Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Cegah Pengungsi Terpapar COVID-19, Akses ke Barak Dibatasi

Cegah Pengungsi Terpapar COVID-19, Akses ke Barak Dibatasi
Senam dilakukan para lansia di barak pengungsian. IDN Times/ Siti Umaiyah
Share Article

Sleman, IDN Times - Adanya pandemik virus corona di tengah status siaga Gunung Merapi, membuat sejumlah pihak melakukan upaya antisipasi agar para pengungsi tidak terpapar COVID-19.

Biwara Yuswantana, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY menjelaskan, saat ini protokol kesehatan telah diterapkan di barak pengungsian. Seperti pemasangan wastafel, membuat bilik penyekat di dalam barak, mewajibkan pemakaian masker dan lain sebagainya. Selain hal tersebut, akses masuk ke barak juga dibatasi.

1. Tidak semua orang bisa masuk ke barak

Ilustrasi. Senam dilakukan para lansia di barak pengungsian. IDN Times/ Siti Umaiyah
Ilustrasi. Senam dilakukan para lansia di barak pengungsian. IDN Times/ Siti Umaiyah

Saat ini, Glagaharjo yang dijadikan sebagai lokasi barak pengungsian masih berstatus zona hijau. Untuk melindungi para pengungsi ini dari kemungkinan adanya impor kasus COVID-19, saat ini sudah diterapkan aturan jika tidak semua orang bisa masuk ke barak. Menurut Biwara, ketika ada orang luar yang ingin masuk ke barak, maka ada aturan tertentu yang sebelumnya harus dipatuhi.

"Tidak semua orang bisa masuk ke barak. Itu untuk menghindari adanya impor kasus. Kalaupun akan masuk dilakukan melalui berbagai upaya untuk mencegah penyebaran itu," ungkapnya dalam webinar Antisipasi Erupsi Merapi di Masa Pandemi yang diadakan oleh Kelompok Studi Kawasan Merapi (KSKM) dan Dongeng Merapi pada Sabtu (21/11/2020).

2. Ubah mekanisme pendistribusian makanan

Dapur umum di barak pengungsian merapi. IDN Times/Tunggul Damarjati
Dapur umum di barak pengungsian merapi. IDN Times/Tunggul Damarjati

Selain melakukan pembatasan orang dari luar, mekanisme pendistribusian makanan ke pengungsi pun juga telah diubah. Panewu Cangkringan, Suparmono mengatakan, jika dulunya konsumsi diberikan dengan cara prasmanan, maka di masa pandemik ini konsumsi diberikan dengan cara dibungkus dan diberikan satu per satu ke pengungsi.

Menurutnya, pendistribusian konsumsi dengan cara dibungkus ini lah diharapkan bisa menekan potensi penularan COVID-19.

"Kalau prasmanan sangat riskan terjadi penularan. Apalagi satu sendok dipegang banyak orang potensi menyebarnya virus sangat mudah. Di SK Bupati kan untuk kepentingan pesta juga dibungkus tidak ada prasmanan," terangnya.

3. Akan lakukan swab antigen ke pengungsi dan relawan

Ilustrasi Tes Usap/PCR Test (IDN Times/Hana Adi Perdana)
Ilustrasi Tes Usap/PCR Test (IDN Times/Hana Adi Perdana)

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Joko Hastaryo mengatakan, untuk mengantisipasi adanya penularan COVID-19 di barak pengungsian, pihaknya akan melakukan swab antigen kepada pengungsi, relawan, dan petugas yang ada di barak pengungsian. Menurutnya, saat ini sudah ada sejumlah 2.500 bantuan swab antigen yang berasal dari bantuan Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

"Rencananya begitu (swab antigen). Tetapi masih dimatangkan pelaksanaannya. Fungsinya untuk memastikan agar tidak terjadi penularan di pengungsian," paparnya.

Share Article
Topics
Editorial Team
Siti Umaiyah
Paulus Risang
Siti Umaiyah
EditorSiti Umaiyah

Latest News Jogja

See More

Api Misterius di Rumah Warga Sleman Belum Padam, Sudah 73 Kali Kejadian

01 Jun 2026, 19:15 WIBNews