Awal Puasa Beda, Ketum PP Muhammadiyah Minta Tak Saling Menyalahkan

- Perbedaan awal puasa tak seharusnya ganggu tujuan ketakwaan
- Puasa untuk perbaikan akhlak dan kemajuan umat
- Puasa sebagai perekat sosial dan pengendali diri di era media sosial
Yogyakarta, IDN Times - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir meminta perbedaan awal puasa Ramadan 1447 H disikapi secara cerdas dan tasamuh (lapang dada). Ia meminta agar tak ada sikap saling menyalahkan atau merasa paling benar sendiri.
"Di situlah sebagai ruang ijtihad tentu tak perlu saling menyalahkan satu sama lain, dan satu sama lain juga tidak merasa paling benar sendiri," kata Haedar, Selasa (17/2/2026).
Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan mulai Rabu, 18 Februari 2026. Sementara pemerintah menggelar sidang isbat pada Selasa (17/2/2026) sore, menetapkan awal Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.
1. Beda awal puasa, seharusnya tak ganggu tujuan meraih ketakwaan

Ia menegaskan perbedaan hendaknya disikapi secara arif, karena tujuan utama puasa adalah meningkatkan ketakwaan, baik secara pribadi maupun kolektif. Fokus utama Ramadan adalah menghadirkan ketaatan dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, sekaligus menebarkan kebaikan dalam kehidupan.
Dengan meningkatnya takwa, Haedar berharap hubungan sosial kemasyarakatan semakin harmonis dan membawa manfaat bagi sesama serta lingkungan. Karena itu, perbedaan awal Ramadan tidak seharusnya mengganggu tujuan utama meraih ketakwaan. Ia juga berpesan agar puasa dijalankan dengan tenang, damai, dan penuh kematangan, tanpa terpengaruh hiruk pikuk kehidupan.
"Dalam konteks yang lebih luas, Ramadan diharapkan kita menjadi umat yang terbaik dalam kerohanian senantiasa beriman dan bertakwa kepada Allah, maupun dalam hal keilmuan yang kian tinggi dan menebar segala kebaikan yang makin luas," pesan Haedar.
2. Puasa untuk perbaikan akhlak dan kemajuan umat Islam
Puasa juga amadan diharapkan menjadi sarana memperbaiki akhlak pribadi dan publik. Ibadah mendorong peningkatan kualitas umat agar mampu menjadi yang terbaik. Ia berpesan jika tidak ada kemajuan, sulit bagi umat Islam untuk meraih kejayaan, martabat, dan berkompetisi dalam membangun peradaban yang maju.
Ia mengingatkan agar umat tidak bersikap fatalis, terutama bidang ekonomi yang masih membutuhkan kerja keras dan kesungguhan.
"Meraih kualitas hidup umat Islan terutama di bidang ekonomi sungguh memerlukan kesungguhan. Puasa justru melatih kita untuk hidup efisien, prihatin, hidup untuk bisa hemat, dan lain sebagainya. Dan itu menjadi pangkal kita maju di bidang ekonomi," tuturnya.
3. Puasa sebagai perekat sosial

Dalam konteks sosial, Haedar menekankan pentingnya puasa sebagai perekat dan penguat harmoni. "Umat Islam harus jadi perekat sosial. Puasa itu melatih kita untuk tahan diri," ungkapnya.
Ia pun mengingatkan puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga hawa nafsu yang dapat merusak kerekatan sosial. Di tengah derasnya arus media sosial yang kerap memancing emosi dan perselisihan, puasa seharusnya menjadi tameng pengendalian diri.
"Dengan berbagai macam informasi, postingan yang kira-kira memberi suasana panas dalam kehidupan sosial kebangsaan kita. Maka puasa harus menjadi kanopi sosial kita," katanya.
Seorang muslim yang berpuasa, lanjutnya, harus mampu menempatkan diri sebagai agen perdamaian dan teladan dalam kehidupan bermasyarakat. Ramadan menjadi momentum meraih kemajuan hidup yang berlandaskan tauhid dan takwa.
"Takwa itu juga puncaknya adalah perbaikan martabat hidup tertinggi, maka umat Islam harus menjadi umat yang maju dalam berbagai kehidupan, baik spiritual, moral, sosial, ekonomi, politik dan berbagai aspek yang lain menuju peradaban utama," pungkasnya.


















