Ilustrasi Algoritma Media Sosial(freepik.com/ rawpixel.com)
Berdasarkan Data Reportal, 2024 dan Reuters Institute, 2024, terdapat 221 juta pengguna internet aktif, 139 juta pengguna media sosial, dan 60,4 persen konsumsi berita kini terjadi melalui platform media sosial. Ekosistem komunikasi Indonesia kini secara fungsional bergantung pada infrastruktur Meta, Google, TikTok, dan ByteDance. Kondisi ini menjadi realitas operasional yang menentukan brief klien, struktur tim, hingga definisi keberhasilan sebuah kampanye.
Merespons kondisi tersebut, webinar ini membedah riset disertasi Janoe Arijanto berjudul “Preliminary Reflections on Platform Power and the Reconfiguration of Communication Entities in Indonesia”. Riset ini mengkaji dominasi platform digital merestrukturisasi ekosistem komunikasi Indonesia, khususnya melalui pergeseran fungsi, batasan, dan otonomi entitas komunikasi seperti media, agensi iklan, kreator/influencer, dan institusi pemerintah. Beberapa temuan teoretis riset ini sangat relevan dengan realitas industri saat ini. Pergeseran nilai berita (News value) yakni isu dianggap ramai bukan karena isinya tetapi karena ramai dikunjungi (Visibility) diperbincangkan pada suatu platform.
Sebagai pemilik disertasi sekaligus praktisi agensi periklanan, Janoe memaparkan kehidupan komunikasi diatur oleh algoritma media sosial. Ia menunjukkan elemen algoritma mulai dari personalisasi feed, data perilaku pengguna, riwayat klik dan tontonan, echo chamber, filter bubble, hingga bias AI dalam kurasi informasi telah menjadikan media hari ini layak disebut sebagai platformized newsroom.
Janoe juga mengungkapkan keresahannya atas media lokal yang kehilangan trafik bukan karena kalah bersaing sesama media, melainkan karena platform yang telah dirancang AI untuk menampilkan ringkasan artikel satu-dua paragraf sehingga audiens tidak perlu mengunjungi situs aslinya. Lebih lanjut, dampak ini tidak hanya dirasakan oleh media, tetapi oleh seluruh lembaga yang menyandarkan format komunikasinya pada platform.