putrinya serta bantuan petugas PPIH bagi jemaah lansia dan disabilitas.
  • Bagi Mbah Sarjo, ibadah haji menjadi bekal menghadapi akhirat dan wujud harapan akan ampunan Allah atas dosa-dosa masa lalunya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Madinah, IDN Times – Keterbatasan penglihatan dan usia yang telah senja sama sekali tidak menyurutkan tekad Sarjo Utomo (71) untuk menginjakkan kaki di Tanah Suci. Jemaah haji lansia asal Srikayangan, Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta ini tiba di Madinah pada Rabu (22/4/2026) tergabung dalam kloter 1 Yogyakarta (YIA), dengan didampingi langsung oleh sang putri tercinta.

Keberangkatan pria yang akrab disapa Mbah Sarjo ini adalah buah dari ikhtiar dan pengorbanan yang panjang. Demi memenuhi panggilan ke Baitullah dan menyempurnakan rukun Islam, ia rela melepas aset properti miliknya.

"Pekarangan kebun saya jual untuk daftar haji saya, anak saya, dan istri saya," papar Mbah Sarjo saat ditemui di Madinah, Sabtu (25/4/2026). Baginya, ibadah haji adalah sebuah kewajiban yang harus diupayakan secara maksimal bagi umat Islam.

1. Kondisi yang merenggut penglihatannya

Seorang jamaah haji lansia bersiap berangkat dari hotel menuju Masjid Nabawi. Ia duduk di kursi roda dan didampingi oleh keluarga serta petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) yang membantu keberangkatannya.

Perjuangan batin Mbah Sarjo sejatinya telah dimulai sejak puluhan tahun silam. Ia merupakan penyandang disabilitas netra sejak tahun 1992. Saat usianya menginjak 37 tahun, ia terserang virus herpes yang mengganggu penglihatannya. Di tengah upaya penyembuhan melalui prosedur operasi, sebuah kecelakaan medis terjadi yang mengakibatkan kedua matanya tak lagi bisa melihat.

Divonis tak bisa disembuhkan oleh dokter, Mbah Sarjo sempat melewati masa-masa yang tak mudah. Namun, ia menolak putus asa dan memilih berbaik sangka dengan terus mendekatkan diri kepada Sang Pencipta untuk menguatkan hatinya.

"Saya tiap hari dengarkan kajian ustaz-ustaz lewat Youtube dan televisi, hingga saya semangat dan mantap pada (takdir) Allah," kenangnya.

2. PPIH bersiaga melayani jemaah lansia dan disabilitas

Mbah Sarjo (71) seorang jamaah haji lansia bersiap berangkat dari hotel menuju Masjid Nabawi. Ia duduk di kursi roda dan didampingi oleh keluarga serta petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) yang membantu keberangkatannya (Dok. MCH 2026)

Semangat yang telah mantap itu kini tergambar jelas di Madinah. Meski matanya tak mampu lagi menatap kemegahan Masjid Nabawi dan langkah kakinya tertatih, Mbah Sarjo pantang absen menuju masjid untuk menunaikan salat wajib berjemaah.

Semangat ibadahnya terlihat nyata saat ia bersikeras menunaikan salat dalam posisi berdiri, meskipun kedua lututnya sudah tak lagi kuat menahan beban tubuh. Mbah Sarjo menganggap ibadah haji kali ini bisa jadi merupakan kesempatan terakhirnya, sehingga seluruh kemampuannya dikerahkan untuk beribadah secara maksimal.

Selama beraktivitas di area masjid, langkah Mbah Sarjo selalu dituntun oleh putrinya. Ia juga mendapatkan bantuan dari Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi yang bersiaga di lapangan, sesuai dengan komitmen pemerintah untuk memberikan pendampingan penuh bagi jemaah lansia dan penyandang disabilitas.

3. Ibadah adalah bekal saat menghadap Allah

Jemaah di Masjid Nabawi (IDN Times/Yogie Fadila)

Di usianya yang ke-71, tak ada lagi hal duniawi yang dikejar oleh Mbah Sarjo di Tanah Suci selain pengampunan dan ketenangan di akhirat kelak.

"Haji itu kan rukun Islam. Ibadah saya buat sangu (bekal) saya nanti di hadapan Allah. Kalau saya berhaji mungkin Allah mengampuni dosa-dosa saya di masa lalu," pungkasnya dengan nada penuh harap.

Editorial Team