Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Tips Aman Berwisata di Jogja Saat Musim Kemarau Menurut BPBD DIY

5 Tips Aman Berwisata di Jogja Saat Musim Kemarau Menurut BPBD DIY
Hiking Tankaman, main di Kali Kuning (IDN Times/Yogie Fadila)
Intinya Sih
  • BPBD DIY mengimbau wisatawan tetap waspada saat musim kemarau di Yogyakarta karena cuaca panas, angin kencang, debu, dan keterbatasan air di beberapa wilayah.
  • Wisatawan disarankan menjaga hidrasi, memakai masker dan tabir surya, serta menggunakan air bersih secara bijak untuk mencegah dehidrasi dan mendukung konservasi sumber daya.
  • Pengunjung diminta tidak menyalakan api unggun atau membuang puntung rokok sembarangan guna mencegah kebakaran lahan, serta mengenali jalur evakuasi dan nomor darurat setempat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Yogyakarta, IDN Times - Yogyakarta menawarkan beragam destinasi wisata, mulai dari kawasan karst di Gunungkidul, perbukitan Kulon Progo, wisata budaya di Kota Yogyakarta, lereng Merapi di Sleman, hingga pantai-pantai di Bantul.

Meski demikian, wisatawan perlu mewaspadai kondisi selama musim kemarau. Cuaca cenderung panas, disertai angin kencang, debu, serta keterbatasan pasokan air di sejumlah wilayah. Agar perjalanan tetap aman dan nyaman, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengimbau wisatawan untuk tetap waspada dan menerapkan Panduan 5-M Kesiapsiagaan Wisatawan.

Manajemen hidrasi mandiri

Suhu udara di Yogyakarta saat musim kemarau dapat terasa sangat panas, terutama pada siang hari. Karena itu, wisatawan disarankan selalu membawa botol minum sendiri dan rutin mengonsumsi air putih sebelum merasa haus untuk mencegah dehidrasi maupun heat stroke. Selain itu, batasi konsumsi minuman berkafein dan beralkohol saat beraktivitas di bawah terik matahari karena dapat mempercepat dehidrasi.

Masker dan proteksi fisik

ilustrasi menggunakan sunscreen
ilustrasi menggunakan sunscreen (pexels.com/kaboompics)

Angin kencang saat musim kemarau dapat membawa debu, terutama di kawasan wisata terbuka seperti gumuk pasir, tebing, maupun jalur jip wisata. Wisatawan disarankan membawa masker, menggunakan kacamata hitam untuk melindungi mata dari debu, serta mengaplikasikan tabir surya (sunscreen) guna mengurangi paparan sinar ultraviolet (UV).

Menggunakan air bersih secara bijak

Musim kemarau menyebabkan debit air tanah di sejumlah destinasi wisata menurun, terutama kawasan perbukitan dan pesisir selatan. Karena itu, wisatawan diimbau menggunakan air secara bijak saat berada di toilet umum, penginapan, maupun homestay. Pastikan keran ditutup rapat setelah digunakan dan hindari pemborosan air bersih.

Mutlak hindari pemicu kebakaran lahan

ilustrasi api unggun (pexels.com/Dawafenjo Gurung)
ilustrasi api unggun (pexels.com/Dawafenjo Gurung)

Semak dan rumput di sejumlah destinasi wisata alam menjadi lebih kering saat musim kemarau sehingga mudah terbakar. Karena itu, wisatawan yang berkemah atau mendaki diminta tidak menyalakan api unggun di area bervegetasi kering.

Selain itu, jangan membuang puntung rokok sembarangan. Pastikan bara api telah padam sepenuhnya sebelum dibuang ke tempat sampah. Penggunaan flare maupun kembang api untuk kebutuhan fotografi juga dilarang di kawasan yang rawan kebakaran lahan.

Mengenali lingkungan sekitar

Saat berkunjung ke destinasi wisata, wisatawan disarankan memperhatikan papan informasi keselamatan serta mengetahui lokasi pos kesehatan maupun petugas penyelamat atau pengelola. Selain itu, simpan nomor darurat setempat dan pahami jalur evakuasi sebagai langkah antisipasi jika terjadi keadaan darurat, seperti kebakaran lahan di sekitar lokasi wisata.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Paulus Risang
EditorPaulus Risang

Latest Travel Jogja

See More