Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Gugus Tugas COVID-19 DIY Ungkap Adanya Belasan Kasus Transmisi Lokal
dr. Riris Andono Ahmad. (dok. Istimewa)

Yogyakarta, IDN Times - Gugus Tugas Penanganan COVID-19 DI Yogyakarta menyatakan adanya kasus penularan lokal di antara puluhan kasus yang selama ini telah diumumkan, Rabu (22/4).

Selain transmisi lokal, turut dibeberkan adanya kasus yang belum bisa diketahui muara penularannya.

1. Belasan kasus transmisi lokal

Ilustrasi petugas medis (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto)

Anggota Tim Perencanaan Data dan Analisis Gugus Tugas Penanganan COVID-19 DIY, dr Riris Andono Ahmad mengatakan, dari 71 kasus terkonfirmasi positif telah dilakukan penyelidikan epidemiologi dan penelusuran atau tracing riwayat kontak terhadap pasiennya.

Alhasil, diperoleh informasi bahwa 51 kasus di antaranya tergolong dalam generasi pertama atau G1. Mereka adalah para pasien yang terinfeksi virus corona dan memiliki riwayat kunjungan ke zona merah penyebaran COVID-19, baik di dalam maupun luar negeri.

"Dari 51 kasus tersebut kita mencatat ada 10 orang yang kemudian menularkan pada 12 kasus baru yang ini disebut sebagai generasi kedua (G2). Jadi ini yang tercatat sebagai penularan lokal pertama," kata Riris di Kantor BPBD DIY, Kota Yogyakarta, Rabu.

Kasus penularan dari generasi pertama ke generasi kedua ini sudah ada di seluruh kabupaten/kota se-DIY. Dari generasi kedua, menularkan lagi ke generasi ketiga (G3), tercatat sebanyak tiga kasus.

2. Belum meluas

Anggota Tim Perencanaan Data dan Analisis Gugus Tugas Penanganan COVID-19 DIY, dr Riris Andono Ahmad. IDN Times/Istimewa

Berdasarkan laju reproduksi kasus yang sempat dianalisis oleh pihaknya, satu kasus berpeluang untuk menciptakan dua sampai tiga kasus baru. Permodelannya dalam sebuah kurva ditandai dengan laju pelan kemudian eksponensial.

Hanya saja, hal itu tidak terjadi di DIY. Pola penularan tak secepat yang diperkirakan. Petunjuknya adalah tingkatan kasus di bawah suatu generasi kasus berada di bawah kasus sebelumnya.

"Melihat apa yang sudah di-tracing dan juga setelah itu kasus barunya lebih sedikit dibanding kasus sebelumnya, ini ada penularan lokal tapi belum terlalu meluas," kata Ahli Epidemiologi UGM tersebut.

3. Kasus tak diketahui asal-usulnya

dr. Riris Andono Ahmad. (dok. Istimewa)

Bukan berarti situasi tersebut bisa membuat bernapas lega. Karena masih ada indikasi atau potensi kasus transmisi lokal ini meluas.

Riris mengatakan, dari penyelidikan epidemiologi dan tracing, ditemukan lima kasus yang belum bisa dikuak bagaimana pola penularannya.

Apalagi, dari dua kasus itu ada yang pasiennya memiliki tingkat mobilitas yang sangat terbatas.

"Dua kasus di antaranya, mempunyai profesi sebagai ibu rumah tangga dan pensiunan. Artinya, mobilitasnya sangat dekat. Oleh karena itu kita bisa melihat ada indikasi memang penularannya di sekitar kita," tuturnya.

4. Rantai transmisi harus dipotong

IDN Times/Debbie Sutrisno

Masih adanya indikasi meluasnya transmisi lokal inilah yang harus terus disorot. Karena, ketika kasus penularan lokal meluas, bukan kerjaan mudah membendungnya. Yang tersisa hanya meminimalisir angka penularannya.

Sekarang ini, menurut Riris, kesempatan untuk memutus rantai transmisi lokal supaya tak sampai merambah ke populasi masih ada. Dimulai dari screening massa yang cukup intens, sampai memisahkan mereka yang berpeluang jadi positif dari populasi

Opsi kedua diprioritaskan kala kapasitas diagnosis tak memadai alias terbatas. "Kalau kita bisa memastikan mereka yang kita kategorikan OTG, ODP, PDP bisa kita pisahkan dari populasi, itu bisa membantu (mencegah) penularan lebih lanjut. Jadi, kalau memang pernah melakukan kontak dengan kasus positif, ya seharusnya dikarantina atau diisolasi," katanya.

"Meskipun kapasitas diagnosisnya terbatas, itu bisa mengurangi risiko transmisi. Karena, mereka yang sudah kontak dengan penderita yang terkonfirmasi (positif), memang punya risiko yang jauh lebih besar untuk tertular," tutupnya.

Editorial Team

Related Article