Ilustrasi kekeringan (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah)
Sementara itu Plt. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY Noviar Rahmad mengatakan, jumlah daerah terdampak kekeringan berdasarkan angka permintaan air bersih belum berubah sejak pertengahan Agustus 2023 lalu. Yakni, sebanyak 16 kapanewon di Gunungkidul, Bantul, dan Kulon Progo.
Sejauh ini, klaim dia, permintaan air bersih masih bisa ditangani oleh pemerintah kabupaten. Namun, Pemda DIY tetap akan mendistribusikan bantuan 230 tangki tadi.
"Dropping air sejauh ini masih bisa ditangani oleh pemerintah kabupaten, termasuk swasta. Tapi kami tetap mendistribusikan bantuan tangki karena itu tanpa melalui anggaran tanggap darurat, itu anggaran regulernya dinas sosial," terang Noviar saat dihubungi, Jumat.
Pemda DIY bakal mengambil alih penanganan manakala pemerintah kabupaten menyatakan sudah tidak sanggup. Anggaran tanggap darurat bisa diakses jika sudah ada SK Gubernur menyangkut situasi tanggap darurat.
Lebih jauh, Noviar menyebut kalau alokasi satu tangki untuk 200 warga itu bisa saja luput alias tidak mencukupi. Mengingat, kebutuhan warga bukan cuma untuk keperluan rumah tangga, tapi juga pertanian dan lain sebagainya.
"Biasanya di sana (daerah terdampak kekeringan) ada bak penampungan, nanti air kita kasih ke sana. Bisa kurang juga kalau situasi ini berkepanjangan terus. Semoga saja segera turun hujan," kata Noviar.