Merapi Turgo—Plawangan (commons.wikimedia.org/Bakti Wawan Kartyawan)
Setelah Panembahan Senopati kembali ke istana, Ki Juru Mertani menjelaskan bahwa telur pemberian Ratu Kidul tersebut harus ditelan oleh seorang juru taman istana yang bernama Reksapraja. Setelah Panembahan Senopati menyampaikan maksudnya kepada sang juru taman, Reksapraja pun mengikuti perintah raja dengan taat.
Begitu Reksapraja menelan telur tersebut, tubuhnya berubah menjadi raksasa yang sangat besar. Panembahan Senopati merasa kasihan namun bertanggung jawab atas nasib Reksapraja, sehingga ia menugaskan raksasa tersebut untuk menjaga Gunung Merapi.
Raksasa Reksapraja kemudian diperintahkan untuk tinggal di Plawangan, sebuah gunung kecil di sebelah selatan Gunung Merapi, dengan tugas utama melindungi rakyat Mataram dari amukan lahar panas. Sejak saat itu, konon setiap kali Gunung Merapi meletus, laharnya tidak pernah mengalir ke selatan (arah Mataram), melainkan dialihkan ke sungai-sungai yang melewati wilayah Magelang atau Klaten.
Sebagai tanda terima kasih atas jasa raksasa Reksapraja, Keraton Mataram secara rutin mengadakan upacara sesaji di Gunung Merapi setiap satu tahun sekali. Tradisi ini masih hidup hingga kini lewat Upacara Labuhan Merapi yang diadakan setiap 30 Rajab dalam kalender Jawa untuk memohon keselamatan dan berkah Tuhan bagi DIY.