Acara Perpisahan SMAN 1 Yogyakarta, Dikeluhkan Orangtua Siswa

- Sejumlah orangtua SMAN 1 Yogyakarta mengeluhkan perubahan acara perpisahan dari konsep sederhana di sekolah menjadi acara berbayar di hotel dengan biaya sekitar Rp400 ribu per siswa.
- Orangtua menilai keputusan tersebut tidak transparan, menimbulkan tekanan psikologis bagi siswa, serta berpotensi menciptakan kesenjangan sosial karena tidak semua keluarga mampu membayar biaya acara.
- Pihak sekolah menyatakan hanya menggelar penyerahan siswa di sekolah pada 4 Mei 2026, sementara acara di luar sekolah merupakan inisiatif orangtua dan bersifat tidak wajib.
Yogyakarta, IDN Times – Rencana acara pelepasan siswa kelas XII SMAN 1 Yogyakarta menuai keluhan dari sejumlah oran tua. Mereka menilai perubahan format kegiatan yang semula sederhana di sekolah menjadi acara berbayar di hotel tidak sensitif terhadap kondisi siswa maupun orangtua.
Salah seorang orangtua siswa yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan, pada 17 April 2026 pihak sekolah awalnya mengumumkan akan menggelar wisuda sederhana di lingkungan sekolah. Acara tersebut dirancang tanpa biaya dan hanya mengundang siswa serta sebagian orangtua siswa berprestasi, sesuai arahan Dinas Pendidikan yang melarang kegiatan perpisahan yang memberatkan. “Semua orangtua waktu itu menerima, tidak ada yang keberatan,” ujarnya, Jumat (24/4/2026).
1. Biaya yang besar hingga ganggu UTBK

Ia mengatakan setelah pengumuman hasil Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), muncul usulan dari sebagian orangtua dan siswa yang lolos untuk mengadakan acara di luar sekolah. Selang beberapa hari, dilakukan polling kepada siswa untuk memilih antara wisuda atau prom night tanpa sepengetahuan orangtua.
Tak lama kemudian, muncul keputusan untuk menggelar acara pelepasan di luar sekolah yang disebut-bakal berlangsung di salah satu hotel di Kota Yogyakarta, dengan biaya sekitar Rp400 ribu per siswa. “Keputusan itu tidak pernah dimintakan persetujuan mayoritas orangtua. Tiba-tiba sudah ditetapkan, bahkan disebutkan tempatnya di hotel dan dikelola oleh event organizer,” katanya.
Menurutnya, meski acara tersebut tidak wajib, banyak orangtua merasa terbebani karena adanya dorongan dari anak-anak mereka yang ingin ikut. Kondisi ini, kata dia, menimbulkan tekanan psikologis, terutama bagi keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Keluhan juga muncul terkait dengan waktu pengumuman yang dinilai tidak tepat. Acara tersebut disosialisasikan di tengah pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK), sehingga dikhawatirkan mengganggu konsentrasi siswa yang masih berjuang masuk perguruan tinggi negeri.
“Yang bikin orang tua semakin jengkel adalah acara mewah-mewahan ini diumumkan di tengah para siswa yang sedang berjuang UTBK sehingga mengganggu konsentrasi sebagian besar siswa. Kedua tidak semua orang tua siswa mampu dengan biaya tersebut, apalagi di saat kondisi ekonomi sedang tidak baik,” ungkapnya.
2. Tidak wajib tapi dikhawatirkan jadi tekanan bagi siswa

Selain itu, orangtua juga mempertanyakan perubahan mendadak format acara di sekolah. Jika sebelumnya siswa diundang dalam wisuda sederhana, kini justru hanya orangtua yang diundang, sementara siswa tidak dilibatkan. “Ini menimbulkan kesan seolah-olah siswa diarahkan untuk ikut acara yang berbayar Rp400 ribu itu,” ucapnya.
Pihak sekolah disebut beralasan keterbatasan tempat sebagai dasar perubahan format tersebut. Namun, menurut orangtua, alasan itu tidak sepenuhnya logis karena jumlah undangan dinilai tidak jauh berbeda. Ia menilai, meski secara formal tidak wajib, keberadaan acara berbayar berpotensi menimbulkan kesenjangan sosial di antara siswa.
“Jadi acara ini memang tidak wajib, tapi secara psikologis acara ini menjadi semacam diskriminasi. Siswa yang tidak bisa ikut karena keberatan biaya jadi minder kepada teman temannya yang ikut. Acaranya juga sebenarnya bisa diadakan dengan sederhana seperti awalnya, kenapa harus bermewah-mewah? Tidak wajib adalah bahasa yang digunakan agar acara ini seolah olah tidak melanggar aturan dinas. Protes sebagian orangtua tidak digubris,” katanya.
Sejumlah orangtua disebut telah menyampaikan keberatan, tapi belum mendapatkan tanggapan yang memadai. Sebagian lainnya memilih diam karena merasa sungkan atau khawatir menyampaikan penolakan secara terbuka. Sejumlah orangtua berharap pihak sekolah dapat mengevaluasi kebijakan tersebut dan kembali pada rencana awal yang lebih sederhana dan inklusif.
“Kalau bisa dibatalkan saja yang berbayar itu. Lebih baik kembali ke acara sederhana di sekolah, agar semua siswa bisa ikut tanpa beban,” tuturnya.
3. Penjelasan pihak sekolah

Sementara itu, Kepala SMAN 1 Yogyakarta, Ngadiya mengungkapkan acara penyerahan kembali siswa pada 4 Mei 2026 akan dilangsungkan di sekolah. Untuk acara di luar sekolah, Ngadiyo menyatakan orangtua yang mengadakan.
“Sekolah tidak mengetahui tentang biaya dan lain-lain. Bisa konfirmasi ke panitia orangtua. Ya (tidak wajib), tidak ada juga tidak apa-apa,” ujar Ngadiya.
Ngadiya juga mengungkapkan terkait acara yang dikeluhkan, pihak sekolah belum mengetahui apakah akan ada perwakilan yang datang. “Belum tahu, belum ada undangan,” ungkap Ngadiya.


















