IDN Times/Tunggul Damarjati
Masih soal karakteristik mutasi ini, menurut Gunadi, ada hipotesis bahwa D614G lebih bisa beradaptasi dibandingkan pendahulunya.
Virus ini jadi lebih cocok dengan lingkungan inangnya sejak pertama kali terdeteksi di Wuhan, Tiongkok. Beradu kuat dengan sistem imun yang mencoba membangun pertahanan.
Dipaparkan Gunadi, sejak awal outbreak corona 2019 lalu variannya masih D614. Akan tetapi sejak Februari 2020 peneliti di Eropa menemukan kandungan asam amino posisi 614 berubah dari asam aspartat (D) menjadi glisin (G), sehingga menjadi D614G atau G614.
Ditambah data dari GISAID per September 2020, dari 92 ribuan yang ada, menunjukkan 77,5 persen di antaranya mengandung mutasi D614G.
"Virus itu kan istilahnya the fittest one, mungkin dia paling survive pada inangnya. Mungkin, ini sekali lagi hipotesis, itu yang bertahan pada human host-nya itu yang paling banyak D614G, dibandingkan D. Kalau nggak, kenapa D itu lama-kelamaan hilang. Dia kan adaptasi, dia lebih fit," urainya.
Gunadi melanjutkan, dari 92 ribuan WGS SARS-CoV-2 itu, 24 di antaranya berasal dari Indonesia. Sembilan di antaranya teridentifikasi mengandung G614.
"Sembilan ini dari DKI Jakarta, Surabaya, Tangerang, Yogyakarta, dan Jawa Tengah," rincinya.