Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Cerita Perempuan Alumnus Fapet UGM Besarkan Peternakan Beromzet Ratusan Juta
Mila Arlinda, alumnus Fakultas Peternakan UGM yang sukses mengembangkan usaha peternakan modern. (Dok. Humas Fapet UGM)
  • Mila Arlinda, alumnus Fapet UGM asal Tuban, sukses membangun usaha peternakan modern Kerabat Ternak 1-3 dengan omzet ratusan juta rupiah di usia belum genap 28 tahun.
  • Berawal dari lima ekor domba saat SMA, Mila kini mengelola bisnis penggemukan, pembibitan, ternak perah, dan penjualan sapronak dengan sistem manajemen kesehatan serta pakan yang terukur.
  • Selain berbisnis, Mila aktif berbagi edukasi peternakan lewat TikTok dan memberdayakan masyarakat sekitar melalui kelompok ternak untuk menciptakan manfaat ekonomi berkelanjutan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Yogyakarta, IDN Times - Di Desa Kebonagung, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Mila Arlinda menjalani kesehariannya di tengah kandang kambing dan domba. Alumnus Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 2021 itu sukses mengembangkan usaha peternakan modern bernama Kerabat Ternak 1-3 di usianya yang belum genap 28.

Bersama suaminya, Sahroni, Mila mengembangkan usahanya di tengah anggapan bahwa dunia peternakan identik dengan pekerjaan laki-laki dan sulit memberikan kesejahteraan. Usaha yang semula dirintis secara sederhana itu kini memiliki sejumlah lini bisnis, mulai dari penggemukan, pembibitan, ternak perah, hingga penjualan sarana produksi peternakan (sapronak), dengan perputaran omzet mencapai ratusan juta rupiah.

Tertarik dunia peternakan sejak remaja

Keputusan Mila Arlinda menempuh pendidikan di Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) sempat diragukan keluarganya. Namun, keraguan itu justru menjadi motivasi baginya untuk membuktikan bahwa sektor peternakan dapat menjadi profesi yang menjanjikan sekaligus bermanfaat bagi masyarakat. “Dulu keluarga sempat ragu ketika saya memilih kuliah peternakan,” cerita Mila, Senin (29/6/2026) dilansir laman resmi UGM.

Lahir pada 1 Januari 1999 dari keluarga sederhana, Mila mulai tertarik pada dunia peternakan sejak remaja. Saat masih duduk di kelas 2 SMA pada 2014, ia memelihara lima ekor domba sebagai langkah awal merintis usaha.

Selama kuliah, Mila aktif belajar dari dosen, praktisi, dan peternak senior di berbagai daerah. Setelah lulus dari Fakultas Peternakan UGM pada 2020, ia memilih fokus mengembangkan usaha peternakan dengan bekal ilmu yang diperoleh selama kuliah. “Di Fapet UGM kami diajarkan bukan hanya teori, tetapi juga praktik dan pengalaman lapangan. Itu yang sangat membantu ketika benar-benar terjun ke dunia usaha,” ujarnya.

Raup omzet hingga ratusan juta

Mila Arlinda, alumnus Fakultas Peternakan UGM yang sukses mengembangkan usaha peternakan modern. (Dok. Humas Fapet UGM)

Perjalanan bisnis Mila tidak selalu berjalan mulus. Ia pernah mengalami kerugian akibat kematian ternak. Namun, pengalaman tersebut dijadikan bahan evaluasi untuk memperbaiki pengelolaan peternakan, sehingga ia semakin memahami manajemen kesehatan kambing dan domba, mulai dari penanganan pneumonia akibat perubahan suhu hingga berbagai infeksi yang umum menyerang ternak.

Saat ini, Kerabat Ternak 1-3 tidak hanya berfokus menambah populasi, tetapi juga menjaga kualitas ternak dan kesejahteraan hewan melalui kebersihan kandang serta pengelolaan pakan. Hijauan dari lahan seluas sekitar 1,5 hektare dipadukan dengan pakan tambahan seperti ampas tahu dan kangkung kering untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ternak.

Mila juga memprioritaskan peningkatan kualitas dan genetika ternak dibanding mengejar jumlah populasi. Kambing unggul dijual seharga Rp16 juta hingga Rp23 juta per ekor, sedangkan kambing lokal berkisar Rp3 juta hingga Rp5 juta.

Selain memenuhi kebutuhan hewan kurban dan aqiqah, Kerabat Ternak mengembangkan penjualan sapronak, seperti susu cempe, vitamin, dan perlengkapan peternakan yang dipasarkan ke sejumlah wilayah di Jawa Timur. Menjelang Iduladha 2024, omzet usaha ini mencapai Rp500 juta hingga Rp700 juta dalam dua bulan. Di luar musim kurban, perputaran usaha aqiqah, penjualan bibit, susu, dan sapronak mencapai sekitar Rp50 juta per bulan, ditambah bisnis sapronak sekitar Rp75 juta per bulan, dengan jangkauan pemasaran hingga Lamongan, Bojonegoro, dan daerah lain di Jawa Timur.

Dorong edukasi kepada masyarakat

Sejak 2023, Mila aktif membagikan pengetahuan seputar peternakan melalui media sosial TikTok. Konten yang diunggah berisi edukasi mengenai praktik peternakan modern sekaligus pentingnya penerapan ilmu pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola usaha peternakan. Di sisi lain, Kerabat Ternak juga memberikan dampak bagi masyarakat sekitar dengan mempekerjakan dua karyawan dan membina kelompok peternak.

Salah satu anggota kelompok, Erma, mengaku terbantu dalam pemasaran susu kambing sekaligus memperoleh tambahan pengetahuan. “Saya jadi tidak bingung soal penjualan susu. Selain itu juga bisa belajar banyak di kelompok ternak dan di Kerabat Ternak,” ujarnya.

Bagi Mila, keberhasilan usaha tidak hanya diukur dari besarnya keuntungan, tetapi juga dari manfaat yang dapat diberikan kepada masyarakat melalui ruang belajar dan penciptaan sumber penghidupan yang berkelanjutan. Berawal dari memelihara lima ekor domba saat masih SMA, kini ia mengembangkan usaha peternakan modern berbasis ilmu pengetahuan, pengalaman lapangan, dan pemberdayaan masyarakat. Keberaniannya menekuni dunia peternakan, konsisten menghadapi berbagai tantangan, serta membangun usaha di sektor yang kerap didominasi laki-laki menjadikannya inspirasi bagi generasi muda, khususnya perempuan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article