ASITA DIY Minta Study Tour Dievaluasi, bukan Dilarang

- Larangan study tour berdampak besar pada pariwisata Yogyakarta dan pemangku kepentingan lainnya.
- ASITA DIY mendukung evaluasi terhadap kejadian kecelakaan bus, menekankan perlunya armada bus yang laik jalan.
- Dampak larangan study tour akan mempengaruhi perusahaan bus pariwisata, hotel, restoran, pelaku UMKM, dan pendapatan asli daerah (PAD).
Bantul, IDN Times - Association Of The Indonesian Tours & Travel Agencies (ASITA) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyatakan bahwa kebijakan larangan study tour bagi pelajar di sejumlah daerah pasca kecelakaan bus di Subang, Jawa Barat, akan berdampak besar pada dunia pariwisata dan pemangku kepentingan lainnya.
1. Bukan salah program study tour-nya

Pelaksana tugas Ketua ASITA DIY, Edwin Ismedi Himna, mengatakan pihaknya tidak sepakat dengan larangan kegiatan study tour bagi pelajar, namun mendukung adanya evaluasi. Mereka menegaskan bahwa dalam kejadian kecelakaan study tour di Subang, yang perlu disoroti adalah armada bus yang tidak laik jalan, bukan program study tour-nya.
"Yang lebih baik dievakuasi, diperkirakan karena kejadian kecelakaan bus rombongan study tour pelajar adalah bus yang tidak laik jalan," ucapnya, Kamis (16/5/2024).
"Yang dievaluasi apa saja? Bus harus laik jalan, uji KIR hidup, STNK dan Jasa Raharja hidup, perusahaan bus pariwisata dan agen wisata yang kredibel hingga sopir bus SIM masih berlaku," tambahnya.
2. Dampak besar bagi pariwisata

Menurut Edwin, jika kebijakan larangan study tour benar diterapkan, dampaknya akan sangat besar bagi dunia pariwisata di Yogyakarta. Hal ini akan mempengaruhi perusahaan bus pariwisata, hotel dan restoran, pelaku UMKM, hingga penurunan pendapatan asli daerah (PAD).
"Bagaimana hotel dan restoran yang marketnya anak sekolah, pelaku UMKM yang berjualan di objek wisata. Ini effeke dominonya sangat besar," terangnya.
Edwin menjelaskan bahwa ASITA di seluruh Indonesia sangat prihatin atas tragedi kecelakaan bus study tour di Subang. Namun, pihaknya tidak ingin program study tour dilarang, melainkan dievaluasi untuk meningkatkan keselamatan dan kualitas kegiatan tersebut.
"Semua pihak terkait duduk bersama dan mencari solusi terbaik bukan melarang study tournya," katanya.
3. Study tour penyelamat agen perjalanan wisata saat libur panjang

Lebih lanjut, Edwin menjelaskan bahwa study tour saat libur panjang sekolah merupakan penyelamat bagi agen perjalanan wisata. Sebab, saat libur panjang sekolah, 90 persen wisatawan adalah para pelajar atau anak sekolah.
"Tapi sejauh ini kita belum dapat laporan terkait pembatalan study tour ke Jogja. Ya harapannya kita tidak ada," ucapnya.



















