Diskusi soal akurasi data penanganan COVID-19 di DIY, 11 Juni 2020. IDN Times/Pito Agustin Rudiana
Temuan pertama, tim kolaborasi jurnalis mencatat sejak 15 Maret 2020-15 Mei 2020 ada 12 PDP meninggal yang dinyatakan negatif tanpa prosedur yang benar. Sebanyak lima PDP belum menjalani swab sama sekali dan tujuh PDP baru sekali swab dengan hasil negatif.
Sementara mengacu Revisi ke-4 Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease (COVID-19) dari Kementerian Kesehatan yang dikeluarkan per 23 Maret 2020, setiap PDP harus menjalani dua kali tes PCR sebelum dinyatakan positif atau negatif. Jika tes pertama negatif, PDP bisa disimpulkan negatif jika tes kedua juga negatif. Kecuali jika tes pertama positif, PDP bisa langsung disimpulkan positif. Sementara, jika PDP meninggal dinyatakan negatif, otomatis statusnya digser bukan masuk kategori korban COVID-19.
“Upaya memutus rantai penularan jadi tak maksimal. Karena petugas merasa tak perlu melakukan tracing. Bagaimana kalau PDP itu terkait klaster?” tanya Haris.
Seharusnya, PDP meninggal yang belum menjalani dua kali swab dimasukkan dalam kategori sendiri. Bukan dinegatifkan.
Temuan kedua, pada 24 Maret-26 April 2020, tim menemukan ada 60 warga meninggal yang dimakamkan dengan prosedur COVID-19. Sebagian berstatus PDP, ODP, juga ada yang tanpa kejelasan status. Dari 60 orang itu, 8 jenazah tak tercatat di data COVID-19 Pemda DIY, 28 jenazah belum diketahui tercatat atau tidak.
“Kalau data tak akurat, dampak pandemi tak bisa dipahami masyarakat secara benar. Jenazah ODP itu korban pandemi atau bukan?” tanya Haris lagi sehingga perlu perbaikan mekanisme pencatatan kematian PDP dan ODP secara menyeluruh.
Temuan ketiga, soal total data kematian (all cause dead) yang jadi sorotan nasional dan internasional. Data itu penting untuk mengetahui dampak pandemi secara utuh, tak hanya data pasien positif. Para pakar mendapatkan dengan membandingkan total kematian sebelum dan selama pandemi. Sebagaimana pernyataan Iqbal dari Eijkman dalam wawancara Mei 2020 lalu. Bahwa kematian bisa menjadi indikator yang lebih penting ketimbang kasus positif. Indikator jumlah kasus yg ditemukan sangat bergantung pada jumlah tes dan pemeriksaan yang dilakukan. Selama tes tak agresif dan massif, kasus tak ditemukan banyak. Sedangkan kematian jadi indikator dampak pandemi ini secara lebih baik.
Pemerintah DKI Jakarta mempunyai data pembanding itu karena ada Dinas Pemakaman yang khusus mendata kematian. Berbeda dengan di DIY yang tak punya dinas khusus untuk mendata kematian secara terpadu. Sementara, tiap perkampungan punya makam yang dikelola kampung atau pun warga.
Data kematian di DIY tercatat di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil di tiap kabupaten dan kota. Masalahnya, pencatatan kematian dinas itu hanya berdasar penerbitan akta kematian. Sementara, akta kematian terbit atas dasar permintaan keluarga atau petugas jemput bola langsung di lapangan, tak ada kejelasan.
Anehnya, catatan Dinas Tata Pemerintahan DIY menyebut data kematian berdasar pengurusan akta kematian selama April 2020 mengalami penurunan dibanding bulan-bulan sebelumnya. Padahal banyak korban akibat pandemi pada April itu. Asumsi ahli, jumlah kematian selama pandemi lebih banyak ketimbang sebelum pandemi.
“Ternyata selama pandemi, masyarakat yang mengurus akta kematian menurun. Ini problem,” kata Haris.
Di sisi lain, Pemda DIY hanya mengekspos jumlah PDP yang meninggal, baik yang dinyatakan positif maupun negatif. Data ODP meninggal tak dipublikasikan. Padahal pedoman yang dikeluarkan WHO menyebutkan, jumlah ODP meninggal harus menjadi bagian dari korban pandemi.
“Persoalannya, bagaimana tes PCR dan rapid tes yang dilakukan di DIY? Pemda DIY tak mempublikasikan jumlah spesimen dan orang yang melakukan tes,” kata Haris menjelaskan temuan keempat timnya.
Informasi yang dihimpun hanya PDP dan orang tanpa gejala (OTG) dengan hasil rapid tes reaktif yang ditindaklanjuti menjalani tes polymerase chain reaction (PCR). Hasil pengumpulan data, ada 2.545 orang, baik PDP dan OTG yang menjalani tes PCR.
“Artinya, dengan total penduduk DIY sekitar 3,8 juta, yang menjalani tes swab baru 0,66 persen,” kata Haris.
Publikasi jumlah tes penting untuk meyakinkan masyarakat tentang kondisi riil yang terjadi di lapangan. Seperti kasus zero positif pada pertengahan Mei lalu, justru disambut skeptis oleh masyarakat. Publik mempertanyakan berapa jumlah tes yang dilakukan.
“Jika kasus nol positif, tapi jumlah tes sedikit, itu tak mencerminkan kondisi riil. Masyarakat sudah kritis,” kata Haris.
Temuan kelima adalah antrean hasil laboratorium. Tak heran, ada PDP meninggal, sementara hasil lab belum keluar. Dalam sehari, lebih dari 150 antrian. Tak ada kejelasan, sumbatan (bottle neck) atau persoalan terjadi di rumah sakit yang merawat atau di laboratorium yang memeriksa sampel pasien.