Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Aksi Budaya di Bundaran UGM, Massa Ajak Jaga Persatuan
Aksi budaya di kawasan Bundaran Universitas Gadjah Mada (UGM), Sabtu (30/5/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

  • Gerakan Mahasiswa Pecinta dan Pelestari Budaya Indonesia menggelar aksi budaya di Bundaran UGM untuk menolak provokasi yang berpotensi memecah belah masyarakat.
  • Koordinator aksi Ahmad Tommy Wijaya menegaskan pentingnya kritik konstruktif berbasis data serta ajakan menjaga persatuan bangsa tanpa menyerang institusi mana pun.
  • Aksi ditutup dengan pelepasan burung merpati sebagai simbol perdamaian, disertai penampilan hadrah dan jathilan yang menegaskan pesan pelestarian budaya dan kebersamaan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Sleman, IDN Times – Sejumlah orang yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Pecinta dan Pelestari Budaya Indonesia menggelar aksi di kawasan Bundaran Universitas Gadjah Mada (UGM), Sabtu (30/5/2026). Aksi ini mengajak masyarakat tidak mudah terprovokasi terhadap narasi yang berpotensi memecah belah.

Beberapa peserta aksi tampak mengenakan blangkon, sembari memegang poster bertuliskan ‘Hati-hati Provokasi Lewat UGM’, ‘Kembalikan Marwah UGM’, dan sejumlah seruan lainnya. Penampilan kesenian, kemudian sholawat hadroh, pelepasan burung merpati, juga dilakukan massa aksi. Aksi ini juga ditutup dengan doa bersama.

1. Tolak aksi provokasi

Aksi budaya di kawasan Bundaran Universitas Gadjah Mada (UGM), Sabtu (30/5/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Koordinator Umum Aksi, Ahmad Tommy Wijaya mengatakan aksi ini untuk menolak segala bentuk provokasi yang bersumber dari mana pun. Terutama provokasi yang dinilai berpotensi memecah belah masyarakat.

Ia menyebut kritik terhadap pemerintah merupakan hak setiap warga yang dijamin undang-undang. Namun, menurutnya, kritik seharusnya disampaikan secara konstruktif dan berbasis data agar tidak menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.

“Kalau mau mengkritik pemerintah silakan, itu dibolehkan oleh undang-undang. Tapi jangan sampai memprovokasi masyarakat dengan ketakutan-ketakutan yang tidak bersumber, dari data yang benar,” kata Tommy.

2. Ajak menjaga persatuan bangsa

Ilustrasi jabat tangan.(pixabay.com/SCY)

Tommy juga menyinggung adanya sejumlah pihak yang disebut mengatasnamakan UGM dalam menyampaikan kritik kepada pemerintah. Menurut Tommy, sebagian pernyataan tersebut dinilai tidak mencerminkan kondisi yang sebenarnya terjadi di lapangan.

“Kami menilai ada beberapa oknum yang mengatasnamakan UGM yang menurut kami terlalu memprovokasi masyarakat. Padahal sampai hari ini data yang dibuka ke publik itu tidak sesuai dengan apa yang sudah dikerjakan pemerintah,” jelasnya.

Meski demikian, Tommy menegaskan aksi tersebut tidak ditujukan untuk menyerang institusi tertentu. Ia mengatakan kegiatan itu lebih difokuskan pada ajakan menjaga persatuan bangsa di tengah perbedaan pandangan. “Ayolah kita bangun Indonesia ini secara bersama-sama. Kita bangun gerakan bersama untuk menjaga Indonesia agar tidak terpecah belah,” terangnya.

3. Merpati sebagai simbol perdamaian

Ilustrasi perdamaian (unplash/Patrick Fore)

Dalam aksi tersebut, peserta juga melepaskan burung merpati sebagai simbol perdamaian dan kebersamaan. “Kami melepas merpati karena itu simbol kedamaian. Harapannya masyarakat tidak mudah terprovokasi dan tetap menjaga persatuan,” ujar Tommy.

Nuansa budaya turut mewarnai jalannya aksi melalui penampilan hadrah dan jathilan. Tommy menyebut kedua kesenian itu dipilih untuk memperkuat pesan persatuan dan pelestarian budaya Indonesia. “Hadrah kami pilih karena syair-syairnya mengajarkan persatuan dan kedamaian. Sedangkan jathilan mencerminkan budaya Indonesia yang harus terus dilestarikan,” ucap Tommy.

Editorial Team

Related Article