Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Dark Tourism Dikemas Pelaku Wisata Jogja Jadi Wisata Edukasi Sejarah

Dark Tourism Dikemas Pelaku Wisata Jogja Jadi Wisata Edukasi Sejarah
Museum Sisa Hartaku (wonderfulimages.kemenparekraf.go.id)
Intinya Sih
  • Destinasi dark tourism di DIY mengajak wisatawan mengunjungi tempat terkait peristiwa kelam atau tragedi, seperti Museum Sisa Hartaku dan Bunker Kaliadem.
  • Kedua destinasi menjadi bagian paket wisata Lava Tour Merapi, yang memberikan kontribusi besar pada ekonomi daerah Sleman.
  • Edwin Ismedi Himna menekankan bahwa destinasi wisata seperti museum masih menjadi tantangan dalam penjualan kepada wisatawan lokal, karena minat orang Indonesia ke museum masih kurang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Sleman, IDN Times – Pertumbujan destinasi pariwisata di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sangat cepat dan beragam. Di antaranya wisata alam, olahraga hingga kuliner. 

Tak terkecuali dark tourism, yang mengajak wisatawan mengunjungi tempat terkait peristiwa kelam atau tragedi. Beberapa destinasi terdapat di kawasan utara DIY atau tepatnya di kawasan Gunung Merapi.
 
Di Kabupaten Sleman terdapat destinasi Museum Sisa Hartaku, dan Bunker Kaliadem, yang tidak bisa dipisahkan dengan tragedi letusan Gunung Merapi tahun 2010 dan 2006. Pada saat itu korban jiwa dan materi tidak terhindarkan.

1.Dark tourism jadi salah satu pilihan wisatawan

Bunker Kaliadem, wisata di Kaki Gunung Merapi, Sleman. (IDN Times/Febriana Sinta)
Bunker Kaliadem, wisata di Kaki Gunung Merapi, Sleman. (IDN Times/Febriana Sinta)

Sisa sejarah yang diabadikan, menjadi tempat kunjungan wisatawan ketika datang ke kawasan Merapi. Kedua destinasi yaitu Museum Sisa Hartaku dan Bunker Kaliadem, menjadi bagian paket wisata Lava Tour Merapi atau wisata Jeep Merapi. 
 
“Itu (Museum Sisa Hartaku dan Lava Tour Merapi) jadi bagian paket wisata Jeep. Kebanyakan masih wisatawan domestik, tapi kontribusi ekonomi di sana besar sekali. Sleman salah satu PAD (Pendapatan Asli Daerah) dari wisata jeep itu,” ungkap Plt. Ketua Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies Daerah Istimewa Yogyakarta (Asita DIY), Edwin Ismedi Himna, Jumat (30/8/2024).

2.Angkat sejarah bukan cerita sedih

Museum Mini Sisa Hartaku (instagram.com/awkarin)
Museum Mini Sisa Hartaku (instagram.com/awkarin)

Edwin mengatakan apa yang coba diangkat dari kedua destinasi tersebut bukan cerita sedih, namun lebih pada edukasi, yaitu wisata sejarah. Diharapkan paket wisata itu jadi pembelajaran bagi masyarakat.
 
“Yang disampaikan bukan menjual bencananya, ceritanya yang sedih, lebih pada edukasi ke wisatawan. Wisatawan kan juga kerap bertanya apakah Merapi aman untuk dikunjungi, seperti itu,” ucap Edwin.

3.Tantangan menjual destinasi museum

Awan Panas Guguran Gunung Merapi, Senin (26/8/2024). (Dok. Istimewa)
Awan Panas Guguran Gunung Merapi, Senin (26/8/2024). (Dok. Istimewa)

Edwin mengaku untuk menjual destinasi wisata seperti museum ke wisatawan lokal masih menjadi tantangan. Berbeda dengan di Eropa, destinasi museum menjadi salah satu yang favorit untuk dikunjungi.
 
“Kalau melihat minatnya orang Indonesia sangat beda jauh dengan orang-orang Eropa. Orang kita sendiri masih kurang minat pergi ke museum. Itu menjadi PR khususnya Jogja. Perlu penguatan juga storytelling di museum itu,” ungkapnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febriana Sintasari
EditorFebriana Sintasari
Follow Us

Latest News Jogja

See More