Rapid test warga Sleman. IDN Times/Istimewa
Selanjutnya, pasien nomor 92 hingga 95 yang seluruhnya merupakan warga Sleman. Dengan rincian, secara berurutan seorang laki-laki, usia 39 tahun; kasus 93, laki-laki 47 tahun; kasus 94, laki-laki 56 tahun; dan kasus 95, laki-laki 67 tahun.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Joko Hastaryo mengatakan, empat pasien ini masih satu cakupan hasil tracing. Tepatnya, dari kasus Warga Negara India yang diketahui sempat sebulan mendiami Masjid Ja'mi Al-Ittihad di Dusun Kocoran, Caturtunggal, Depok, Sleman.
Seperti pemberitaan sebelumnya, dari 15 WN India tersebut, empat di antaranya telah diumumkan positif terpapar virus corona.
"Dugaannya (empat pasien warga Sleman) terkait dengan WN India yang sudah lebih dulu diketahui positif. Karena merupakan pengurus masjid yang selama ini ditempati WNA tersebut," kata Joko ketika dikontak.
Sebenarnya, sebelumnya ada 10 orang dari hasil kontak tracing Warga Negara India ini yang dinyatakan reaktif berdasarkan hasil rapid diagnostic test (RDT). Terdiri dari 6 takmir Masjid Al-Ittihad dan 4 adalah warga Cangkringan, di mana salah seorangnya berprofesi sebagai penerjemah.
Hanya saja, empat orang ini dinyatakan negatif via uji swab. "Lalu dua warga Kocoran lainnya, yang takmir masjid juga negatif," pungkas Joko.