Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Fakta Masjid Syuhada Jogja, Dibangun Kenang 21 Syuhada
potret masjid syuhada (pariwisata.jogjakota.go.id)
  • Masjid Syuhada di Kotabaru, Yogyakarta dibangun untuk mengenang 21 pejuang yang gugur melawan Jepang dan menjadi simbol perjuangan pada masa awal kemerdekaan Indonesia.
  • Bangunan masjid menampilkan arsitektur bergaya Persia dan India dengan kubah bawang besar di tengah serta empat kubah kecil di setiap sudutnya.
  • Pembangunan dimulai oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada 1950 dan selesai tahun 1952, menjadikan Masjid Syuhada ikon bersejarah sekaligus tempat ibadah penting di Yogyakarta.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Yogyakarta, IDN Times - Yogyakarta tak hanya dikenal dengan deretan candi bersejarah, tetapi juga memiliki sejumlah masjid yang menyimpan cerita penting perjalanan bangsa. Salah satunya adalah Masjid Syuhada, yang berdiri di kawasan Kotabaru, Kota Yogyakarta.

Masjid ini dibangun pada awal masa kemerdekaan sebagai bentuk penghormatan kepada para pejuang yang gugur dalam mempertahankan Indonesia. Keberadaannya bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga monumen untuk mengenang para syuhada yang gugur dalam perjuangan melawan penjajahan.

1. Kenang 21 syuhada yang gugur melawan Jepang

Kolase pembangunan Masjid Syuhada Yogyakarta. dok. Simas Kemenag

Masjid Syuhada menjadi salah satu masjid di Yogyakarta yang memiliki unsur sejarah perjuangan Indonesia.

Merujuk pada buku yang diterbitkan oleh Lembaga Kebudayaan Embun Kalimasada berjudul Dari Demak Sampai Istiqlal yang terbit pada tahun 2018, masjid ini dibangun secara khusus sebagai monumen sejarah bagi 21 syuhada yang gugur dalam perlawanan melawan Jepang.

Selain itu, pembangunan masjid ini ikut mewarnai perpindahan ibu kota Indonesia dari Jakarta ke Yogyakarta, yang disebabkan oleh Agresi Militer Belanda I pada kala itu.

2. Arsitektur dipengaruhi oleh gaya Persia dan India

Bagian dalam kubah Masjid Syuhada Yogyakarta. dok. Simas Kemenag

Ketika menilik bangunan masjid, arsitektur Masjid Syuhada dipengaruhi oleh gaya arsitektur Persia dan India. Terdapat kubah bawang di tengah bangunan yang menjadi kubah utamanya. Selain itu, juga ada 4 kubah kecil yang mengelilingi di empat sudutnya.

3. Penetapan garis masjid dilakukan pada 17 Agustus

Interior Masjid Syuhada Yogyakarta. dok. Simas Kemenag

Merujuk pada Sistem Informasi Masjid milik Kementerian Agama, penetapan garis kiblat Masjid Syuhada dilakukan pada 17 Agustus 1950. Sedangkan pada 23 September 1950 atau 11 Dzulhijjah 1369, bertepatan dengan Hari Raya Kurban kedua, Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang ketika itu selaku Menteri Pertahanan Republik Indonesia, meletakkan batu pertama pembangunan masjid.

Kemudian, dua tahun setelahnya, tepatnya pada 20 September 1952 pembangunan masjid ini selesai dilakukan dan secara resmi dibuka bertepatan dengan Tahun Baru Hijriyah, 1 Muharram 1372. 

4. Dikenal dengan sebutan Masjid Nasional

Masjid Syuhada Yogyakarta. dok. Simas Kemenag

Masjid Syuhada juga dikenal dengan sebutan masjid nasionalis. Bukan tanpa sebab, hal ini lantaran masjid ini memiliki 17 anak tangga di bagian depan, delapan segi tiang gapuranya dan empat kupel bawah serta lima kupel atas.

Secara keseluruhan, masjid ini memiliki tiga lantai. Untuk lantai satu digunakan sebagai ruangan kuliah yang dilengkapi dengan 20 jendela yang menjadi peringatan atas 20 sifat Allah SWT.

Lantai dua, digunakan sebagai ruang salat perempuan yang memiliki dua tiang yang menggambarkan dua buah iktikad manusia. Selanjutnya, lantai tiga merupakan ruang salat utama, termasuk salat Jumat yang di mihrabnya terdapat lima lubang angin yang memberi gambaran sekaligus mengingatkan kepada masyarakat muslim rukun Islam. 

Selain menjadi tempat ibadah, Masjid Syuhada juga menyimpan nilai sejarah yang kuat bagi perjalanan bangsa Indonesia. Bangunan ini menjadi pengingat atas pengorbanan para pejuang yang gugur demi kemerdekaan.

Hingga kini, Masjid Syuhada tetap menjadi salah satu ikon bersejarah di Yogyakarta yang tak hanya ramai dikunjungi jamaah, tetapi juga menarik perhatian masyarakat yang ingin menelusuri jejak perjuangan di kota ini.

Editorial Team