Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Watugedug Pajangan Jadi Sentra Produksi Tape Singkong di Bantul

Watugedug Pajangan Jadi Sentra Produksi Tape Singkong di Bantul
Mbok Thukul sedang mengemasi singkong dalam plastik untuk selanjutnya dijual kepada pedagang. (IDN Times/Daruwaskita)
Intinya Sih
  • Padukuhan Watugedug di Guwosari, Pajangan, Bantul dikenal sebagai sentra produksi tape singkong yang dikelola tujuh keluarga secara turun-temurun sejak 1986.

  • Permintaan tape singkong terus meningkat hingga Samsudin harus mendatangkan singkong jenis mentega dari Karanganyar, Klaten, dan Boyolali karena bahan lokal kurang cocok.

  • Proses pembuatan tape meliputi perebusan dua kali, peragian, dan fermentasi dua hari; hasilnya dijual Rp10 ribu per kilogram ke pasar maupun pedagang yang datang langsung.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Bantul, IDN Times - Kalurahan Guwosari, Kapanewon Pajangan Kabupaten Bantul terkenal dengan kuliner Ingkung ayam. Namun ada juga usaha kuliner yang saat ini masih bertahan yakni tape dari singkong atau tape singkong.

‎Produksi kuliner tape singkong ini dilakukan di Padukuhan Watugedug yang berada di Kalurahan Guwosari, yang lokasinya tak jauh dari objek wisata Gua Selarong. Di Padukuhan Watugedug ini setidaknya ada tujuh keluarga yang memproduksi tape singkong yang merupakan usaha turun-temurun.

‎Salah satu warga yang memproduksi atau mengolah tape singkong yakni Samsudin (64) dan istrinya Tukhul (62) yang merintis usahanya sejak tahun 1986 silam saat keduanya masih menjadi pasangan muda.

‎"Awalnya itu mertua saya menanam singkong namun ketika panen kesulitan untuk menjual sehingga mencoba dibuatlah tape singkong yang kalau itu tape dari ketan belum setenar saat ini hingga ada sentra penjualan tape ketan yang biasa disajikan kepada tamu ketika Hari Raya Idul Fitri, acara syukuran keluarga hingga dibuat menjadi es tape ketan," kata Samsudin saat ditemui di tempat produksinya di Padukuhan Watugedug, Selasa (31/3/2026).

1. ‎Pesanan tape singkong tiap hari bertambah

Samsudin (64) salah satu warga Watugedug Guwosari Pajangan Bantul yang memproduksi tape singkong.
Samsudin (64) salah satu warga Watugedug Guwosari Pajangan Bantul yang memproduksi tape singkong. (IDN Times/Daruwaskita)

Menurut Samsudin produksi tape singkong pada awalnya dijual kepada pedagang pasar seperti Pasar Bantul, Pasar Niten hingga sejumlah warung yang ada di sekitar Kalurahan Guwosari.

‎‎"Tapi kok penjualan tape singkong yang juga bisa diolah menjadi minuman semakin hari justru bertambah banyak bahkan ada pedagang yang mengambil langsung ke rumah," ungkapnya.

‎Adanya peningkatan permintaan itu, membuat Samsudin harus mendatangkan singkong dari Karangayar, Klaten hingga Boyolali. Pasalnya, singkong yang digunakan untuk bahan tape adalah singkong jenis mentega yang warna kuning.

‎"Kalau di Bantul ini kan sebagian besar singkong yang ditanam singkong yang warna putih dan tidak cocok untuk dibuat tape karena terlalu lembek," ujarnya.

2. ‎Proses pengolahan tape singkong‎

Proses pembuatan atau pengolahan tape singkong.
Proses pembuatan atau pengolahan tape singkong. (IDN Times/Daruwaskita)

Samsudin menjelaskan untuk proses pengolahan tape singkong diawali dengan mengupas kulit singkong, kemudian dipotong kecil-kecil dan dibersihkan dengan air. Setelah singkong bersih kemudian dimasak sekitar 30 menit hingga singkong dalam kondisi setengah matang. Singkong kemudian diangkat dan dimasukkan dalam air selama satu malam.

‎Singkong yang telah direndam selanjutnya dimasak lagi selama 30 menit hingga singkong nyaris matang. Proses selanjutnya singkong ditiriskan kemudian diberi ragi hingga merata.

‎"Setelah diberi ragi kemudian singkong ditutup dengan daun pisang atau daun jati dan ditutup lagi dengan kain hingga rapat. Dua hari kemudian tape singkong sudah jadi dan siap dikemas dan dijual," ungkapnya.

3. ‎Satu kilogram tape singkong dijual Rp10 ribu

Tape singkong yang siap dikemas dan dijual kepada pedagang.
Tape singkong yang siap dikemas dan dijual kepada pedagang. (IDN Times/Daruwaskita)

Sementara itu, istri Samsudin, Mbok Thukul mengaku tape singkong yang dikemas dalam plastik dengan ukuran setengah kilogram hingga satu kilogram kemudian dijual ke pedagang pasar yang sudah menjadi langganan bertahun-tahun. Satu kilogram tape singkong dihargai Rp10 ribu.

‎"Biasanya oleh pedagang pasar tape singkong dikemas dalam ukuran yang kecil-kecil sehingga bisa dijual dalam jumlah banyak dan harga lebih murah tapi masih dapat untung," jelasnya.

‎Tape singkong bisa langsung dikonsumsi, dibuat minuman hingga dibuat gorengan. Tak hanya disetor ke pasar-pasar, kata Mbok Thukul, ada juga pedagang yang mengambil langsung tape singkong di tempat produksi atau rumah.

‎"Setiap hari saya menghabiskan sekitar 70 kilogram singkong untuk dibuat tape singkong namun kalau ada permintaan tambahan ya produksi kita tambah," jelasnya.

‎Mbok Thukul menjelaskan untuk meningkatkan produksi ada kendala bahan baku singkong, karena biasanya singkong dipanen saat musim kemarau. Ketika musim penghujan seperti saat ini, mereka kesulitan untuk mendatangkan bahan baku singkong jenis mentega.

‎"Kalau permintaan setiap hari pasti ada namun terkadang kita terkendala bahan bakunya karena harus singkong jenis mentega yang jarang ditanam oleh petani di Bantul yang kita olah," jelasnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febriana Sintasari
EditorFebriana Sintasari
Follow Us

Latest Food Jogja

See More