Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Dari Gedek dan Lantai Tanah, Rumah Kroniah Kini Jadi Hunian Layak
Peresmian rumah layak huni milik Kroniah di Grumbulgede, Selomartani, Kalasan, Senin (17/8/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
  • Rumah Kroniah, 70 tahun, di Sleman direnovasi dari dinding gedek dan lantai tanah menjadi hunian bertembok permanen serta berlantai keramik.
  • Program bedah rumah IDM melalui PT TWC menjadikan rumah Kroniah sebagai hunian layak huni ke-56, dengan renovasi tiga minggu dan gotong royong warga.
  • TWC mengalokasikan Rp50–60 juta per rumah, telah merenovasi tiga rumah sepanjang 2026, serta menargetkan peningkatan menjadi sedikitnya lima rumah per tahun.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sleman, IDN Times - Senyum Kroniah tampak mengembang saat melihat rumahnya kini. Perempuan berusia 70 tahun itu tak lagi harus tinggal di rumah dengan sebagian dinding berupa gedek, anyaman bambu yang mulai lapuk, dan lantai tanah yang menjadi bagian dari kesehariannya.

Kini, rumah Kroniah di Grumbulgede, Selomartani, Kalasan, telah berubah. Dinding yang sebelumnya masih menggunakan gedek telah diganti menjadi tembok permanen. Lantai yang semula sebagian masih berupa tanah juga telah dilapisi keramik. Rumah yang sebelumnya cukup memprihatinkan itu kini menjadi hunian yang jauh lebih layak dan nyaman ditempati.

1. Rasa senang menyelimuti Kroniah

Peresmian rumah layak huni milik Kroniah di Grumbulgede, Selomartani, Kalasan, Senin (17/8/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Perubahan rumah Kroniah hadir melalui program bedah rumah yang dilakukan InJourney Destination Management (IDM) melalui PT Taman Wisata Candi (TWC). Rumah Kroniah menjadi rumah layak huni ke-56 yang telah diwujudkan melalui program tersebut.

Bagi Kroniah, perubahan itu bukan sekadar soal bangunan. Rumah yang selama ini menjadi tempatnya menjalani kehidupan kini terasa lebih aman dan nyaman. “Saya senang dan mengucapkan terima kasih kepada IDM,” ujar Kroniah.

Proses renovasi rumah tersebut berlangsung sekitar tiga minggu. Tidak hanya mengandalkan pendanaan dari TWC, pengerjaannya juga melibatkan masyarakat sekitar. Warga bergotong royong membantu proses pembangunan hingga rumah tersebut dapat ditempati dengan kondisi yang lebih baik.

2. Gotong royong dukung program bedah rumah

Direktur Utama IDM, Febrina Intan. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Direktur Utama IDM, Febrina Intan, mengatakan gotong royong masyarakat menjadi bagian penting dalam program tersebut. Sebagian besar biaya renovasi memang berasal dari TWC, dengan anggaran berkisar Rp50 juta hingga Rp60 juta untuk satu rumah. Namun, dukungan warga membuat proses pembangunan dapat berjalan lebih maksimal. “Rumah ini kami perbaiki tiga minggu. Banyak masyarakat yang terlibat membantu membangun,” kata Febrina.

Program bedah rumah tersebut menjadi bagian dari komitmen TWC untuk memberikan manfaat kepada masyarakat di sekitar destinasi yang dikelola. Febrina mengatakan keberadaan perusahaan tidak semata-mata ditujukan untuk mencari keuntungan, tetapi juga menghadirkan dampak sosial dan ekonomi.

“Kami bahagia dengan apa yang kami lakukan. Tidak hanya mengelola destinasi, tetapi memberi manfaat kepada masyarakat sekitar, baik sosial maupun ekonomi. Itu jauh lebih berarti daripada apa yang kita dapatkan,” ujarnya.

Rumah Kroniah merupakan rumah ketiga yang direnovasi TWC sepanjang 2026. Sebelumnya, dua rumah di kawasan Borobudur juga telah diperbaiki dan diresmikan. Febrina mengatakan TWC rata-rata memperbaiki dua hingga tiga rumah setiap tahun. Ke depan, pihaknya berharap jumlah tersebut dapat ditingkatkan menjadi setidaknya lima rumah per tahun.

Kriteria penerima program juga tidak ditentukan semata dari kondisi fisik rumah. TWC melihat kebutuhan keluarga secara menyeluruh, termasuk kondisi ekonomi dan keberadaan sumber penghasilan. “Yang pertama rumahnya memang tidak layak, ada ekstrem kemiskinan. Terus juga memang tidak ada pemasukan sama sekali, jadi memang sangat bergantung kepada di mana mereka tinggal,” jelas Febrina.

3. Diharap jadi awal hidup lebih baik

Peresmian rumah layak huni milik Kroniah di Grumbulgede, Selomartani, Kalasan, Senin (17/8/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Febrina berharap rumah yang telah diperbaiki tidak hanya menjadi tempat berlindung, tetapi menjadi awal bagi kehidupan yang lebih baik bagi penghuninya. “Memiliki bangunan tidak hanya tempat tinggal, tapi juga rumah yang bisa membuat berkembang hingga anak cucu. Harapannya masa depan mereka lebih baik,” katanya.

Perwakilan Kapanewon Kalasan, Sidi Nugraha, turut mengapresiasi program tersebut. Menurutnya, pembangunan rumah layak huni menjadi bentuk kepedulian yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada warga yang sudah bekerja sama, bahu-membahu terwujudnya rumah layak huni ini. Harapannya program seperti ini bisa menyasar masyarakat yang membutuhkan dan terus memberikan manfaat,” ujar Sidi.

Editorial Team

Related Article