- Sate Kere Daging Sapi Bu Suwarni
Sejarah Sate Kere, Kuliner Merakyat yang Jadi Incaran Wisatawan di Jogja

- Sate Kere, Makanan Eksklusif Orang Kaya
- Orang Miskin Ciptakan Sate Tanpa Daging
- Rekomendasi Sate Kere Legendaris di Jogja
Pecinta kuliner, pasti pernah mendengar sate kere yang banyak ditemui di Jogja dan Jawa Tengah. Siapa sangka, sejarah makanan yang biasanya dijajakan di pinggir jalan ini cukup panjang, lantaran sudah ada sejak penjajahan Belanda. Rasanya yang menggoyang lidah dengan sensasi kenyal plus berlemak, gak heran jadi buruan wisatawan dan warga lokal.
Bahan dasarnya yang sederhana yaitu menggunakan lemak sapi, tapi soal rasa mampu bersaing dengan sate manapun. Penasaran apa arti nama kere yang disematkan di makanan ini, yuk simak berikut ini!
1. Daging hanya bisa dinikmati orang kaya

Di masa penjajahan, sate dikenal sebagai santapan mewah yang hanya bisa dinikmati kaum bangsawan. Dalam tulisan Heri Priyatmoko, Dosen Sejarah Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, berjudul Historiografi Sate Kere, tercatat abattoir atau tempat penyembelihan hewan di kota besar di Jawa, didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda bersama penguasa lokal. Abattoir bertujuan untuk menjamin pasokan daging sapi berkualitas bagi kaum Eropa. Pengelola abattoir juga dilarang menjual daging yang bercampur gajih atau disebut gemook.
Pada 1849, kebijakan tentang pemotongan sapi dan kerbau mulai diberlakukan melalui staatsblad (Lembaran Negara) tahun 1849 Nomor 52. Isinya tentang Pemerintah Hindia Belanda menerbitkan 18 pasal aturan terkait praktik pemotongan daging.
Sala satu kebijakannya, yaitu Pasal 9 soal regulasi larangan penjualan daging yang ditutupi gemuk atau lemak berbunyi, binatang njang dipotong, baik antero atawa potong-potongannya tiada bolee di toetoop sama gemook, tetapi misti ditinggalken begimana adanja, dan lagi tiada bolee potong binatang njang sakit, atawa djoewal dagingnja binatang njang mati.
Aturan itu akhirnya menjadikan sate makanan mahal, yang hanya dapat dikonsumsi oleh orang-orang berduit.. Inilah alasan sate menjadi sajian eksklusif yang hanya dapat dinikmati orang dengan kemampuan finansial tinggi.
2. Upaya mencicipi masakan khas orang kaya oleh si miskin

Akhirnya warga jelata yang kesulitan membeli hidangan, menciptakan sate tanpa daging, hanya menggunakan gajih atau lemak. Gajih yang harganya jauh lebih murah, bahkan dibuang, menjadi bahan utama pembuatan sate kere. Jeroan sapi tersebut ditusukkan dalam stik bambu, diberi bumbu mirip sate, lalu dibakar. Itulah awal penambahan kata kere pada sate yang dibuat dari lemak sapi tersebut.
Namun, ada versi lain dari sate kere di Solo. Bahannya tidak menggunakan lemak, tapi tempe gembus atau tempe yang dibuat dari ampas tahu.
3. Rekomendasi sate kere legendaris di Jogja

Sate kere juga disebut sebagai sate koyor. Kata Koyor menunjuk pada jaringan pada daging sapi yang kaya lemak. Bagi kamu yang ingin menyicipi bisa datang langsung di sekitar Pasar Beringharjo. Banyak pedagang yang menjualnya di pasar ini. Atau pengin menyicipi sate kere di warung, berikut beberapa rekomendasi yang patut dicoba:
Buka sejak 1984, Mbah Suwarni kini menjadi ikon tak terpisahkan dari kuliner Pasar Beringharjo. Rasanya didominasi manis gurih, lalu disajikan dengan bumbu kacang dan kecap. Selain menjajakan koyor, juga menyediakan sate daging sapi.
Tempat Bu Suwarni berjualan bukan di kios dalam pasar, melainkan di emperan dekat pintu selatan Pasar Beringharjo.
- Sate Kere Mbah Mardi
Sate Kere Mbah Mardi mulai berjualan pada 1985. Saat itu Mbah Mardi menjajakan sate dengan cara dipikul dan berkeliling. Kini kamu bisa menemukannya di Jalan Godean KM 7, Gesikan, Sidomulyo, Sleman.
Sate dijual per porsi isi lima tusuk, beserta ketupat dan sayur tempe. Dari kombinasi tersebut, kamu akan merasakan perpaduan yang unik antara sate yang manis dan kenyal.
Meski sejarah sate kere berawal dari makanan orang miskin, kini menjadi pilihan yang ingin dinikmati orang banyak.

















