Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kisah Kampung Kauman Jogja, Saksi Bisu Lahirnya Muhammadiyah
potret Pasar Sore Ramadan Kampung Kauman Yogyakarta (IDN Times/Dyar Ayu)

  • Kampung Kauman di Yogyakarta awalnya dibangun sebagai permukiman abdi dalem penegak agama dan menjadi bagian penting dari tata ruang kota kerajaan Jawa Islam.
  • Di kampung ini, KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah pada 18 November 1912, yang kemudian membawa pembaruan dalam praktik keagamaan masyarakat setempat.
  • Kini Kampung Kauman dikenal sebagai destinasi wisata sejarah dan kuliner Ramadan, menampilkan peninggalan arsitektur lama serta jejak perkembangan Islam di Yogyakarta.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Saat Ramadan tiba, kawasan Kampung Kauman di Yogyakarta selalu ramai oleh pengunjung yang berburu takjil di Pasar Sore Ramadan Kauman. Berbagai jajanan khas berbuka puasa, mulai dari gorengan hingga minuman segar, memenuhi gang sempit yang menjadi lokasi pasar tersebut.

Namun, Kampung Kauman bukan sekadar tempat berburu kuliner Ramadan. Permukiman yang berada di pusat Kota Yogyakarta ini menyimpan sejarah panjang, termasuk menjadi tempat berdirinya organisasi Islam besar di Indonesia, yaitu Muhammadiyah.

1. Arti nama Kauman

Ilustrasi Kampung Kauman Tempo Dulu (instagram.com/kamwis.kaumanjogja)

Nama Kampung Kauman tidak terlepas dari sejarah keraton. Menurut Sativa dalam tulisan berjudul Keteladanan dari Kampung Kauman Yogyakarta sebagai Lingkungan Hunian yang Nyaman (2012), Kauman merupakan kawasan yang dibangun untuk tempat tinggal abdi dalem yang menjadi qoimuddin atau penegak agama.

Keberadaan Kampung Kauman ini tidak hanya ditemukan di Yogyakarta namun juga di Surakarta dan Demak, Jawa Tengah. Hal ini tak terlepas dari persamaan pola tata ruang kota kerajaan Jawa Islam di mana alun-alun dijadikan sebagai inti. Di sebelah selatan biasanya berdiri keraton sementara masjid agung dibangun di bagian barat. Pemukiman bagi para "kaum" agama ini oleh karena itu kerap ada di sekitar masjid.

2. "Kawedanan Pengulon" sebagai tempat tinggal "pengulu"

potret Pasar Sore Ramadan Kampung Kauman Yogyakarta (IDN Times/Dyar Ayu)

Penegak agama yang disebut abdi dalem pamethakan tadi salah satunya dilakukan oleh pengulu. Menurut Amos Setiadi dan Catharina Depari dalam tulisan Perubahan Tata Ruang dan Arsitektur Kampung Kauman Yogyakarta (2014), pengulu bertugas mengurus pernikahan, talak, rujuk, juru kunci makam, dan hukum dalam peradilan agama. Mereka tinggal sekaligus berdinas di kantor yang disebut Kawedanan Pengulon.

Dalam keseharian, pengulu dibantu oleh ketib atau khatib.  Di samping itu, mereka juga bekerja sama dengan modin (pengumandang azan sebelum salat wajib), barjamangah (pelaksana salat jamaah untuk syarat salat Jumat), dan merbot (juru kebersihan serta pengelola masjid).

3. Tempat lahirnya organisasi Muhammadiyah

KH. Ahmad Dahlan (Commons.wikimedia.org)

Kampung Kauman berdiri pada 29 Mei 1773. Pada tanggal 18 November 1912, KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah di sana. Pendirian organisasi ini menjadi cara KH Ahmad Dahlan untuk memperbaharui hukum maupun praktik agama Islam di kehidupan sehari-hari. Cara tersebut kemudian turut mempengaruhi masyarakat Kampung Kauman yang tadinya menjalani agama Islam tradisional.

Beberapa bangunan di Kampung Kauman dahulu menjadi tempat beraktivitas KH Ahmad Dahlan. Langgar Kidul KH Ahmad Dahlan, misalnya, bisa dinikmati pengunjung jika menyusuri Kampung Kauman. Surau ini dulu kerap digunakan beribadah keluarga KH Ahmad Dahlan dan terletak dekat dengan rumah pendiri Muhammadiyah ini.

Selain itu, ada pula Musala Aisyiyah yang didirikan juga oleh KH Ahmad Dahlan. Surau tersebut khusus perempuan dan menempati bangunan rumah yang sebelum tahun 1922 digunakan sebagai pusat kegiatan siswa praja perempuan. 

4. Pernah jaya karena industri batik

ilustrasi membatik (pexels.com/Daniel Lee)

Tahun 1930-an, masyarakat Kampung Kauman di Yogyakarta sempat menjadi pengrajin dan pedagang batik. Pada mulanya, kerajinan batik berkembang berkat aktivitas istri abdi dalem tapi lama-kelamaan usaha ini menjadi industri yang tumbuh. Produksi batik Kampung Kauman tak hanya dijual di Yogyakarta tapi seluruh Jawa dan kota di luar pulau seperti Pontianak, Banjarmasin, dan Medan.

Nur Aini Setiawati dalam tulisannya Manajemen Sejarah Berbasis Komunitas: Pengembangan Kawasan Kauman sebagai Living Museum (2018) menerangkan batik Kauman saat itu mengalami masa kejayaan, bahkan pedagang batik memiliki komunitas bernama Batik Handel. Namun, kesuksesan tersebut terhenti saat produk asal Cina masuk ke Indonesia kala Orde Baru. Batik Kampung Kauman pun meredup tahun 1980-an dan punah sebab tak ada regenerasi pembatik.

5. Kampung Kauman masa kini

potret Pasar Sore Ramadan Kampung Kauman Yogyakarta (IDN Times/Dyar Ayu)

Di bulan Ramadhan, salah satu gang di Kampung Kauman yang terletak di Jalan KH Ahmad Dahlan dipadati pengunjung yang ingin mencicipi makanan untuk berbuka puasa di Pasar Sore Ramadhan Kauman. Meski telah ada sejak tahun 1990-an, aktivitas berdagang makanan dan minuman di gang ini sudah dimulai dari tahun 1980-an sehingga pasar ini menjadi pasar Ramadhan tertua di Yogyakarta.

Selain itu, Kampung Kauman kini juga menjadi destinasi wisata bagi pelancong yang ingin belajar sejarah Islam. Mereka datang ke Kampung Kauman untuk melihat kawedanan pengulon, Langgar Kidul KH Ahmad Dahlan, dan lain sebagainya. Bagi wisatawan yang menyukai arsitektur lama, bangunan Kampung Kauman juga menyuguhkan rumah bergaya Indis dan lain sebagainya yang enak dipandang mata.   

Kampung Kauman bukan hanya kawasan permukiman di pusat Kota Yogyakarta, tetapi juga ruang yang menyimpan jejak penting sejarah Islam di Indonesia. Dari tempat tinggal para abdi dalem urusan agama hingga lokasi lahirnya Muhammadiyah, kawasan ini memiliki peran besar dalam perjalanan sejarah keagamaan di Tanah Air.

Kini, selain dikenal sebagai lokasi Pasar Sore Ramadan, Kampung Kauman juga menjadi destinasi wisata sejarah yang menarik bagi siapa pun yang ingin menelusuri jejak perkembangan Islam di Yogyakarta.

Editorial Team