Warga membentangkan poster penyemangat untuk tenaga kesehatan. (IDN Times/Tunggul Damarjati)
Balai Pusdiklat PPSDM Kemendagri Regional Yogyakarta ini sedianya dijadikan tempat singgah sementara para tenaga kesehatan penanganan COVID-19 yang kesulitan atau ada kendala untuk tinggal bahkan di rumah sendiri. Kekhawatiran warga misalnya, yang kadang sampai berujung penolakan salah satunya.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan DIY, Endang Pamungkasiwi mengatakan, para petugas medis yang menghuni balai diklat ini tak semuanya ditolak warga. Ada yang memilih mengungsi lantaran mempertimbangkan keamanan anggota keluarga di rumah seperti Rika tadi.
"Alasannya tidak semua penolakan dari masyarakat," kata di kompleks Balai Pusdiklat.
"Mereka juga punya keluarga untuk dilindungi, punya bayi, orangtua yang sudah usia lanjut. Barangkali mereka punya penyakit penyerta (komorbid) yang tidak boleh terlalu dekat dengan teman-teman (tenaga medis)," bebernya.
Endang mengatakan, sejauh ini memang baru 9 orang dari RSUD Kota Yogyakarta yang menghuni Balai Pusdiklat ini. Menyusul nantinya 23 orang dari RS Pratama Yogyakarta dan empat lagi dari RSPAU dr S Hardjolukito.
"Mereka tenaga medis dan paramedis yang bertugas di IGD dan ruang isolasi. Sementara ini memang bertahap yang masuk. Mana RS yang mengusulkan dulu, kami periksa kesehatannya. Termasuk dilakukan rapid test," ujar Endang
Mereka sementara akan menetap hingga wabah COVID-19 benar-benar terselesaikan. Ada banyak ruang tersedia, yakni sejumlah 141 kamar total. Dirinya pun memastikan segala kebutuhan akan ditanggung Pemda DIY.
"Harapannya, semua dalam kondisi sehat untuk masuk wisma ini. Kalau pun nanti ketemu di hasil rapid test itu tidak sehat, nanti dilakukan tata laksana sebagaimana mestinya hasil rapid testnya tidak sehat," pungkasnya.