Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Sejak 20 Oktober, Hanya Sisi Barat Laut Merapi yang Alami Deformasi

Sejak 20 Oktober, Hanya Sisi Barat Laut Merapi yang Alami Deformasi
Gunung Merapi difoto dari kawasan Kaliurang, Sleman, D.I Yogyakarta, Rabu (18/11/2020). ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko
Share Article

Sleman, IDN Times - Adanya peningkatan aktivitas Gunung Merapi, menjadi pertimbangan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) untuk menetapkan status Gunung Merapi menjadi Siaga pada 5 November 2020.

Agus Budi Santoso, Kepala Seksi Gunung Merapi BPPTKG mengungkapkan, seismisitas saat siaga ini melampaui menjelang munculnya kubah lava 2006, namun lebih rendah daripada kondisi menjelang erupsi 2010.

1. Sejak 10 November guguran semakin intensif

Ilustrasi pos pemantauan gunung berapi (ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho)
Ilustrasi pos pemantauan gunung berapi (ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho)

Sejak ditingkatkannya statusnya menjadi siaga, data seismik Gunung Merapi masih relatif stabil. Hanya saja, ada beberapa peningkatan nilai sesuai dengan status siaga.

Agus memaparkan, aktivitas yang dirasa menonjol sejak 10 November 2020 yaitu adanya guguran-guguran yang semakin intensif. Di mana kawasan puncak, tebing-tebing kawah sudah mulai tidak stabil.

"Kemudian, untuk konsentrasi dari magma saat ini, berada pada kedalaman dari 1,5 kilometer dari puncak," ungkapnya dalam webinar Antisipasi Erupsi Merapi di Masa Pandemi yang diadakan oleh Kelompok Studi Kawasan Merapi (KSKM) dan Dongeng Merapi pada Sabtu (21/11/2020).

2. Mulai 20 Oktober, deformasi hanya terjadi di sisi Barat Laut

Gunung Merapi difoto dari kawasan Kinahrejo, Cangkringan, Sleman, D.I Yogyakarta, Rabu ( 18/11/2020). ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko
Gunung Merapi difoto dari kawasan Kinahrejo, Cangkringan, Sleman, D.I Yogyakarta, Rabu ( 18/11/2020). ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko

Dari pemantauan yang dilakukan oleh BPPTKG, sejak letusan 21 Juni 2020, laju deformasi Gunung Merapi mencapai 5 mm per hari. Hal tersebut terjadi pada sisi Barat, Timur dan sisi yang lainnya. Namun, pada 20 Oktober 2020, deformasi ini hanya terjadi pada sisi Barat Laut, di mana di sisi lain berhenti. Adapun kecepatan maksimal 12 cm per hari.

"Kami mengukur deformasi ini dengan mengukur jarak antara titik-titik ini biru ini, yaitu di pos pengamatan dan di luar pos pengamatan ke puncak, di mana puncak ini kita pasang reflektor atau cermin yang memantulkan laser yang ditembakkan dari titik-titik di luar ini," katanya.

3. Tidak teramati adanya material baru

Gunung Merapi (ANTARA FOTO/Rudi/hn/pd)
Gunung Merapi (ANTARA FOTO/Rudi/hn/pd)

Agus mengungkapkan, untuk data morfologi poinnya yakni belum teramati adanya material baru atau kubah lava baru. Selanjutnya, pihaknya mengamati adanya perubahan morfologi dinding kawah, terutama dari lava 1888 yang berada di sebelah Barat, lava 1954 yang berada di sebelah Utara serta lava 1997. 

Untuk data visual, saat ini guguran lava dominan ke arah Kali Senowo, Kali Lamat serta Kali Gendol. Dengan jarak maksimal 3 km (di Kali Lamat).

"Banyak kejadian guguran arahnya adalah merata, yaitu ke arah Selatan kemudian ke arah Barat, Barat Laut," paparnya.

Berkaitan dengan daerah prakiraan bahaya siaga, pihaknya telah memetakan ada 30 dusun, dengan jarak maksimal 5 km.

Share Article
Topics
Editorial Team
Siti Umaiyah
Paulus Risang
Siti Umaiyah
EditorSiti Umaiyah

Latest News Jogja

See More

Api Misterius di Rumah Warga Sleman Belum Padam, Sudah 73 Kali Kejadian

01 Jun 2026, 19:15 WIBNews