Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mahasiswa UGM Bikin Polpay, Sistem Bayar Pakai Sidik Jari Tanpa Ponsel
Tim mahasiswa UGM mengembangkan Polpay, sistem pembayaran digital yang memungkinkan pengguna bertransaksi hanya dengan sidik jari. (IDNTimes/Tunggul Damarjati)
  • Lima mahasiswa UGM mengembangkan Polpay, prototipe pembayaran biometrik yang memungkinkan transaksi memakai dua sidik jari tanpa membuka ponsel atau memindai QR.
  • Polpay dirancang merespons latensi QR saat internet tidak stabil serta risiko skimming kartu, dengan biaya pengembangan perangkat keras sekitar Rp2 juta.
  • Sistem memproses template sidik jari melalui edge computing, enkripsi AES-256 dan SSL/TLS; keamanan ditambah urutan dua jari serta PIN dinamis harian.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sleman, IDN Times - Tim mahasiswa UGM mengembangkan Polpay, sistem pembayaran digital yang memungkinkan pengguna bertransaksi hanya dengan sidik jari. Teknologi ini dirancang sebagai alternatif pembayaran yang lebih praktis tanpa harus membuka ponsel atau memindai kode QR.

Polpay dikembangkan oleh lima mahasiswa, yakni Tiara Ramadhani, Al Farabi Obiansyah, Marcelino Budi Prakasya, M. Fakhri Ghonim Styanda, dan M. Rakhma Aifil Indira. Dari ide awal, kini menghasilkan prototipe perangkat pembayaran berbasis biometrik.

Cara menggunakannya cukup sederhana. Pengguna mendaftarkan satu rekening dan dua sidik jari dari jari yang berbeda. Saat bertransaksi, pengguna hanya perlu menempelkan kedua jari tersebut pada bantalan pemindai di perangkat Polpay.

Perangkat ini juga dilengkapi mesin pencetak nota dan terhubung dengan ponsel untuk mendukung pengoperasian sistem. Casing-nya dibuat menggunakan teknologi 3D printing dengan material Polylactic Acid atau Asam Polilaktat (PLA).

Polpay telah lolos pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Karsa Cipta. Tim juga tengah mempersiapkan mengikuti Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) yang digelar di Universitas Diponegoro pada November mendatang.

Saat ini, Polpay masih berada pada tahap prototipe atau 70 persen. Setelah finalisasi, tim berencana berkomunikasi dengan Bank Indonesia, termasuk mendaftarkan sistem tersebut agar dapat digunakan oleh bank di Indonesia.

"Siapa tahu nanti bisa jadi benar-benar alat yang diterapkan dan bisa ke berbagai bank, dihubungkan ke berbagai bank. Jadi pembayarannya jauh lebih mudah juga," kata Tiara selaku ketua tim saat ditemui di UGM, Sleman, DIY, Selasa (2/9/2026).

1. Solusi kendala kode QR dan internet

Tim mahasiswa UGM mengembangkan Polpay, sistem pembayaran digital yang memungkinkan pengguna bertransaksi hanya dengan sidik jari. (IDNTimes/Tunggul Damarjati)

Rakhma Aifil Indira bagian desain tim Polpay mengatakan, ide tersebut berawal dari pengamatan mereka terhadap penggunaan kode QR pada aplikasi mobile banking.

Menurut Rakhma, pembayaran dengan kode QR masih memiliki latensi atau jeda waktu. Masalah tersebut bisa semakin terasa ketika koneksi internet tidak stabil, terutama di wilayah yang infrastrukturnya belum merata.

"Apalagi kita di luar Jawa. Nah, dari problem itulah yang akan menjadi fondasi utama dari PolPay ini," kata Rakhma ditemui di UGM, Sleman, DIY, Selasa (1/9/2026).

Tim kemudian mencoba mencari solusi yang tidak hanya praktis, tetapi tetap memperhatikan keamanan. Mereka melihat sistem pembayaran menggunakan kartu perbankan juga memiliki risiko, salah satunya skimming.

"Dari tiga masalah itu, kita pengin buat sebuah solusi yang terjangkau, sebuah solusi yang tanpa gawai, sebuah solusi yang istilahnya efektif, dan solusi yang kita efisien gitu," imbuh Rakhma.

2. Terinspirasi Amazon One hingga Alipay, tapi jauh lebih terjangkau

Tim mahasiswa UGM mengembangkan Polpay, sistem pembayaran digital yang memungkinkan pengguna bertransaksi hanya dengan sidik jari. (IDNTimes/Tunggul Damarjati)

Dalam mengembangkan Polpay, tim melihat sejumlah teknologi pembayaran biometrik di negara lain. Salah satunya Amazon One dari Amerika Serikat yang menggunakan pengenalan telapak tangan atau palm recognition.

Namun, Polpay memiliki konsep berbeda. Jika Amazon One menggunakan kartu kredit, Polpay dirancang agar terintegrasi dengan sistem perbankan yang dinilai lebih sesuai dengan karakteristik pembayaran di Indonesia.

Tim juga menjadikan Alipay dari China sebagai benchmark. Alipay menggunakan teknologi pengenalan wajah atau face recognition. Menurut Rakhma, teknologi tersebut memiliki tantangan karena perubahan fisik wajah, termasuk akibat operasi plastik, dapat memengaruhi proses identifikasi.

Dari sisi biaya, Polpay berusaha dibuat lebih terjangkau. Marcel mengatakan biaya pengembangan perangkat keras Polpay berada di kisaran Rp2 juta. Sementara Amazon One atau Alipay bisa menyetuh sampai USD 1.000.

Selain Amazon One dan Alipay, tim membandingkan Polpay dengan PayByFace serta sistem pembayaran berbasis kode QR. "Kalau misal kita bandingin sama sistem pembayaran berbasis kode QR yang punya EDC juga, kita memiliki alat keunggulan yang lain lah, yaitu kita lebih gampang buat diimplementasikan karena kita cukup pakai jari aja, nggak pakai HP," imbuh Rakhma.

3. Data sidik jari tak disimpan mentah

Polpay menggabungkan sensor sidik jari dengan teknologi Electronic Data Capture (EDC). Data biometrik diproses menggunakan edge computing sebelum dienkripsi dengan algoritma Advanced Encryption Standard 256-bit (AES-256).

Data tersebut kemudian dikirim ke server melalui protokol SSL/TLS. Menurut Marcelino Budi Prakasya dari bagian perangkat lunak, sebagian proses dilakukan sedekat mungkin dengan pengguna untuk membantu meningkatkan kecepatan transaksi.

Data sidik jari juga tidak disimpan dalam bentuk gambar mentah. Sistem mengubahnya terlebih dahulu menjadi template biometrik.

"Kami juga ingin mengimbanginya dari segi keamanan. Di situ kami menerapkan komunikasi yang aman seperti SSL/TLS dan juga kami menerapkan enkripsi seperti yang tadi disebut untuk mencegah terjadinya pencurian data atau penyadapan data di tengah jaringan transmisi," papar Marcel.

4. Ada dua sidik jari dan PIN dinamis

Penggunaan dua sidik jari berbeda menjadi salah satu fitur keamanan Polpay. Dengan model ini, pengguna bebas menentukan jari yang didaftarkan sekaligus urutannya.

Hanya pengguna yang mengetahui jari yang digunakan, demikian pula urutan pemakaiannya. Jika sidik jari atau urutannya tidak sesuai, sistem akan otomatis menolak transaksi. Keamanan tersebut kemudian diperkuat dengan pin dinamis.

Al Farabi Obiansyah alias Obi menjelaskan, kode tersebut dikirim secara otomatis ke ponsel pengguna setiap hari dan menjadi lapisan verifikasi tambahan.

"Itu akan membuat sistem keamanan PolPay menjadi lebih kuat lagi karena PIN dinamis setiap hari akan berganti dan lebih sulit diretas jika para pencuri ini ingin mengetahui urutan sidik jari ataupun ingin mengambil uang di bank si user dari PolPay itu sendiri," jelasnya.

Tim menyebut penggunaan biometrik sebagai metode pembayaran belum diterapkan di Indonesia. Pemanfaatan biometrik sejauh ini lebih banyak digunakan untuk kebutuhan lain, seperti akses acara dan transportasi.

Curated For You

Editorial Team

Related Article