Mila Arlinda, alumnus Fakultas Peternakan UGM yang sukses mengembangkan usaha peternakan modern. (Dok. Humas Fapet UGM)
Perjalanan bisnis Mila tidak selalu berjalan mulus. Ia pernah mengalami kerugian akibat kematian ternak. Namun, pengalaman tersebut dijadikan bahan evaluasi untuk memperbaiki pengelolaan peternakan, sehingga ia semakin memahami manajemen kesehatan kambing dan domba, mulai dari penanganan pneumonia akibat perubahan suhu hingga berbagai infeksi yang umum menyerang ternak.
Saat ini, Kerabat Ternak 1-3 tidak hanya berfokus menambah populasi, tetapi juga menjaga kualitas ternak dan kesejahteraan hewan melalui kebersihan kandang serta pengelolaan pakan. Hijauan dari lahan seluas sekitar 1,5 hektare dipadukan dengan pakan tambahan seperti ampas tahu dan kangkung kering untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ternak.
Mila juga memprioritaskan peningkatan kualitas dan genetika ternak dibanding mengejar jumlah populasi. Kambing unggul dijual seharga Rp16 juta hingga Rp23 juta per ekor, sedangkan kambing lokal berkisar Rp3 juta hingga Rp5 juta.
Selain memenuhi kebutuhan hewan kurban dan aqiqah, Kerabat Ternak mengembangkan penjualan sapronak, seperti susu cempe, vitamin, dan perlengkapan peternakan yang dipasarkan ke sejumlah wilayah di Jawa Timur. Menjelang Iduladha 2024, omzet usaha ini mencapai Rp500 juta hingga Rp700 juta dalam dua bulan. Di luar musim kurban, perputaran usaha aqiqah, penjualan bibit, susu, dan sapronak mencapai sekitar Rp50 juta per bulan, ditambah bisnis sapronak sekitar Rp75 juta per bulan, dengan jangkauan pemasaran hingga Lamongan, Bojonegoro, dan daerah lain di Jawa Timur.