Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Yusuf Firdaus Jadi Wisudawan S2 UIN Sunan Kalijaga Terbaik-Tercepat di Usia 43

Yusuf Firdaus Hasibuan
Yusuf Firdaus Hasibuan (Dok. UIN Sunan Kalijaga)
Intinya sih...
  • Yusuf Firdaus Hasibuan, wisudawan tercepat dan terbaik di UIN Sunan Kalijaga
  • Lingkungan akademik membuka perspektif baru dalam studi Al-Qur'an dan Tafsir
  • Yusuf membagi waktu sebagai pendidik, mahasiswa, dan kepala keluarga serta bersiap untuk studi doktoral
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Yogyakarta, IDN Times - Usia tak menjadi penghalang seseorang untuk terus belajar. Itulah yang dibuktikan oleh Yusuf Firdaus Hasibuan. Wisudawan Magister Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga ini tercatat sebagai salah satu wisudawan tercepat dan terbaik dengan IPK 4,00. Studi magisternya ia tuntaskan dalam waktu 1 tahun 10 bulan 10 hari, di mana capaian tersebut diraih pada usia 43.

Ia mengaku perbedaan usia tak menjadi persoalan selama proses belajar. “Sebagian besar teman kelas saya seusia anak atau keponakan saya, bahkan beberapa dosen juga lebih muda. Itu bukan masalah bagi saya,” ujarnya pada Jumat (13/2/2026).

1. Lingkungan akademik yang membuka perspektif baru

Potret UIN Sunan Kalijaga (uin-suka.ac.id)
Potret UIN Sunan Kalijaga (uin-suka.ac.id)

Sebagai guru Al-Qur’an Hadis di Madrasah Ibtidaiyah di Kepulauan Riau, Yusuf kerap gelisah melihat pembelajaran Al-Qur’an yang berhenti pada jawaban normatif. Ia menilai peserta didik sering menerima penjelasan tanpa diajak memahami konteks maupun proses berpikir ilmiah. Pencariannya melalui berbagai sumber digital justru menyadarkannya bahwa pemahaman Al-Qur’an perlu bertumpu pada kajian para ahli, pendekatan riset, dan pembacaan kontekstual. Kegelisahan itu mendorongnya melanjutkan studi ke Program Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir di UIN Sunan Kalijaga.

Di lingkungan akademik, Yusuf menemukan perspektif baru melalui paradigma integratif–interkonektif yang memandang Al-Qur’an sebagai teks yang berdialog dengan realitas zaman. Pengalaman tersebut, menurutnya, membuka cara pandang yang lebih luas, melampaui pemahaman tekstual semata. Meski berlatar Pendidikan Agama Islam, ia harus beradaptasi dengan bidang kajian yang lebih spesifik, mulai dari semiotika, hermeneutika, hingga tafsir kontemporer.

Alih-alih mundur, Yusuf memilih bertahan dan menata proses belajarnya secara mandiri. Ia mengatur ritme studi, mencatat poin penting perkuliahan, berdiskusi, hingga berkonsultasi langsung dengan dosen untuk memastikan arah akademiknya tepat. Ia juga terbuka belajar dari rekan-rekan yang lebih muda, meyakini bahwa ilmu tidak dibatasi usia dan kerendahan hati menjadi kunci untuk terus bertumbuh.

2. Membagi waktu sebagai pendidik, mahasiswa, dan kepala keluarga

Yusuf Firdaus Hasibuan
Yusuf Firdaus Hasibuan (Dok. UIN Sunan Kalijaga)

Di balik capaian akademiknya, Yusuf menjalani keseharian dengan beragam peran sebagai pendidik, kepala keluarga, sekaligus mahasiswa. Ia harus membagi waktu dan menyusun prioritas dengan cermat. Menurutnya, keberhasilan studi tidak lepas dari dukungan keluarga yang menjadi penopang utama, terutama istri dan anak-anak yang membantunya menjaga ritme belajar di tengah tanggung jawab yang berlapis.

Menariknya, IPK 4,00 bukan target awal yang ia bidik. Yusuf memilih fokus pada proses memahami pembelajaran, bukan sekadar mengejar nilai. Ia meyakini setiap individu memiliki kecerdasan yang berbeda. Saat kemampuan kognitif terasa terbatas, kecerdasan emosional, kedisiplinan, serta kemampuan membangun relasi justru bisa menjadi kekuatan penting. Baginya, karakter seperti ketekunan, tanggung jawab, dan integritas terbentuk melalui proses panjang.

Pengalaman belajar di IAT juga membawanya pada refleksi tentang pendidikan madrasah. Ia berharap ilmu yang diperoleh dapat dibagikan untuk meningkatkan profesionalitas guru Pendidikan Agama Islam, khususnya di era kecerdasan buatan yang menuntut pembelajaran berbasis riset dan literasi. Yusuf membayangkan pendidikan Al-Qur’an yang lebih dialogis, tidak hanya menyampaikan teks, tetapi juga menghadirkan relevansinya dengan perkembangan zaman.

3. Persiapkan bekal untuk studi doktoral

Ilustrasi belajar bahasa asing (pixabay.com/lil_foot)
Ilustrasi belajar bahasa asing (pixabay.com/lil_foot)

Bagi Yusuf, wisuda bukanlah garis akhir perjalanan akademik. Ia memandangnya sebagai satu titik persinggahan sebelum melangkah lebih jauh. Saat ini, Yusuf mulai mempersiapkan diri untuk tahap berikutnya, termasuk memperkuat kemampuan bahasa sebagai bekal menuju studi doktoral di luar negeri. Ia ingin terus belajar sekaligus menjadi teladan bagi keluarga dan murid-muridnya bahwa semangat berkembang tidak dibatasi usia.

Kisah Yusuf menunjukkan bahwa capaian tidak selalu lahir dari jalan yang mudah. Keberhasilan, menurutnya, tumbuh dari keberanian untuk bertanya, kesediaan belajar kembali, serta kerendahan hati untuk menyadari bahwa ilmu selalu lebih luas dari diri sendiri. Ia meyakini, karakter dan semangat bertumbuh jauh lebih menentukan daripada sekadar capaian akademik.

“Angka itu ada batasnya, tapi spirit untuk bertumbuh tidak pernah berbatas. Saya percaya semangat belajar bisa membawa seseorang melampaui apa pun. Karena itu saya mulai menyiapkan diri, termasuk kemampuan bahasa, agar kelak bisa melanjutkan studi ke luar negeri,” ujarnya. Ia berharap, kelak ilmu yang diperoleh dapat kembali dibawa pulang untuk memberi solusi bagi madrasah dan dunia pendidikan, bukan sekadar menambah gelar.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Paulus Risang
EditorPaulus Risang
Follow Us

Latest News Jogja

See More

Ketua BEM UGM Dapat Teror Usai Kritik Presiden Lewat Surat ke UNICEF

13 Feb 2026, 22:41 WIBNews